
Keesokan harinya Kalisa memaksakan dirinya yang masih belum sehat untuk mengantarkan Fino ke luar kota. Dia tidak bisa menundanya karena ibu Panti yang sudah memperingatkannya.
"Bunna, kita mau kemana?" Tanya Fino.
"Ke Panti sayang," jawab Kalisa.
"Aku mau sama Bunna, Bunna juga tidul di Panti kan?" Tanya Fino. Wajahnya mendongak untuk melihat wajah Kalisa.
"Sayang…, maafkan Bunna. Bunna haus nemenin kakek di sana. Nanti Bunna jengukin Fino ya?" Jawab Kalisa sambil tersenyum.
"Bunna jahat," jawab Fino. Dia memalingkan wajahnya, duduk bergeser sampai mendekati pintu mobil. Fino berusaha menjauh dari Bunnanya.
Kalisa bergeser, dia mencoba memeluk Fino, tapi anak itu menghindar. "Fino… mengertilah, Bunna pasti akan membawa kamu pulang ke rumah kakek, tinggal disana bersama Bunna sepuasnya. Tapi bukan sekarang, berikan Bunna waktu ya Fino..!" Ucap Kalisa. Wanita itu berharap Fino akan mengerti perkataannya.
Sepanjang perjalanan Fino tampak diam, ketika sampai di Panti, Fino langsung turun dan berlari masuk ke dalam dan melewati ibu Panti. Fino terlihat marah sekali pada Kalisa.
"Duduklah..!" Ucap Bu Panti.
"Iya Bu, terimakasih…," jawab Kalisa lalu dengan patuh duduk disana.
__ADS_1
"Kenapa Fino berlari? Apa ada pertengkaran?" Tanya Bu Panti.
"Hmm, sedikit Bu…, maaf karena terlambat mengembalikan Fino. Maaf karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik, waktu itu–" jawab Kalisa, dia berniat menjelaskan tapi pembicaraan itu malah terpotong oleh ibu Panti.
"Tidak apa, saya harap ini terakhir kalinya kamu membuat ibu cemas. Ibu kecewa sama kamu Kalisa. Ibu harap kamu bisa mengerti jika ibu tidak bisa membiarkan Fino dibawa keluar lagi dari Panti. Ibu harap kamu tidak berkunjung untuk beberapa waktu agar Fino bisa terbiasa tanpa kamu, agar kami tidak kesulitan menjaga Fino yang biasanya selalu menolak dan hanya mau dirawat olehmu..!" Ucap Bu Panti.
Kalisa mengangguk pelan, dia merasa tidak enak pada ibu Panti karena telah membuat masalah. Dia pamit pulang, tak lupa dia pamit pada Fino meski anak itu enggan bicara padanya.
Kalisa pulang dengan menangis sepanjang jalan. Fino adalah salah satu alasan dia bertahan hidup selama ini. Fino ada saat Kalisa terpuruk. Fino sangat berarti untuknya tapi dia kini kehilangan anak itu.
"Fino…, maafin Bunna ya, Bunna akan berusaha agar bisa merawat kamu sepenuhnya. Membawamu pulang bersama Bunna, hiks …"
***
Dua bulan pun berlalu, Riki tidak jadi dipenjara karena Rio mencabut laporannya. Rio tidak mau membuat Kalisa sedih lagi, apabila Riki dipenjara, maka Kalisa tentu akan sedih bukan?.
Felisha baru saja melahirkan dan Rio langsung berniat melakukan tes DNA.
"Apa ini tidak terlalu terburu-buru sayang? Apa kamu tidak percaya padaku? Lihatlah…, dia mirip denganmu!" Ucap Felisha.
__ADS_1
"Hmm, aku hanya memastikannya saja. Kalau memang kamu tidak pernah melakukan hal aneh di belakangku, seharusnya kamu tidak usah takut!" Jawab Rio.
"Justru aku heran, suami kok gak percaya sama istrinya. Aku baru saja melahirkan tapi kamu dengan teganya menuduhku macam-macam, kamu punya hati gak sih Rio?" ucap Felisha kesal.
Aku harus bisa membuat Rio yakin dan tidak melakukan tes DNA itu, aku takut jika ini anak Gani, batin Felisha.
"Sudahlah, keputusanku sudah bulat," jawab Rio.
"Apa kamu berharap ini bukan anak kamu dan menceraikan aku, lalu kembali pada wanita itu? Hahaha… sungguh lucu. Kamu lelaki serakah Rio, kamu juga tak tahu diri, tak punya hati melakukan ini pada wanita yang baru saja berjuang antara hidup dan mati melahirkan anakmu. kamu juga menyakiti Kalisa dulu, yang pada akhirnya kalisa menggugat cerai, tapi kamu masih berharap padanya?," ucap Felisha mengejek. Kali ini wanita itu merasa di titik terendahnya, dia habis melahirkan dan emosinya memang sedang tak terkendali.
"Diam!" Bentak Rio. Dia kemudian berlalu pergi. Meski kata-kata itu keluar dari mulut Felisha, tapi Rio merasa jika memang itu benar adanya. Dia mengakuinya, mengakui kesalahannya.
Dia bergegas menemui dokter untuk mengajukan permintaannya melakukan tes DNA, kali ini dia tidak akan mundur. Dia harus siap menerima apapun hasilnya nanti. Jika anak itu ternyata anaknya, maka dia harus siap hidup selamanya dengan ibu anaknya itu.
Riani dan Gerhana pun mendukung apa yang dilakukan Rio. Mereka pun harus siap dengan hasil tes DNA itu, mereka lebih berharap itu adalah cucu mereka karena sepasang suami istri itu begitu mendambakan seorang cucu. Jika ternyata bukan, memang ada rasa kecewa tapi setidaknya anaknya bisa lepas dari wanita licik itu.
Ah entahlah, tes DNA ini membuat semua orang gelisah.
Bersambung...
__ADS_1