Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Rio Yang Cemburu


__ADS_3

Kalisa malah menarik lengan Fino membuat anak balita itu semakin mendekat, Rio nampak panik.


Kalisa perlahan membuka matanya.


Deg


Rio mulai merasa tidak karuan, dia ingin lari namun tidak bisa, "Fino…, apa kamu lapar sayang? Maafin Bunna ya, Bunna ketiduran," ucap Kalisa lalu bangkit dari tidurnya, dia kini duduk disofa itu, dia tidak menyadari jika selimut itu awalnya tidak ada.


Rio (Fino) kini bernapas lega, dia baru menyadari kalau dia kini hanyalah bocah berusia 3 tahun jadi untuk apa dia merasa tegang dan gengsi pada Kalisa, sungguh lucu bukan?.


Rio belum terbiasa dengan badan barunya meski dia sudah beberapa bulan menetap di badan itu, dia masih terkadang menganggap dirinya masih Rio yang lama.


"Hehe…, iya Bunna, Fino mau bangunin Bunna kalena Fino lapal," jawab Rio (Fino) yang sebenarnya itu hanya alasan saja.


Kalisa pun bangkit, dia mulai menghangatkan makanan yang dimasak tadi siang, setelah itu mereka pun makan bersama.


"Masakan Bunna selalu enak," puji Fino.


"Makasih sayang," jawab Kalisa sambil tersenyum, dia suka sekali melihat semua orang yang menyukai masakannya, seakan itu menjadi sebuah kebanggaan baginya dan membuatnya semangat untuk memasak, semangat untuk mencari resep-resep baru, karena hobi Kalisa memang memasak.


Malam pun tiba, saatnya mereka untuk benar-benar tidur, Fino masih menatap formulir tadi.


"Ada apa sayang?" Tanya Kalisa, dia tidak tahu kalau Fino bisa membaca dan mengerti tentang isi kertas itu.


"Bunna, kita pulang aja, biaya sekolahnya mahal," ucap Fino.


Deg


Kenapa dia bisa tahu? Dan apakah dia bisa membacanya? Pikir Kalisa.


"Hmm, memangnya kamu bisa membaca formulir itu?" Tanya Kalisa heran, dia bahkan kini menatap kedua bola mata Fino untuk mencari kejujuran dimatanya.


"Bisa Bunna, ini biayanya mahal, aku gak mau menyusahkan Bunna," jawab Fino.


Kenapa pemikirannya jadi sangat dewasa? Apa dia benar-benar bisa membaca? kenapa kau merasa dia bukan Fino? Batin Kalisa.


"Coba kamu baca..!" Pinta Kalisa pada Fino karena tidak yakin.

__ADS_1


Fino pun mulai membacanya, membuat Kalisa membelalakkan matanya tak percaya.


"Fino belajar membaca sejak kapan? Belajar dari siapa?" Tanya Kalisa.


"Aku belajal sendili kok Bunna, kita pulang aja ke panti Bunna, aku gapapa kok Bunna," ucap Fino.


"Gapapa sayang, pendaftarannya kan masih beberapa bulan lagi, Bunna bisa mengumpulkan uang lebih banyak mulai sekarang, yang penting kamu semangat belajar," ucap Kalisa sambil tersenyum, dia juga yakin jika Fino pintar seperti itu justru akan lebih mudah baginya, dia bisa berkesempatan mendapatkan beasiswa.


"Makasih Bunna," ucap Fino memeluk Kalisa.


***


Beberapa hari pun berlalu, Riki sudah kembali ke kota, dia menghubungi Kalisa dan menanyakan kabar serta pekerjaan Kalisa.


Ternyata Kalisa belum menemukan pekerjaan yang memperbolehkan membawa anak balita, itu memang lebih sulit dibandingkan mencari pekerjaan biasa, mengingat pendidikan terakhir Kalisa juga hanya sampai SMA membuatnya kebingungan, tapi dia tidak mau menyerah untuk Fino.


Siang itu Riki datang membawa persediaan makanan untuk Kalisa dan Fino selama beberapa hari, "Kalisa kamu tidak perlu khawatir masalah makanan, aku akan mengantarkannya, kamu bisa fokus untuk biaya Fino saja..!" Ucap Riki.


Entah mengapa lelaki itu punya keinginan kuat untuk selalu membantu Kalisa, dia juga membatasi diri pada Kalisa karena dia tahu statusnya yang masih bersuami, Riki merasa perasaannya mungkin hanya sebatas kasihan, terlebih pada Fino.


