Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Keinginan Rio


__ADS_3

Fino dan Kalisa kini sedang menunggu angkutan umum lewat, setelah mereka berada di dalam mobil itu, dan menikmati perjalanan pulang, Fino melamun lagi, dia mencoba mengingat-ngingat lelaki yang dulu pernah dia lihat apakah sama dengan lelaki yang tadi dia lihat.


Flashback


Rio mengikuti mobil Felisha yang berhasil disusulnya, namun mobil itu berhenti disalah satu rumah mewah.


"Rumah siapa? Mungkin teman Felisha, atau rumah saudaranya, aku harus membujuknya pulang..!" Gumam Rio.


Rio mendekati gerbang dan mulai bertanya, saat dia menyebutkan jika dirinya mencari Felisha yang baru saja masuk, security itu langsung membukakan pagar, Rio masuk dengan mobilnya tanpa rasa curiga sedikitpun.


Namun alangkah terkejutnya saat Rio melihat dari kaca jendela kalau mereka sedang bermesraan di dalam.


Tok


Tok


Tok


"Felisha keluar!," Teriak Rio.


"Fel, aku tahu kamu ada didalam, keluarlah sebelum aku mendobrak pintu ini!" Teriak Rio lagi, meski dia tahu pintu itu besar dan tak mungkin bisa dia dobrak.


Pintu itu terbuka, Felisha keluar dan langsung bertanya, "ada apa? Aku sedang menginap di rumah temanku, agar kepalaku bisa aku dinginkan, kalau aku ikut denganmu maka malam ini pasti kita bertengkar lagi, aku malas," ucap Felisha.


"Teman apa teman? Temanmu laki-laki kan? Apa dia selingkuhanmu hah?" Teriak Rio.


Karena terdengar keributan sampai ke dalam rumah, lelaki itu pun keluar.


"Kamu menuduhku hah?" Teriak Felisha lagi.


"Ada apa ini Fel?" Tanya laki-laki itu.


"Tuh kan kamu menginap di rumah laki-laki padahal kamu sudah bersuami, ayo pulang! Dan kau, akan ku ingat-ingat wajahmu, kalau sampai kamu mengganggu istriku lagi, habis kau!" Ancam Rio, dia memegang tangan Felisha , menariknya sampai ke mobil merah milik istrinya itu.


"Cepat naik, bawa mobilmu dan pulang!" Ucap Rio.


Felisha menatap Rio dengan sinis lalu dia terpaksa masuk ke dalam dan pulang, dia tidak ingin ada keributan di rumah itu.


Rio pun pulang, mobilnya terus mengikuti mobil Felisha, dia tidak mau jika mobil itu malah pergi ke arah lain.


Flashback off


"Fino, kita sudah sampai, ayo turun..!" Ucap Kalisa pada bocah itu, membuat lamunannya seketika buyar, lamunan tentang perselingkuhan Felisha yang baru pertama kali diketahui, dia yakin laki-laki itu adalah laki-laki yang sama.

__ADS_1


"Eh, iya Bunna, ayo …!" Ucap Fino.


Mereka pun berjalan beberapa menit hingga mereka sampai di depan kontrakan, mereka yang lelah langsung berdiam di sofa sambil menonton televisi.


"Fino, kamu mau makan apa?" Tanya Kalisa.


"Makan sama apa aja Bunna, semua masakan Buna kan enak," jawab Fino.


Kalisa tersenyum, dia pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Kalisa selalu merasa beruntung karena dipertemukan dengan Fino, dia seperti bernasib sama dengan Fino yang tidak memiliki orang tua, Kalisa ingin mengadopsi Fino, namun ini bukan waktu yang tepat, dia harus memenuhi beberapa persyaratan yang belum mampu dia penuhi.


"Wah, ini enak Bunna, makasih ya Bunna…," ucap Fino sambil tersenyum.


"Sama-sama sayang," jawab Kalisa tersenyum memandang balita menggemaskan itu.


***


Malam pun tiba, Kalisa mencoba mengirim pesan pada Riki untuk memberi tahu kalau dia akan kembali ke panti besok pagi.


"Sayang, besok kita pulang ya ke panti, kamu sudah sembuh kan?" Tanya Kalisa.


