
Kalisa mundur dan semakin mundur, dia merasa benar-benar terancam kali ini. Dia memeluk Fino dengan erat, takut anak itu sampai jatuh, atau bahkan direbut oleh sang penjahat.
"Kemarilah!" Ucap lelaki itu.
"Menjauhlah!" Jawab Kalisa.
Lelaki itu hanya menyambar cincin yang berada dijari manis Kalisa, sepertinya dia memang sedang terburu-buru. Cincin itu terlepas dengan mudahnya karena Kalisa lebih menyayangi nyawa Fino dan dirinya.
Syukurlah hanya cincin yang dia incar, batin Kalisa.
Kini Kalisa terduduk ditanah, dia merasa lemas karena kejadian tadi. "Fino…, kamu gapapa sayang?" Tanya Kalisa memastikan.
"Takut Bunna…," jawab Fino. Badan fino bahkan berkeringat.
"Kamu tenang ya..! Mereka sudah pergi," ucap Kalisa. Dia berdiri dengan menggunakan semua sisa kekuatannya, dia harus bertahan dan sampai diujung jalan sana, dimana dia bisa melihat keramaian.
Kaki itu melangkah selangkah demi selangkah, setengah jam berlalu tapi Kalisa tidak mau berhenti meski lelah. Dia tidak mau membuang-buang waktunya lagi, dia harus secepatnya kembali. Sesekali dia meneguk air putih yang dia bekal. Untung saja Fino tidak mengeluh, dia bahkan turun berkali-kali karena tidak mau menambah beban untuk Kalisa.
__ADS_1
***
Sementara itu dikediaman Rio. Lelaki itu sedang berada diruangan kerjanya, bukan dokumen yang dia pelajari tapi surat gugatan cerai yang dipandanginya sedaritadi.
Dia berkali-kali membaca surat itu, meyakinkan dirinya kalau isi surat itu bukanlah tentang perceraian yang diajukan Kalisa, tapi berkali-kali dibaca, isinya tetap sama.
Kalisa sepertinya benar-benar ingin terlepas dari status ini, apakah dia telah menemukan laki-laki baik? Aku rela jika lelaki itu memang tepat untuknya, batin Rio.
Dia membuka laci, mencari foto pernikahannya dulu dengan Kalisa. Dia terus mencarinya, ah.. dia lupa, dulu dia mbakar semua foto Kalisa tanpa tersisa. Dia lupa kalau dulu dialah yang membuang Kalisa, mungkin inilah saatnya dia mendapatkan karma itu. Dibuang oleh Kalisa saat dia ingin bersama wanita itu. Membangun rumah tangga lagi, yang lebih bahagia tentunya.
Sakit? Jelas itu terasa sakit, tapi… Rio menyadari satu hal. Dulu dia pernah menjadi manusia paling memuakkan untuk Kalisa, dan sekarang saatnya dia menuai semuanya. Penyesalan tiada guna, kini hidupnya terasa hancur. Felisha? Wanita itu bahkan mengkhianatinya dan mengandung anak yang entah siapa ayahnya.
Ruang kerja itu kedap suara, bahkan Felisha yang menguping dibalik pintu pun tidak mendengarkan apapun. Wanita itu begitu penasaran dengan keadaan Rio, dia ingin tahu reaksi suaminya setelah mendapatkan kejutan tadi sore.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Felisha mencoba mengetuk pintu, berpura-pura khawatir dan membawakan makan malam. Tapi pintu itu tidak terbuka. Felisha mengulang lagi apa yang dia lakukan tadi, berharap Rio membuka pintunya. Dia tidak mau Rio curiga jika Felisha tidak menemui suaminya itu.
Ceklek
"Ada apa?" Tanya Rio, kemudian menutup kembali pintu itu, dia kini berada diluar kamar. Dia tidak mau Felisha melihat kekacauan di dalam ruangan kerjanya.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu, ini makan malam mu yang terlewat sayang," ucap Felisha.
Rio menurut, dia akhirnya turun untuk makan malam, makanan yang dibawa Felisha dimakannya sampai habis. Felisha terlihat seperti sedang menghibur suaminya, tapi Rio enggan tersenyum. Baginya masalah Kalisa itu sungguh penting dan sangat mengganggunya. Dia mengirimkan beberapa orang suruhannya untukencari tahu sosok laki-laki pengganti dirinya.
***
Keesokan harinya saat Rio bekerja, dia mendapatkan kabar dari salah satu karyawannya kalau Kalisa hilang dan bahkan belum ditemukan. Ya… kasus Kalisa sudah sampai ke kantor polisi, karena Kalisa merupakan cucu Husen pengusaha terkenal maka kabar itu tersebar begitu cepat.
"Sejak kapan Kalisa hilang? aku harus menanyakan lebih jelasnya pada Riki," gumam Rio.
__ADS_1
Lelaki itu segera menyambar ponsel miliknya dan mencari nama Riki disana.
Bersambung…