Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Husen Mengerti


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sangat bahagia untuk Riki dan Kalisa. Riki bahagia karena akhirnya bisa menemukan wanita yang begitu tulus padanya. Risya, wanita itu bekerja di klinik Husen juga. Kedekatan mereka terjadi berawal di tempat kerja yang sama.


Risya wanita yang hampir sama dengan Kalisa, cantik dan imut. Sama-sama memiliki tinggi badan yang tidak terlalu tinggi dan pipi yang chubby. Sepertinya tipe wanita idaman Riki memang wanita seperti Kalisa adiknya, sebelumnya Riki membuang jauh perasaan yang sempat tumbuh untuk Kalisa.


Kalisa juga senang melihat kakaknya menemukan tambatan hatinya, hari ini adalah hari resepsi pernikahan Riki dan Risya dan juga hari perayaan Rumah Makan Kalisa yang sukses. Kini rumah makan itu bercabang di berbagai kota. Makanya hari ini adalah hari yang sangat spesial untuk mereka.


"Makasih ya sayang, Bunna jadi malu," jawab Kalisa. wajahnya memerah karena dipuji oleh Fino.


Fino tidak mau turun dari gendongan Kalisa, berhubung acara itu hanya tinggal menyambut para tamu. Kalisa pun memilih turun dari pelaminan, dia mengambil beberapa makanan dan menyuapi Fino.


Terlihat Rio juga datang, Fino malah langsung menarik tangan lelaki itu. Mengajak Rio berfoto bersama, anak balita itu memang sudah sangat dekat dengan Rio.


"Om, kita foto yuk? Fino mau di foto sama Bunna, Bunna cantik sekali kan Om?" Tanya Fino dengan polosnya.


Rio memandang Kalisa dari atas sampai bawah, dia akui memang penampilan Kalisa sangat berbeda malam ini. Jika biasanya dia akan berdandan seadanya dan sederhana, tapi malam ini dia begitu cantik dan imut. Karena keimutan Kalisa juga dia terlihat lebih muda, masih terlihat seperti wanita berusia 20 tahun.


"Iya, Bunna cantik sekali. Yaudah kita foto pake hp om aja ya?" Tanya Rio.


"Gak, Fino mau di foto diatas sana. Di sana lebih bagus Om, Fino ingin naik," pinta Fino menujuk ke arah pelaminan.

__ADS_1


Rio yang bingung, dia ingin menggelengkan kepalanya karena merasa tidak enak saja dengan Riki. Tapi Kalisa dengan segera menarik tangan Fino perlahan dan tangan Rio bersamaan, dia membawa mereka ke atas pelaminan. Wanita itu tidak mau mengecewakan Fino terus. Toh ini bukan permintaan yang sulit, aku tidak mau Fino sedih cuma gara-gara ini, batin Kalisa.


Rio tampak kaget, namun langkah kakinya patuh mengikuti langkah kaki Kalisa tanpa bertanya. Dia percaya Kalisa tidak akan melakukan hal yang aneh.


"Fino ditengah ya Bunna?" Tanya Fino.


Kalisa pun mengangguk, mereka akhirnya berfoto bertiga, terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Riani tampak terharu melihat momen itu, Husen pun sama. "Mereka begitu terlihat bahagia, kenapa mereka harus terpisah jika mereka ingin kebersamaan itu? Ah... aku lupa, Kalisa tidak mungkin melupakan rasa traumanya," Gumam Riani.


Husen yang tak sengaja mendengar ucapan Riani yang berada didepannya. Husen sempat berpikir jika cucunya itu memang masih mengharapkan cinta mantan suaminya. Buktinya selama ini belum ada pria yang dekat dengan cucunya, Husen akan menanyakan hal ini dengan Kalisa nanti.


Acara itu berlanjut sampai malam mengingat banyaknya tamu undangan yang datang. Sementara Kalisa sudah mengganti bajunya dari tadi sore, dia tidak tahan. Dia membiarkan kakaknya yang menyelesaikan acara ini karena mereka adalah ratu dan raja seharinya.


Fino yang tidak mau pulang membuat Kalisa mengajak ibu panti untuk menginap dirumah kediaman keluarga Husen. Mereka pun tidak keberatan, mengingat hanya sehari saja mereka menginap.


Keesokan harinya saat Fino akan kembali pulang, dia merengek tetap ingin tinggal bersama Kalisa.


"Bunna, Fino mau disini aja sama Bunna," ucapnya sambil memeluk Kalisa dengan erat. Bu Fatimah pun kesulitan memisahkan mereka.


"Iya, besok Bunna temuin Fino lagi di panti ya," ucap Kalisa. Dia berusaha membujuk anak itu.

__ADS_1


"Gak mau," jawab Fino. Dia menggelengkan kepalanya terus menerus.


Dengan penuh drama, akhirnya Fino pun pulang bersama ibu Fatimah dan Bu Meri. Kalisa menatap kepergian mereka dengan jatuhnya air mata karena merasa kasihan tapi dia belum bisa melakukan apa-apa.


"Sayang, kakek mau bicara sebentar, masuklah…!" Ucap Kakek Husen.


"Baik Kek," jawab Kalisa.


Mereka kini duduk berdua, ditemani secangkir teh. Suasana masih pagi, masih dingin. Sehingga mereka cukup santai untuk menikmati biskuit dan teh.


"Langsung saja, Kakek mau bertanya. Apa kamu masih berharap pada mantan suamimu?" Tanya Husen.


"Gak Kek, gak kok. Kalisa masih takut meski Kalisa mau," jawab Kalisa menunduk.


"Cobalah atasi trauma mu sayang, kalau kamu masih mencintai Rio itu tidak masalah. Kalau kamu mau rujuk, Kakek akan mendukungmu asal kau bahagia. Kakek sebelumnya akan mengetes anak itu, apakah layak atau tidak," ucap Husen.


"Maksudnya Kek?" Tanya Kalisa bingung.


"Kakek akan memata-matainya dulu. Melihat sikapnya di kantor, apakah suka main perempuan atau tidak. Dia sudah berubah atau belum, kakek perlu tahu itu. Jika lulus, Kakek akan memberikan surat pranikah agar kamu terjamin kebahagiaanya. Kamu juga gak perlu takut, kalau dia menyakitimu, bilang saja sama kakek!" Ucap Husen.

__ADS_1


Kalisa memeluk kakeknya itu dengan rasa haru. Ternyata kakeknya itu begitu mengerti perasaannya, bahkan menyusun rencana yang matang untuk menjamin kebahagiaannya kedepan.


Bersambung….


__ADS_2