"Dok, saya jadi malu, sebaiknya dokter jangan terlalu baik pada saya, saya tidak enak merepotkan dokter terus," jawab Kalisa.


"Gapapa Kalisa, oh iya kamu hobi apa dan keahlianmu dalam bidang apa? Siapa tahu itu akan memudahkan kamu untuk mencari pekerjaan," tanya Riki, sebenarnya dia bisa saja membiayai Fino, namun dia tidak mau Kalisa menjauhinya karena dia terlalu banyak ikut campur dan membuat Kalisa tidak nyaman atau bahkan menganggapnya mempunyai niat lain yang tidak baik.


"Saya tidak punya keahlian khusus, saya hanya lulusan SMA Dok, dan hanya senang memasak saja," jawab Kalisa.


"Oke kalau begitu, biar saya yang nyari tempat dan kamu bisa berjualan makanan, kamu bisa membuka warung makan," ucap Dokter.


"Tapi…, modalnya pasti besar," keluh Kalisa.


"Biar saya yang mengusahakan tempatnya, biar kamu tidak merasa tak enak hati, bagaimana kalau keuntungannya kita bagi dua saja, kita kerjasama?" Tanya Riki.


"Saya gak yakin akan laku Dok, kalau malah rugi gimana?" Ucap Kalisa ragu.


"Namanya usaha pasti ada untung dan rugi, kita usaha dulu aja," jawab Riki.


Kalisa pun mengangguk setuju, bahkan hari itu mereka memasak bersama, Riki juga ingin tahu masakan yang akan mereka jual nantinya itu rasanya seenak apa.

__ADS_1


Fino yang kesal mendengar canda tawa mereka di dapur, dia berusaha mencari keributan.


Dia yang sedang menonton tv mendadak menangis, "hua …. Hua…., Bunna….," Fino berpura-pura menangis.


Kalisa yang panik, dia menghampiri Fino, memeriksa keadaan Fino , dia memegang kedua pipi Fino dengan tangan yang masih penuh dengan tepung, Kalisa tidak menyadari itu.


"Kamu kenapa sayang, apanya yang sakit?" Tanya Kalisa.


Hatiku yang sakit, batin Rio (Fino).


"Bunna, aku mau ice clim, aku gak mau nonton kucing sama tikus itu, aku maunya sepak bola, hiks…," jawab Fino dengan rengekan andalannya, Rio juga bingung kenapa dia bisa melakukan aksi itu.


Riki yang menyusul Kalisa, dia pun ikut menenangkan balita itu, "biar om yang bawain ice cream nya ya, kita nonton sepak bola bersama," ucap Riki.


Riki kemudian menoleh pada Kalisa, "gapapa kan kalau kamu masak sendirian?" Tanya Riki.


Kalisa pun mengangguk sambil tersenyum, saat Riki menyadari pipi Fino yang putih karena tepung, dia menahan tawanya, dia gemas sekali, hingga dia tidak bisa mengendalikan diri.


"Hahaha, wajahmu lucu Fino, serba putih karena tepung," ucap Riki lalu mencubit pipi Fino.


Fino yang tidak suka, dia memalingkan wajahnya, Kalisa yang sadar, dia pun meminta maaf pada Fino sambil menahan tawa.


Akhirnya Fino dan Riki menonton acara bola bersama dengan ice cream di tangan mereka.


Kenapa jadi begini? Kenapa dia semakin betah, harusnya dia pergi membiarkan aku dan Kalisa berdua saja, dasar pebinor, pikir Rio (Fino).


"Mungkin begini ya rasanya memiliki keluarga kecil yang bahagia, Apa aku boleh berharap pada Kalisa?" Gumam Riki pelan yang bisa didengar Fino.


Wajah Fino (Rio) berubah, dia jelas marah, dia tidak suka dengan apa yang diucapkan lelaki yang ada disebelahnya itu, namun Rio tidak bisa bersikap sebagai suami Kalisa saat ini.


Awas aja kalau kamu berani mendekati istriku! Batin Fino (Rio).


Rio mempunyai ide jahil, dia menumpahkan ice creamnya tepat pada bagian yang dia inginkan.


"Aw, aw, aw… astaga ini dingin sekali," teriak Riki yang kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Maaf om…," ucap Fino dengan menunduk, menyembunyikan senyuman liciknya, rasain… emang enak, kedinginan kan burungnya hahaha...., batin Rio.

__ADS_1


Riki pun terbirit-birit berlari menuju kamar mandi.


Bersambung …..


__ADS_2