
Kalisa diam, dia tak mampu melawan mertuanya, jika dia bicara jujur pun pasti dianggap berbohong oleh Bu Riani, namun mertuanya itu malah semakin menjadi-jadi.
"Mah, aku tidak seperti itu," ucap Kalisa yang setidaknya bisa menyangkalnya.
Riki yang menyebabkan pertengkaran ini, dia tampak bingung, dia tidak melakukan apapun, hanya melihat dan mendengarkan mereka, mencari tahu kebenaran dari semuanya.
"Berisik kamu, jangan mengelak dan jangan coba-coba menyalahkan anakku, kamu sudah membuatnya celaka dan sekarang kamu mau mencoba menuduhnya? Keterlaluan," ucap Riani lagi.
"Ta-tapi…," ucap Kalisa yang tak mampu diteruskan, percuma saja aku menjelaskan ini disaat mamah lagi emosi, pikirnya.
"Mah, ayo kita pulang saja, bukannya Mamah mau ke rumah Laila? Ayo Mah..!" Ajak Gerhana yang tak enak melihat pandangan para pembeli dan berbuat keributan.
Gerhana memaksa istrinya itu pergi dari sana, "Maaf ya Kalisa," ucap Gerhana yang berlalu pergi.
Kalisa mengangguk kecil, dia berniat masuk ke dalam namun tangannya dicekal oleh Riki, "Kalisa, maafkan aku," ucapnya dengan penuh penyesalan.
Namun Kalisa melepaskan tangan laki-laki itu dan berlalu pergi, dia mengabaikan permintaan maaf Riki, dia merasa harus menenangkan hatinya dulu.
Fino menarik baju Kalisa, membuatnya sadar kalau sedari tadi dia mengabaikan Fino, dia langsung menggendong Fino dan masuk ke dalam.
Kalisa menurunkan Fino di ruangannya, dia memberikan beberapa mainan kepada anak itu agar bermain, sementara Kalisa duduk di kursi dengan lamunannya, dia sempat meloloskan air matanya lagi karena merasa tak tahan dengan cobaan dalam hidupnya ini.
"Bunna jangan menangis, jangan sedih, ada Fino disini..!" Ucap Fino menghampiri Kalisa, membuat wanita itu menatap Fino dan tersenyum agar bisa membuat Fino tidak mengkhawatirkan dirinya.
"Bunna gapapa kok Fino, Bunna cuma kelilipan, hehe …," jawab Kalisa berbohong.
__ADS_1
Kamu pura-pura kuat padahal kamu sedang merasa sakit, aku tahu aku telah membuatmu terluka sangat dalam makanya kamu sampai kabur dari rumah, dan aku tahu kalau aku sangat keterlaluan, kamu tidak usah pura-pura baik-baik saja, kamu bisa menceritakan kesalahan-kesalahan ku pada mamah, aku tidak akan marah, justru itu akan membuatku lega, batin Rio (Fino).
Setelah lebih tenang, Kalisa kembali menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat pulang karena memang sudah waktunya Rumah Makan itu tutup, Riki juga sudah tidak ada disana, lelaki itu pasti memiliki pekerjaan yang penting.
***
Keesokan harinya di kediaman Gerhana, Riani masih dalam keadaan kesal memikirkan kejadian semalam, siang ini dia berniat ke Rumah Sakit untuk menunggu Rio lagi bergantian dengan orang yang menjaganya malam ini.
"Maaf Bu, di depan ada tamu," ucap Hani.
"Siapa Han?" Tanya Riani.
"Non Felisha Nyonya," jawab Hani.
Riani keluar dari kamarnya untuk menemui Felisha, dia juga rindu pada menantunya itu, dia ingin mengetahui perkembangan cucunya.
"Baik Mah," jawab Felisha.
"Wah perutmu mulai terlihat besar, pasti cucu Mamah tumbuh dengan baik," ucap Riani sambil tersenyum.
"Mah, papah ada?" Tanya Felisha.
"Ada, memangnya ada apa nanyain papah?" Tanya Riani.
"Begini Mah, aku kan sudah tidak bisa bekerja sebagai model atau pemain film karena keadaanku yang sedang mengandung, aku ingin pekerjaan Mah, aku ingin mengelola perusahaan Rio yang ke dua, yang ada di perbatasan kota," ucap Felisha.
__ADS_1
"Apa? Sebaiknya kamu tidak usah bekerja, Mamah dan papah pasti akan membiayai kalian sebagai rasa tanggung jawab mengingat Rio yang belum sadar, biarlah perusahaan itu dikelola oleh orang kepercayaan papah, kamu tidak usah khawatir..!" Ucap Bu Riani.
Bagaimana cara membujuk ibu tua ini? Pikir Felisha.
"Tapi Mah, bayiku ingin ibunya berpakaian kantoran dan bekerja setiap pagi, aku gak akan bekerja berat kok Mah," ucap Felisha membujuk lagi dengan membawa-bawa bayinya yang bahkan belum lahir dan tak tahu apa-apa.
Tak disangka ternyata Gerhana mendengar percakapan mereka, dia jelas tidak suka dengan keinginan Felisha yang mencurigakan itu.
"Hmmm…, masalah perusahaan Rio kamu gak usah khawatir Felisha, kamu fokus saja dengan kehamilanmu, kami akan membiayai semuanya, kamu seharusnya senang karena kamu tidak perlu bekerja," jawab Gerhana lalu duduk bergabung dengan mereka.
Deg
Felisha sedikit tegang, dia memang tidak disukai gerhana sejak dulu, dia hanya baru bisa menaklukan ibunya Rio.
"Iya Pah, tapi ini bawaan bayi," jawab Felisha.
Gerhana menatap ke arah menantunya itu dengan serius, "sekali tidak tetap tidak, bawaan bayi biasanya tidak seperti ini, biasanya makanan masam, atau ingin berdekatan dengan suaminya, seperti hal umumnya yang dialami ibu hamil, kenapa kamu berbeda? Jangan bilang kalau kamu… ehmm,"
"Aku gak bohong Pah," jawab Felisha dengan cepat.
"Hahaha, memang siapa yang menuduhmu berbohong, sungguh lucu," jawab Gerhana.
Felisha tidak bisa berkata apapun lagi, sungguh sulit memang menaklukan ayah mertuanya, Mungkin sebaiknya memang dia tidak ada didunia ini, menyebalkan, pikirnya.
"Pah, kasih kesempatan buat Felisha, dia mungkin ingin mempunyai pengalaman mengurus perusahaan, dia bisa belajar dari sekarang dan bisa bekerja sama dengan Rio nantinya," ucap Bu Riani.
__ADS_1
Felisha tersenyum senang mendengar itu.
Bersambung …