Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Calon suami?


__ADS_3

Tak berselang lama Riki datang dengan wajah paniknya, Riki yang parno itu segera membawa Kalisa ke Rumah Sakit yang lumayan besar agar fasilitas yang tersedia lengkap padahal keadaan Kalisa tidak separah yang dibayangkan.


Fino yang ikut serta, dia hanya tersenyum miris, dia miris melihat dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat banyak untuk Kalisa, malah orang lain lah yang mengurus istrinya itu.


 "Fino…," tanya Gerhana pada Fino yang keluar dari kamar inap, dia ingin duduk saja di luar ruangan karena tidak sanggup melihat Riki yang begitu perhatian pada Kalisa.


"Kakek," jawab Fino tersenyum senang, dia berhambur memeluk Gerhana, Rio memang sedang merindukan sosok ayahnya.


"Kamu lagi ngapain disini?" Tanya Gerhana.


"Bunna sakit kek," jawab Fino.


"Ya ampun, Kalisa sakit apa?" Tanya Gerhana lagi.


Sebelum Fino menjawab ternyata sudah ada Riki dihadapan mereka, Riki mau menawari Fino makan karena takutnya anak balita itu merasa lapar.


"Oh iya Dokter Riki, Kalisa sakit apa?" Tanya Gerhana.


"Demam, dia sepertinya kelelahan dan kurang istirahat Pak," jawab Riki.


"Hmm, dia terlalu bekerja keras, seharusnya Rio yang membiayai hidupnya sehingga dia tidak perlu bersusah payah, sebenarnya saya juga sempat memberikan uang untuk Kalisa sebagai pengganti Rio tapi dia menolak," ucap Gerhana.


"Biarlah Kalisa menjadi tanggung jawab saya Pak mulai sekarang, lagipula Kalisa ingin mengajukan perceraian, sepertinya Kalisa membutuhkan sosok lelaki yang benar-benar menyayanginya," ucap Riki.

__ADS_1


Jelas Fino (Rio) merasa kaget, dia tidak pernah tahu kalau Kalisa mengajukan cerai, Omong kosong, kapan Kalisa mengatakan itu? Ternyata dia tidak sebaik yang terlihat, batin Rio.


"Benarkah? Kalisa belum membicarakan ini dengan saya sebelumnya, tapi kalau memang dia telah menemukan kebahagiaan dengan lelaki lain saya justru merasa senang," jawab Gerhana, lelaki itu setuju-setuju saja karena menurutnya dokter Riki lelaki yang baik dan cocok untuk Kalisa.


"Iya, Kalisa juga pantas bahagia," jawab Riki dengan tersenyum penuh arti.


"Kek, Fino ingin lihat om Lio," ucap Fino pada Gerhana, lelaki itu pun menggendong Fino ke ruangan Rio yang masih terbaring koma, meninggalkan Riki disana.


***


"Loh Pah, ko ada Fino juga?" Tanya Riani.


"Dia ingin menjenguk anak kita, kebetulan Kalisa juga dirawat di Rumah Sakit ini," jawab Gerhana, dia menurunkan Fino untuk berbicara dengan Rio yang koma.


"Om cepet sembuh ya..! Bunna juga sakit, Fino halap kalian bisa sembuh dan belsatu lagi..!" Ucap Fino sambil memegang punggung tangan Rio.


Setelah Fino merasa puas dia berniat kembali ke kamar Kalisa sendirian namun Riani mengantar anak balita itu sampai ke ruangan menantunya, dia ingin tahu sakit apa yang diderita Kalisa.


"Yang mana kamarnya Fino?" Tanya Riani.


"Yang itu Nek," jawab Fino, aku berharap mamah tidak melakukan hal aneh yang dapat menyakiti Kalisa lagi, batin Rio.


Namun belum sempat masuk, Riki sudah keluar dan menutup pintu.

__ADS_1


"Eh ada dokter juga, saya merasa lebih sering melihat anda ya? Dimana ada Kalisa disitu selalu ada dokter, hmm…," ucap Riani dengan nada curiga dan mengejek.


"Hmm, memangnya kenapa Bu? Saya calon pengganti anak ibu yang tidak bisa menjaga Kalisa, yang jelas saya tidak seperti anak ibu yang selalu menyakiti Kalisa, dan bahkan seperti melempar kesalahan pada Kalisa," jawab Riki dengan kesal.


"Hahaha, bisa-bisanya seorang dokter mengatakan hal jelek tentang orang lain, terlebih itu anak saya, saya ibunya, saya yakin dia tidak seperti itu, justru Kalisa lah yang menyakiti Rio lebih dulu, dia bukan istri yang baik, kalau baik dia tidak mungkin kabur," ucap Riani tak mau kalah.


"Hmm, kabur juga ada alasannya , mana mungkin kabur begitu saja," jawab Riki.


"Iya, dia kabur demi laki-laki lain, miris sekali," jawab Bu Riani lagi.


Astaga, mereka malah bertengkar didepan pintu kamar Kalisa, kalau dia dengar kan kasihan, mengganggu istirahat orang sakit aja, batin Rio.


Aku tahu aku yang salah, tapi aku tidak bisa menjelaskan apapun pada mamah dalam keadaan terjebak di tubuh anak kecil ini, batin Rio lagi.


"Sudah Bu, tidak usah menjelekkan Kalisa lagi, dia calon istri saya, dan dia akan segera menceraikan suaminya yang kejam itu!" Ucap Riki berlalu pergi dia tidak mau semakin emosi menghadapi ibu Rio.


Riani yang kesal pun dia pergi menuju ruangan Rio lagi meninggalkan Fino yang mematung disana.


Fino (Rio) memilih duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan Kalisa karena dia tidak bisa membuka handle pintu kamar Kalisa yang tinggi.


Hari ini Rio sudah mendengar dua kali Riki mengatakan kalau dia seolah calon suami Kalisa yang menggantikan Rio, itu sungguh membuat Rio membenci Riki.


Apa Kalisa juga nyaman bersama Riki? Aku harap tidak, Kalisa… tolong berilah aku kesempatan sekali lagi, aku mohon, batin Fino.

__ADS_1


Rio (Fino) menatap pintu kamar Kalisa dengan tatapan penuh penyesalan.


Bersambung ….


__ADS_2