
"Fino, Fino…," teriak Kalisa.
Kalisa tidak menyangka jika Fino akan pergi dari ruangannya, bukankah anak sekecil itu pasti akan membangunkannya, meminta pertolongannya saat ingin sesuatu? Apakah Fino diculik? Itulah yang dipikirkan Kalisa saat ini, membuatnya semakin kacau dan panik berlebihan.
"Maaf, apa anda melihat anak kecil, kira-kira tingginya segini, dia laki-laki usia tiga tahun," tanya Kalisa pada seseorang.
"Maaf mbak saya tidak lihat," ucap lelaki itu.
"Tidak lihat ya, yaudah.. makasih ya Mas," ucap Kalisa berlalu pergi.
Fino gak mungkin pergi jauh, aku periksa lagi ke kamarnya deh, pikir Kalisa.
Kalisa berlari kembali ke kamar Fino, siapa tahu dia kembali dan malah mencari-cari dirinya.
Namun anak balita itu tetap tidak ada disana, itu sangat membuat Kalisa frustasi, dia teringat pada Riki, namun dia mengurungkan niatnya karena hari sudah malam, pasti dokter Riki sedang istirahat, pikir Kalisa.
Kalisa pergi, dia mulai mencari lagi keberadaan Fino, aku tidak boleh panik, harus tenang..!, Fino pasti masih ada disekitar sini, batin Kalisa.
Dia berjalan dengan perlahan, mencari Fino dengan lebih teliti, mengingat tubuh Fino yang masih kecil, membuat dia harus lebih fokus.
Kalisa mulai bertanya lagi kebeberapa orang yang ada, mengingat hari sudah malam dan sedikit orang yang berlalu lalang, dia berusaha sangat keras untuk menemukan baliat itu, Kalisa yakin anak itu pasti sedang menangis karena terpisah darinya.
Kalisa duduk dikursi tunggu, dia ingin istirahat sejenak karena tidak berhasil menemukan Fino, saat dia beranjak berniat melaporkan masalah ini kepihak Rumah Sakit dan memeriksa CCTV.
"Bunna…," panggil Fino.
Kalisa menoleh, dia langsung memeluk Fino merasa sangat bersyukur karena berhasil menemukan anak itu.
"Kamu gak apa-apa kan sayang? Kamu darimana saja?" Tanya Kalisa.
"Fino mencali Bunna kalena Bunna tidak ada di Kamal," jawab Fino.
"Benarkah? Fino… maafkan Bunna ya," ucap Kalisa memeluk Fino kemudian menggendongnya menunju kamarnya.
Kalisa berpikir jika Fino pergi saat dia pergi ke kamar mandi, wanita itu tidak memikirkan hal lain.
***
Ketika Fino (Rio) ada didalam ruangan dimana Rio koma, dia berhasil menatap tubuhnya, berhasil menggenggam tangan asli milik Rio.
__ADS_1
Fino terus mengatakan jika Rio harus bangun, Fino juga sempat mengguncangkan tubuh Rio meski tubuh itu tak bergerak sedikitpun karena tenaga Fino yang lemah, tenaga seorang anak balita berusia tiga tahun.
Hingga kedatangan orang tua Rio membuat Fino kembali bersembunyi dan berusaha mencari kesempatan agar bisa keluar karena dia teringat Kalisa yang pasti mencarinya saat Kalisa bangun dan menyadari dirinya tidak ada disana.
Dia berhasil keluar dari kamar Rio yang sedang koma, hingga dia menemukan Kalisa yang sedang duduk sendirian sambil menangis.
***
Kini Fino berbaring diranjang pasien itu, dia menatap langit-langit sambil mengenang kejadian naas itu.
Flashback
Sekitar 6 bulan yang lalu, setelah Kalisa kabur, Rio begitu senang, dia menemui kedua orang tuanya.
"Mah, Kalisa pergi," ucap Rio.
"Pergi kemana? Memangnya kalau dia pergi keluar kenapa?" Tanya Riani.
"Maksud Rio, Kalisa kabur Mah," jawab Rio.
"Apa, kamu serius? Kenapa bisa begitu? Apa kamu melakukan hal buruk padanya?" Cerca Bu Riani.
"Apa? Jangan bercanda kamu Rio, Kalisa anak yang sangat baik, dia juga sabar, mana mungkin dia begitu?" Tanya Bu Riani tak percaya.
