Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Melepas Syahla


__ADS_3

Wanita itu (ibu Felisha) kecewa karena bayi semanis dan secantik itu malah diabaikan oleh ayah kandungnya dan juga oleh Felisha sang anak. Tapi nalurinya sebagai seorang ibu pun muncul, dia tidak percaya jika anaknya dijelek-jelekkan seperti itu. Dia akan percaya kecuali jika ada bukti kuat dan mendengar langsung dari mulut Felisha.


Wanita itu mulia berpikir sejenak, lalu berbicara dengan nada sinis, "memangnya aku akan percaya kata-kata anda? Yang jelas disini anak saya lah yang sengsara, dia sampai sakit mental seperti ini. Saya akan melaporkan kasus ini, bisa saja anak anda menganiaya batin Felisha sampai seperti ini," tuduh wanita itu.


Seketika itu Riani kaget, padahal dia berharap akan ada anggota keluarga yang menjaga dan merawat Felisha. "Saya akan bawa buktinya besok, dan saya tidak takut dengan ancaman anda."


Riani yang kesal, dia segera pergi dari tempat itu dengan membawa Syahla tentunya. Wanita itu akan membicarakan hal ini dengan Rio dan juga suaminya.


***


Keesokan harinya Riani datang bersama Rio. Mereka tidak bisa membawa surat nikah Rio dan Felisha karena mengingat hanya pernikahan Rio dengan Kalisa lah yang tercatat. Dulu Felisha yang mendesak Rio segera menikahinya meski menjadi istri kedua.


Rio pun hanya membawa tes DNA milik Syahla, dia merasa agak ragu menunjukkan bukti itu. Dia takut kehilangan Syahla si bayi manis dan cantik yang sudah beberapa bulan menghiasi hidupnya. Rio kira seorang anak itu hanya akan merepotkan saja, tapi ternyata bisa membuat dia merindu, pulang kerja begitu semangat ingin bertemu si bayi. Lelaki itu membayangkan kebahagiaannya jika suatu saat nanti benar-benar memiliki anak, dan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.


"Aku tidak mau bertemu kalian!" Teriak Felisha saat melihat mereka semua, wanita itu mengamuk lagi.


Keadaan Felisha masih sangat memprihatinkan, tapi itu kesalahannya sendiri. Terlalu banyak menyakiti orang lain, terlalu egois dan serakah.


Benar saja keputusan ibu Felisha membuat Rio harus kehilangan Syahla. Tapi itulah yang terbaik, Riani juga sama sedihnya dengan Rio, betapa dia merasa kehilangan. Tapi dia harus tegar, dia menarik lengan Rio agar cepat pergi dari tempat itu.


Mereka kini berada di dalam mobil, saling diam, saling membayangkan kebersamaan mereka dengan Syahla selama ini.

__ADS_1


"Rio…, kamu harus kuat Nak..! Kamu kan bisa memberikan ibumu ini cucu, mereka lebih berhak atas Syahla. Mamah hanya berdoa agar Syahla bisa dirawat dengan baik dan hidup bahagia," ucap Riani.


"Iya Mah," jawab Rio. Dia pun melajukan mobilnya menuju panti. Dia ingin bermain dengan Fino untuk menghilangkan rasa sedihnya.


Riani yakin, sejak hari ini anak lelakinya akan terbebas dari yang namanya Felisha. Wanita licik yang hanya menyakiti Rio. Felisha masih dalam masa pemulihan di Rumah Sakit Jiwa, ada keluarganya yang kini mendampinginya. Riani sudah lepas tanggung jawab, Rio pun akan menceraikan Felisha mengingat Syahla juga sudah berusia 3 bulan.


***


Selama di panti, Riani begitu senang melihat kedekatan Fino dan Rio bahkan wajah mereka terlihat mirip. Terlihat Rio menepi, dia beristirahat sejenak, Riani pun menghampirinya.


"Rio, kenapa kamu gak adopsi Fino saja? Mamah lihat kalian sudah cocok, bahkan mirip," ucap Riani.


"Hmm… kalau bisa sudah aku lakukan Mah sejak dulu," jawab Rio.


"Ah Mamah, bahkan aku dan Felisha saja tidak punya buku nikah," jawab Rio sambil tersenyum getir.


Riani yang baru sadar, dia pun terdiam sejenak "ah kamu benar Rio," ucap Riani dengan wajah lesu.


"Sebaiknya kamu segera mencari calon istri lagi! memangnya ketampananmu itu sudah luntur dimakan usia, hingga gak ada yang mau lagi sama kamu Rio?" Ejek Riani.


Rio bukannya menjawab, dia malah menatap ibunya terus menerus tanpa berkedip dengan eksfresi datar. Sungguh eksfresi lucu bagi Riani. Wanita itu tertawa keras melihat tingkah sang anak.

__ADS_1


***


Saatnya Fino bermain dengan Riani. Fino yang mulai dekat dengan wanita itu dan menganggapnya nenek, Fino mulai percaya dan mencurahkan isi hatinya.


"Nek, kenapa Bunna tidak mau membawa Fino ya? Apa Fino jelek? Atau nakal?" Tanya Fino dengan wajah cemberut.


Sungguh menggemaskan eksfresi itu, ingin rasanya Riani mencubit pipinya, tapi dia harus memahami jika Fino sedang bersedih.


"Fino ganteng, lucu, baik hati, periang. Nenek aja suka kok sama Fino. Mungkin Bunna masih sibuk, nanti kalau sudah memungkinkan, Bunna pasti bawa fino tinggal lagi bersamanya. Fino jangan berpikiran buruk, bukankah Bunna itu wanita baik? Bahakn Fino dirawat dengan baik waktu di kota, waktu di Rumah Makan itu loh," jawab Riani.


"Nenek benal, Bunna selama ini baik sama Fino. Fino halus sabal menunggu Bunna ya Nek?" Tanya Fino dengan wajah yang mulai riang dengan senyuman manisnya.


Riani sempat menahan tawa mendengar pertanyaan Fino yang lucu karena tidak bisa mengucapkan hurup R. wanita itu menenangkan dirinya lalu menjawab pertanyaan anak kecil itu.


"Tentu saja, Fino harus yakin kalau Bunna pasti akan datang dan membawa Fino tinggal dengannya," jawab Riani sambil mengangkat tubuh Fino. Fino duduk dipangkuan Riani dan wanita itu memberikan pelukan hangatnya.


***


Saat perjalanan pulang, Riani mulai mengutarakan apa yang mengganjal dihatinya. "Rio, apakah tidak terbesit dipikiranmu untuk rujuk kembali dengan Kalisa?" Tanya Riani.


Deg!

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2