
Akhirnya Rio sampai di panti asuhan yang dia kenal, ya.. karena sebelumnya dia pernah tinggal disini sebagai Fino. Dia begitu bersemangat, bahkan dia hampir saja terjatuh dari mobil saat hendak turun, Riani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang anak yang begitu merindukan Kalisa.
Aku cemburu, dia lebih merindukan Kalisa daripada aku ibunya, dasar bocah, batin Riani.
Rio senyum sepanjang jalan, dia kini begitu percaya diri kalau Kalisa akan menerimanya kembali, jika pun tidak maka dia akan bekerja keras membujuk Kalisa, mengerahkan semua keseriusannya agar terlihat oleh Kalisa bahwa kali ini dia bersungguh-sungguh memperjuangkan Kalisa dan menganggap Kalisa itu istrinya.
"Tunggu Mamah Rio!" Teriak Riani.
"Cepetan Mah!" Jawab Rio yang berjalan lagi.
"Kamu baru sembuh kok udah bisa lari sih," keluh Riani yang melihat sang anak jauh di depan sana sementara dirinya masih dihalaman di dekat mobil. Dia bahkan kini mengabaikan ibunya, batin Riani.
Namun saat Riani dengan susah payah menyusul Rio, lelaki itu tengah berdiri memperhatikan Kalisa yang ada di dalam, kebetulan pintu itu memang terbuka. Rio bisa melihat jika ada Riki disana, ada juga kakek yang sudah lanjut usia, mereka mengobrol begitu serius, tapi yang menarik perhatian Rio adalah sebuah kotak cincin yang dipegang Kalisa, bahkan Kalisa terlihat tersenyum senang dengan sedikit air mata haru bahagia, dia mengambil cincin itu dan memakaikannya di jari manisnya.
Jadi dia benar-benar memilih Riki? Ah betapa bodohnya aku yang masih berharap Kalisa masih mencintaiku, jelas-jelas dulu aku melukainya, menganggap dia tidak ada, batin Rio.
Rio membalikkan badannya, dia berjalan dengan lesu, membuat Riani tentu heran dengan perubahan sikap Rio yang berubah drastis. "Rio, kok balik lagi?" Tanya Riani, yang menghentikan langkahnya, tapi Rio tak menjawab. Itu membuat Riani diam mematung, melihat ke arah Panti dan ke arah Rio bergantian.
"Rio...tunggu..!" Teriak Riani kemudian berlari ke arah anak lelakinya itu, padahal dia juga penasaran ada apa di dalam panti, tapi dia lebih mengkhawatirkan keadaan Rio terlebih anaknya itu baru sembuh dari koma.
Riani menyusul Rio hingga masuk ke dalam mobil, terlihat Rio murung, padahal saat pergi dia begitu semangat, "Rio, kamu kenapa? Kok gak jadi ketemu sama Kalisa?" Tanya Riani pelan.
"Hmm, aku ingin pulang saja Mah," jawab Rio kemudian menyandarkan punggungnya, mencoba memejamkan matanya yang sebenarnya tidak mengantuk.
__ADS_1
Ingin rasanya Rio menyerang Riki dan mengatakan kalau dia masih suami Kalisa, tapi dia tidak percaya diri karena dia juga bukan lelaki baik yang pantas untuk Kalisa, Rio mau Kalisa bahagia meski itu bukan dengan dirinya, Rio mengerti jika dialah yang salah, tak sepantasnya dia menuntut hak nya.
***
Sesampainya di rumah Rio dikejutkan oleh sang ayah yang sedang menunggu kedatangan mereka di teras rumah. "Kalian dari mana saja? Papah nungguin Mamah sama Rio dari tadi, ada hal penting juga yang ingin Papah sampaikan pada kalian."
"Pah, aku capek, nanti aja ya..!" Jawab Rio berlalu meninggalkan semua orang, dia masih merasa sakit hati dan tidak ingin berbicara dengan siapapun, dia berjalan menuju kamar tanpa menghiraukan panggilan Gerhana.
"Astaga, dia kenapa sih Mah? Habis sakit kok kelakuannya masih gitu aja, bikin Papah kesel terus," keluh Gerhana.
"Sabar Pah, kita harusnya bersyukur Rio sudah sembuh, biarin aja Pah..! Kita bicarakan hal penting itu malam saja Pah, pas makan malam bersama, Rio yang lapar pasti mau makan," Jawab Riani.
Gerhana pun menuruti apa yang diucapkan sang istri, dia memilih membiarkan anak lelakinya itu melakukan apapun yang diinginkan. Gerhana memang sayang sekali pada Riani, dia sering kali mengalah demi sang istri.
"Kata Mamah kan gak boleh dipaksa, anterin makanan aja Mah ke kamarnya, sambil lihat dia sebenarnya kenapa..!, Tapi bukannya tadi dia pergi sama Mamah, kalian kemana aja?" Tanya Gerhana.
"Emm itu, Rio ingin menemui Kalisa. Dia pergi dengan penuh semangat meski jarak yang lumayan jauh, tapi malah gak jadi dan pulang begitu saja dengan wajahnya yang sudah ditekuk Pah. Mamah juga gak tahu dia kenapa," jawab Riani.
Riani pun pergi mengambil makanan, dia mencoba mengetuk pintu kamar Rio berkali-kali hingga akhirnya Rio membuka pintu kamarnya, "Mah … berisik tahu, ngetuk pintu kok gak berhenti-berhenti," keluh Rio.
"Mamah khawatir Rio, ini makanlah! Mamah masuk ya?" Tanya Riani.
Rio pun mempersilahkan ibunya masuk, dia malas jika harus mendengar ketukan pintu lagi yang mengganggu gendang telinganya.
__ADS_1
"Makanlah dulu..!" Ucap Riani.
Dengan patuh Rio pun makan, perutnya memang lapar meski sebenarnya dia tidak nafsu makan karena kejadian tadi siang, tapi dia tidak mau magh nya kambuh. "Sudah habis Mah, yaudah Rio mau istirahat, Mamah bisa kembali ke kamar Mamah dan berhentilah mengetuk pintu..!" Ucap Rio.
"Aish, anak ini," keluh Riani, yang kemudian bangkit dan berlalu pergi, setidaknya dia tidak terlalu khawatir melihat Rio sudah makan.
***
Keesokan paginya, Rio yang ingin melupakan perasaan sedihnya, dia berniat pergi ke kantor. Pagi ini dia sarapan bersama ibu dan ayahnya. Para pelayan tersenyum senang melihat keluarga majikan yang pada akhirnya bisa berkumpul lagi.
"Rio, kamu kok sudah rapi, mau kemana?" Tanya Riani.
"Ke kantor lah Mah, Rio bosan di rumah, mau lihat perkembangan perusahaan juga," jawab Rio sambil memasukan roti ke dalam mulutnya.
"Hmm, terserah kamu aja Rio, yang penting kamu sehat dan gak maksain diri, nanti malah ngerepotin lagi kalau tiba-tiba kamu pingsan," ucap Gerhana.
"Uhuk… uhuk…," Rio tersedak, dia segera mengambil air minum dan menatap ayahnya dengan tatapan kesal.
"Mengenai kasus kemarin, ada dugaan kalau seseorang memasukan sesuatu ke dalam cairan infusan kamu Rio, sampai kamu bisa kritis dua kali. Papah akan mencari pelakunya," ucap Gerhana yang mampu membuat Riani dan Rio kaget.
"Apa? Rencana pembunuhan?" Ucap Riani dan Rio kompak.
Gerhana menatap Rio dan Riani bergantian kemudian mengangguk pelan.
__ADS_1
Bersambung ….