"Bunna, tapi Fino mau tinggal disini aja," jawab Fino sambil menunduk, sebenarnya Rio ingin jika dia punya kesempatan untuk menguak semuanya, dia ingin memantau tubuhnya yang asli, dia ingin tahu juga perbuatan Felisha saat dia dalam keadaan koma, meski dia hanya anak kecil tapi dia berharap bisa mencari tahu.


Kalisa terkejut dengan jawaban Fino, dia tentu bingung kalau harus tinggal di kota besar , sementara dia tidak memiliki pekerjaan, dia juga tidak bisa meninggalkan Fino saat bekerja.


"Loh kenapa? Bukannya di panti banyak teman-teman, disana lebih seru Fino..m" Tanya Kalisa.


Tapi aku ingin disini, bagaimana cara agar aku bisa membujuk Kalisa, batin Rio (Fino).


"Fino mau sekolah disini Bunna, Fino ingin ketemu kakek lagi," jawab Fino.


"Kakek, Kakek yang mana?" Tanya Kalisa bingung, dia juga bingung ditambah dengan permintaan Fino untuk bersekolah di kota yang tentu dengan biaya yang lumayan mahal.


"Kakek yang ada di Rumah Sakit kemalin Bunna," jawab Fino.


Kalisa tidak terpikirkan siapapun, dia mengabaikan perkataan Fino, dia hanya mengangguk seolah mengerti dengan apa yang diucapkan Fino.


"Tapi Fino, Fino kan bisa sekolah disana dekat panti, kalau disini Bunna bingung karena belum punya pekerjaan," ucap Kalisa yang sejujurnya meski dia tidak yakin Fino akan mengerti permasalahan orang dewasa.


Fino diam, dia merasa sedih karena harus jauh dari orang tuanya dan juga tidak bisa melihat perkembangan kesembuhan tubuh aslinya.


Namun dengan pemikiran Rio dia mengerti akan kesulitan yang dihadapi Kalisa jika dia memaksa tetap tinggal.

__ADS_1


"Iya Bunna, besok kita pulang ke panti," jawab Fino, kemudian dia pergi ke kamarnya untuk tidur, Kalisa menatap Fino dengan rasa bersalah karena tidak bisa mengabulkan keinginan anak itu.


***


Saat pagi datang, Riki sudah ada dikontrakan Kalisa, dia datang untuk menjemput mereka, setelah tahu tentang niat mereka yang akan pulang hari ini dari pesan yang dikirim Kalisa malam tadi.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


"Dokter Riki, masuk Dok..!" Ucap Kalisa yang terkejut dengan kedatangan dokter muda itu.


"Saya datang untuk mengantar kalian pulang, mau berangkat jam berapa, sekarang?" Tanya Riki.


"Tidak usah repot-repot Dok..! Saya dan Fino bisa pulang dengan kendaraan umum, kami akan naik bus saja," jawab Kalisa.


"Saya gak merasa direpotkan karena memang saya kebetulan hari ini dan besok praktek disana, dimana Fino?" Tanya Dokter Riki.


Ternyata Fino keluar dari kamarnya setelah namanya disebut, dia memasang wajah murung pagi itu.


"Loh Fino kenapa?" Tanya Riki.


Fino menggelengkan kepalanya, "Bunna, Ayo kita pulang..!" Ajak Fino pada Kalisa.


Namun Kalisa melihat jika Fino terpaksa pulang, dia yakin Fino masih ingin tinggal disini.


"Dokter, apa ada pekerjaan yang bisa saya dapatkan disini?, tapi pekerjaan yang bisa sambil membawa Fino, emm.. Fino ingin sekolah di kota," ucap Kalisa.


Dokter Riki lalu memandang Fino, mendekatinya dan mulai menatap anak itu dengan serius.


"Apa benar Fino mau sekolah disini, tinggal disini?" Tanya Riki menatap kedua bola mata anak itu.


Fino diam, dia tidak mengatakan apapun, hingga Riki menanyakan itu untuk yang kedua kalinya, Rio merasa enggan untuk menerima bantuan dari Riki lagi, tapi dia memang ingin tetap tinggal, Rio merasa bingung.


"Fino….," Panggil Kalisa.


Fino menoleh ke arah Bunnanya.


"Jawab dong pertanyaan om doktelnya..!" Ucap kalisa.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2