"Aku gak bohong Mah, kenapa mamah lebih membela dia, anak Mamah itu aku, apa dia?" Tanya Rio.
"Bukan begitu Rio, hanya saja Mamah mengenal Kalisa sejak dia kecil, Mamah tahu karakter dia seperti apa," Riani masih membela Kalisa.
"Ini surat yang Kalisa buat sebelum dia pergi," ucap Rio lalu menyimpan surat itu diatas meja, sementara dia berlalu pergi.
Bu Riani mengambil kertas itu, membacanya perlahan, dia begitu kaget, kecewa dan marah.
Dia tidak menyangka menantunya seperti itu, dia merasa bersalah karena telah salah memilihkan istri untuk sang anak.
Saat itu juga Riani menangis hingga kedatangan suaminya, dia masih menangisi kehancuran rumah tangga anaknya.
Gerhana hanya mendengarkan keluhan sang istri, dia tidak tahu harus mempercayai semuanya atau tidak, di lubuk hatinya dia masih mempercayai Kalisa.
Setelah sebulan berlalu Kalisa tidak juga kembali, Rio membawa Felisha kehadapan ayah dan ibunya, namun dia mendapatkan penolakan lagi, entah kenapa ayahnya tidak setuju jika Rio menikah dengan Felisha.
__ADS_1
Rio yang yakin dengan pilihannya, pada akhirnya dia menikahi Felisha secara diam-diam.
"Kamu yakin mau menikahiku tanpa restu dari kedua orang tuamu?" Tanya Felisha.
"Iya, itu tidak masalah, aku yakin setelah kita mempunyai anak, bayi yang lucu itu pasti bisa membuat ayah dan ibuku jatuh cinta, mereka akan menyayangi anak kita dan juga menerima kamu sebagai menantu," jawab Rio.
Felisha pun mengangguk dengan senyuman bahagia.
Mereka akhirnya menikah, mengucapkan janji suci, Rio begitu bahagia begitupula dengan Felisha, mereka tinggal dirumah Rio, rumah dimana sebelumnya rumah itu pernah ditinggali oleh Kalisa.
Felisha membuang semua barang-barang yang berkaitan dengan Kalisa, semua foto yang terpajang, dan baju-baju yang tertinggal.
Felisha juga mengganti dekorasi rumah dan kamarnya, membuat rumah itu terlihat berbeda.
Tiga hari berlalu Rio masih menikmati bulan madunya, dia bahkan mengambil cuti, dia hanya diam dirumah mengurung Felisha disana.
"Rio, ayo kita jalan-jalan, kamu terus saja mengurungku, badanku sakit semua karena kamu terus saja menyerangku," keluh Felisha.
"Haha, baiklah, aku akan menuruti semua keinginanmu, karena selama tiga hari ini kamu telah memberikanku kebahagiaan," ucap Rio lalu mencium kening Felisha.
Hari-hari Rio semakin indah setelah pernikahan keduanya, hingga satu bulan berlalu, Rio menyadari jika Felisha sangat jauh berbeda dengan Kalisa.
Felisha tidak pernah menyiapkan pakaian untuknya, menyiapkan air hangat, atau memasak, istrinya itu membiarkan asisten rumah tangga yang melakukan semuanya.
Felisha masih ingin bekerja, dia bahkan lebih sibuk dari Rio, dia akan pergi pagi dan pulang saat malam hari, tidak ada waktu untuk mereka menghabiskan malam bersama.
"Fel, apa sebaiknya kamu berhenti bekerja, aku masih mampu memberimu uang belanja..!" Ucap Rio.
"Apa? Aku tidak mau, aku sedang berada diatas ketenaran ku Rio, aku suka akting dan bermain film," Felisha menolak.
Felisha marah, dia bahkan pergi keluar membawa mobil sendirian, membuat Rio kewalahan dan menyusul istrinya, Rio mencoba mengalah dan membujuknya.
flashback off
"Rio, kenapa kamu belum tidur sayang?" tanya Kalisa yang melihat Fino melamun.
"iya Bunna," jawab Fino, kemudian dia menarik selimutnya dan berusaha tidur.
(Flashbacknya dilanjut nanti ya, kalau Fino melamun lagi, hehe...)
__ADS_1
Bersambung …..