
Rio tetap dengan pendiriannya, dia tidak akan menerima maaf dari Felisha. Dia juga tidak mau anak haram itu ada dirumahnya. Meski sedih melihat sang ibu ikut menangis karena takut kehilangan bayi itu, Rio tidak mau merubah keputusannya.
"Aku tidak mau menerima anak haram itu, bawalah anak itu pergi. Aku juga tidak berkewajiban memberikan nafkah. Mintalah pada ayah anak itu! Aku akan segera menceraikan mu. Pergilah dari sini!" Ucap Rio.
"Rio, aku baru saja melahirkan. Tolong kasihanilah aku, aku mau pergi kemana? Aku tidak punya tujuan, hiks…," jawab Felisha dengan berderai air mata.
Riani yang kasihan melihat wanita yang baru melahirkan itu akan luntang lantung dijalanan, dia ikut membujuk sang anak untuk memberikan kesempatan, setidaknya untuk tetap tinggal.
"Rio…, Felisha benar, dia baru saja melahirkan, fisiknya masih lemah. Biarkanlah dia tinggal disini sampai kalian resmi bercerai..!"
"Tapi Mah, aku sudah muak. Sudah tidak mau melihat wajahnya, dia itu penghianat," jawab Rio.
"Yaudah, kamu tinggal dirumah Mamah dulu. Biarkan Felisha tinggal disini sampai semuanya benar-benar selesai..!" Ucap Riani. Wanita itu masih mempunyai rasa iba sebagai sesama perempuan.
"Baiklah, aku akan pindah ke rumah Mamah. Aku akan memberi Felisha waktu 1 bulan tinggal disini, setelah itu dia harus pergi. Rumah ini akan aku jual Mah," jawab Rio berlalu pergi.
Felisha masih duduk di lantai, dia menangis dan terus menangis. Dia tidak menyangka kalau kehidupannya akan sekacau ini.
Riani memberikan bayi itu pada salah satu asisten rumah tangga. Sementara dia mencoba menenangkan Felisha, ibu baru melahirkan memang rentan stress, bisa terkena baby blues. Dia mengangkat tubuh Felisha yang ambruk di lantai.
__ADS_1
"Bangunlah..! Sebaiknya kamu istirahat di kamar," ucap Riani. Dia memapah menantunya itu menuju kamar, meski dia membenci Felisha, tapi untuk saat ini keadaan wanita itu memang membuat Riani kasihan, dia tidak tega.
Saat Riani keluar dari kamar Felisha, dia melihat Rio dengan dua koper besar. Rio benar-benar serius dengan apa yang dia katakan barusan. Riani juga tidak bisa melarang sang anak karena kesalahan Felisha memang fatal.
"Mah, aku pergi ya, dan aku harap Mamah juga cepat pulang dan membiarkan wanita itu sendirian. Mamah tidak perlu mempedulikannya lagi, bukankah dia sudah jahat sama kita Mah?" Ucap Rio.
"Mamah tahu, tapi manusia kan tempatnya salah. Masih ada kesempatan untuk berubah," jawab Riani.
Rio tidak mau menerima pemikiran ibunya itu, dia memilih pergi dari rumah itu. Rumah yang menyimpan kenangan buruk. Kenangan dimana dia selalu menyiksa batin Kalisa, dimana dia juga tidak mau mengenang kisahnya bersama Felisha.
***
Rio yang tidak bisa berpikir jernih, dia ingin menemukan seseorang untuk bisa diajak berbagi cerita, tapi siapa? Dia tidak punya sahabat saat ini, dia selalu fokus bekerja selama ini. Terakhir kali dia berbincang dengan teman dekat itu saat dia masih kuliah. Itu sudah lama sekali dan entah kemana sahabat-sahabatnya sekarang.
"Rio, kamu ngapain bawa koper besar kesini? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Gerhana.
Rio duduk, dia mulai bercerita dari awal sampai akhir. Dia merasa paling kecewa dan tersakiti kali ini. Namun Gerhana hanya tersenyum.
"Pah, apa ini lelucon? Bukannya sedih, Papah malah tersenyum seperti senang anaknya menderita," protes Rio.
__ADS_1
"Bukan begitu Rio, bukankah Felisha juga berkesempatan berubah, seperti kamu yang sekarang? Dulu kan kamu juga menyakiti Kalisa dan sekarang kamu sadar dan berbuat baik pada Kalisa," jawab Gerhana.
Rio diam, papanya memang benar. Dia bahkan lelaki yang tak bertanggung jawab, lelaki yang mengecewakan istrinya bahkan kedua orang tuanya.
Papah benar, aku bahkan bukanlah lelaki yang baik, tapi aku menghakimi Felisha begitu kejam tanpa bercermin. Aku bahkan tidak lebih baik darinya, batin Rio.
"Jadi, aku harus bagaimana Pah?" Tanya Rio.
"Jika kamu ingin bercerai boleh saja, tapi Felisha masih lemah. Biarkan dia tinggal dirumah itu sampai dia mempunyai tempat tinggal baru, atau kamu berikan saja rumah sederhana untuknya, agar bayi itu aman, tidak merasakan bermalam diluar," jawab Gerhana.
"Papah berharap dia menyesali perbuatannya dan berubah menjadi lebih baik. Menjadi ibu yang baik untuk anaknya, papah gak mau anak itu menjadi korban," ucap Gerhana lagi.
Rio tampak berpikir lagi, dia yang ingin diberi kesempatan oleh Kalisa tentu harus memberi kesempatan juga pada Felisha. Kesempatan menjadi ibu yang baik.
Apa yang harus aku lakukan? Batin Rio.
Rio berlalu pergi, dia membereskan baju-bajunya di lemari, kemudian dia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar itu, memikirkan masa depan yang diimpikannya. Memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari sang ibu. Baru saja Rio mengangkat telepon itu, terdengar suara ibunya yang panik.
__ADS_1
"Oke mah, aku kesana sekarang," jawab Rio.
Bersambung…