
Pesta itu belum berakhir, tapi Kalisa dan Rio sudah dalam perjalanan pulang. Lelaki itu mengantar Kalisa sampai ke rumahnya bahkan mampir terlebih dahulu. Rio ingin dekat dengan keluarga Kalisa terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk melamar wanita yang dia sukai ini, Rio mencari alasan agar dia bisa mampir.
"Kek…," sapa Kalisa.
"Eh udah pulang? Ada Rio juga. Duduk sini..!" Ucap Husen.
Ternyata Husen sedang bermain catur dengan sopir pribadinya. Mereka sudah biasa, dan Kalisa tahu itu. Bahkan Husen akan betah bermain berjam-jam. Menurut Kalisa itu sangat membosankan. Tapi Rio malah duduk disana dan asyik bermain catur juga, membuat Kalisa pergi meninggalkan mereka untuk mandi dan berganti pakaian.
"Kamu hebat juga," puji Husen.
"Kakek terlalu memuji, justru kakek yang lebih hebat," jawab Rio.
"Bagaimana hubunganmu dengan cucuku?" Tanya Husen.
Seketika Rio seakan mendapatkan lampu hijau. Dia tersenyum senang. "Hubungan kami masih sebatas mantan istri dan mantan suami kek, hehe… tapi, sepertinya hubungan kami akan lebih dekat," jawab Rio.
"Hmm…, apa kamu masih berharap pada cucuku? Bukannya dulu kamu menyia-nyiakannya?" Tanya Husen.
Deg!
"Emmh, iya Kek. Aku menyesali itu semua, berharap Kalisa bisa membuka pintu maaf dan bersedia membuka hatinya lagi untukku, meski harapan itu kecil… tapi aku akan berusaha lebih keras Kek," jawab Rio.
"Hahaha…. Tentu saja, cinta itu butuh pengorbanan," jawab Husen sambil tertawa.
Setelah suasana hening kembali dan mereka kembali bermain catur. Rio mulai penasaran dengan pemikiran kakek Kalisa ini. "Kek, apa kakek akan merestui hubungan kami jika aku rujuk kembali dengan cucu Kakek?" Tanya Rio.
"Apa kamu mau direstui oleh Kakek?" Tanya Husen, dia menampilkan senyuman misteriusnya.
__ADS_1
"Tentu saja Kek," Jawab Rio dengan cepat.
"Wah semangat sekali kamu anak muda, hahaha… kalahkan dulu Kakek, baru dapat restu!" ucap Husen.
Karena perkataan Husen itulah, Rio menjadi antusias. Dia betah berlama-lama disana karena ingin mengalahkan Kakek Husen. Hampir dua jam tapi ternyata Rio malah kalah, dia meminta pertandingan ulang.
Kalisa yang sudah segar dengan sedikit polesan lipstik, dia berpura-pura berjalan melewati dua pria yang dia sayang, tapi mereka mengabaikan Kalisa.
Mereka serius sekali, sampai aku saja tak terlihat, batin Kalisa.
Tiga ronde berlalu dan Rio masih kalah juga. "Kamu pulang sana, ini sudah malam!" Ucap Husen.
"Tapi Kek, aku belum menang," keluh Rio.
"Ish, apa kamu mau Kakek sakit karena bergadang?" Tanya Husen.
"Gak usah, besok Kakek tidak ada dirumah," jawab Husen.
"Kalau begitu lusa ya Kek? Tolonglah… biarkan aku memang walau sekali, aku ingin direstui Kakek," pinta Rio pada Husen. Dia mengangkat kedua tangannya, kini kedua telapak tangannya saling bersentuhan.
"Aish anak ini, yaudah lusa. Cepat pulang, Kalisa juga pasti sudah tidur!" Ucap Husen.
Rio akhirnya pulang dengan perasaan yang bingung. Disatu sisi dia senang mendapatkan tantangan dari Husen, tapi dia selalu kalah dan sedikit pesimis dengan kemampuannya. "Sebaiknya aku harus mencari guru catur yang handal," gumam Rio.
***
Dua hari berlalu, dia datang lagi menemui Husen untuk menantang catur demi restu hubungannya dengan Kalisa. Hari ini Rio berjalan dengan percaya diri, dia sudah berlatih selama dua hari ini.
__ADS_1
"Mau apa kamu kemari? Kalisa masih di rumah makan," tanya Husen dibalik buku yang sedang dia baca.
"Aku datang mencari Kakek, mari kita bermain catur lagi Kek, aku pastikan kali ini akan menang, demi Kalisa," jawab Rio yakin.
Husen menutup bukunya, disimpanlah buku itu diatas meja. Dia kemudian menatap Rio dengan tatapan tajam, "kamu yakin?" Tanya Husen.
Rio mengangguk, dia memang sudah sangat percaya diri sekali bisa mengalahkan Kakeknya Kalisa.
Tiga jam berlalu, Kalisa baru saja pulang. Tak ada sambutan untuknya, dia hanya melihat pemandangan yang sempat membuatnya kesal.
Apa ini hanya bayanganku saja? Kenapa aku melihat mereka bermain catur bersama lagi, apa itu tidak membosankan? mataku sepertinya lelah, Batin Kalisa.
Kalisa yang menganggap itu halusinasinya saja, dia berjalan melewati mereka tanpa bertanya. Jika itu nyata toh mereka juga saling diam karena permainan catur perlu konsentrasi tinggi, biarkan saja lah, batin Kalisa.
Kalisa yang lelah pun masuk ke dalam kamarnya, membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Dia terbayang wajah Fino, dia berniat mengunjungi Fino akhir pekan.
Kalisa yang ingin buang air kecil, dia terbangun dari tidurnya. Perutnya protes, Kalisa pun keluar kamar untuk mencari makanan didapur. Alangkah terkejutnya Kalisa yang masih bisa melihat kakek dan Rio masih bermain catur disana.
"Apa mungkin mereka bermain sampai tengah malam begini? Ah sepertinya ini benar hanya halusinasi ku saja," gumam Kalisa dan berlalu pergi.
Saat Kalisa kembali, dia mendengar Rio memohon pada kakeknya. Kalisa berpikir jika ada yang salah dengan dirinya, menganggap jika halusinasinya karena merindukan Rio, dia tidak menerima jika dia sebucin ini. Kalisa yang kesal, dia mendekati Rio yang berisik selangkah demi selangkah, kini dia tepat berada disamping Rio.
"Bayangan Mas Rio pergilah! Aku tidak mau dianggap gila karena terus melihatmu disini!"
Byur…
Air yang ada digelas milik Kalisa pun mendarat ditubuh Rio.
__ADS_1
Bersambung ….