
Selama dua bulan ini pun Kalisa lalui dengan berat hati, Bagaimana tidak? Dia tidak bisa menemui Fino setelah mengantarnya pulang ke Panti. Saat dia datang, ibu panti seolah melarang Kalisa bertemu dengan anak balita itu. Pernah suatu hari Kalisa nekat menemui Fino dengan beralasan ikut ke toilet sebentar agar bisa menemui Fino dikamarnya.
Namun, hati Kalisa semakin sakit saat Fino sendiri yang menolak kehadirannya.
"Fino, ini Bunna…, kamu sehat sayang?" Tanya Kalisa berbisik karena takut ketahuan ibu Panti. Ibu Panti memang mengatakan jika Fino belum bisa diganggu dan melarang Kalisa menemuinya.
"Bunna, kenapa Bunna ada disini?" Tanya Fino dengan memajukan mulutnya. Anak itu seakan sedang menaruh rasa kesal pada Kalisa.
"Jengukin kamu, Bunna kangen banget," jawab Kalisa sambil tersenyum. Kalisa berjalan menghampiri Fino, tapi anak itu malah mundur.
"Belhenti Bunna, Fino gak mau ketemu sama Bunna, Bunna jahat," ucap Fino.
Jelas Kalisa merasa sakit hati dengan apa yang diucapkan anak itu. Dia menghela nafas panjang dan mulai membujuk Fino.
"Sayang, Bunna jahat bagaimana? Bunna justru sayang banget sama Fino, makanya Bunna datang kesini."
"Kalau Bunna sayang Fino, Bunna pasti membawa Fino juga, tapi Bunna meninggalkan Fino disini, hiks…," ucap Fino kemudian menangis.
Kalisa bingung harus menjelaskan bagaimana lagi pada Fino. Anak itu tidak akan mengerti bahwa tidak semudah itu membawanya pergi. Tangisan Fino yang semakin mengeras terdengar oleh ibu Panti dan langsung menghampiri kamar Fino.
"Fino, kamu kenapa sayang?" Ucap ibu Panti lalu memeluk dan menggendongnya. Ibu Panti menatap Kalisa yang mematung disana.
__ADS_1
"Kalisa, ibu harap kamu mengerti dan tidak memaksakan Fino. Fino butuh waktu dan kamu juga butuh waktu untuk mengadopsi Fino. Jadi untuk sementara waktu ini, sebaiknya jangan temui dulu Fino, tunggu sampai dia tenang dan meminta menemuimu dengan sendirinya..!" Ucap ibu Panti.
"Maaf Bu, kalau begitu saya permisi ya Bu. Nanti saya datang lagi saat saya sudah memenuhi syarat pengadopsian Fino," jawab Kalisa.
"Ya, sebaiknya memang begitu," jawab ibu Panti. Memang Fino akan merasa sakit hati jika Kalisa hanya datang berkunjung lalu pergi. Dia akan senang kalau Kalisa datang dan membawanya pulang.
Sejak hari itulah Kalisa murung dan tidak bisa menemui Fino lagi. Kakek Husen dan Riki selalu berusaha menghiburnya, tapi tetap saja jika malam hari datang, dia akan menangis sendirian.
***
Disaat pagi datang, Kalisa sarapan bersama dua lelaki yang kini sangat berharga untuknya.
"Makan yang banyak!" Ucap Riki pada Kalisa, dia menambahkan nasi lagi ke piring Kalisa.
"Gapapa lah, nanti pipi kamu makin mengembang, lucu kan? Hehe…," goda Riki.
"Ih, gak lucu Mas," jawab Kalisa.
"Kalisa, apa kamu masih memikirkan Fino?" Tanya kakek Husen.
"Iya kek," jawab Kalisa pelan.
__ADS_1
"Kamu menikah saja, biar bisa mengadopsi Fino!" Ucap Kakek Husen pada Kalisa, membuat Kalisa menatap kesal pada sang kakek.
"Mana bisa kek, sama siapa? Mas Riki aja yang nikah, nanti Mas adopsi Fino dan bawa kemari..!" Ucap Kalisa memandang Riki dengan mengedip-ngedipkan matanya.
"Hmm, memangnya kamu mau Fino diadopsi sama Mas? Kalau nanti istri Mas membawanya jauh dari kamu, bagaimana?" Tanya Riki.
Kalisa terdiam, dia membuang nafas dengan kasar dan melanjutkan acara sarapannya. Hari ini dia akan pergi ke salah satu klinik milik kakeknya. Ikut membantu merawat pasien disana, klinik kakek memang memberikan layanan gratis bagi yang kurang mampu. Kalisa akan senang membantu disana sebagai relawan. Meski terkadang dia merasa sedih teringat Fino saat melihat balita lelaki seusia Fino.
"Kakek juga mau ke klinik bareng sama kamu, boleh kan?" Tanya kakek Husen.
"Boleh dong kek," jawab Kalisa sambil tersenyum. Mereka berdua memang sering habiskan waktu bersama.
***
Hari berganti hari hingga tibalah saatnya hari dimana Rio bisa mengetahui hasil tes DNA anak yang baru dilahirkan Felisha.
"Kamu yang kuat ya Rio. Apapun hasilnya, kamu harus siap menerimanya..! Jika itu anakmu, maka kamu harus berusaha memperbaiki rumah tanggamu dengan Felisha. Mamah tidak mau jika dia membawa pergi cucu Mamah..!" Ucap Bu Riani.
Rio tak menjawab karena itulah yang dia khawatirkan. Dia lebih berharap jika itu bukan anaknya karena perasaannya telah mati untuk Felisha, dia merasa sudah tidak ada yang bisa diperbaiki lagi.
Rio bangkit dari tempat duduknya saat seseorang memanggil namanya, menyerahkan amplop berisi hasil tes DNA itu. Rio kembali duduk, tangannya bergetar saat ingin membuka isi amplop itu. Bu Riani mencoba menguatkan snag anak, Riani yang penasaran tentu tak sabar melihat hasilnya.
__ADS_1
"Buka saja sekarang Rio! Kamu harus siap. Entah sekarang ataupun nanti, hasilnya sama saja. Mamah benar-benar penasaran," ucap Riani yang bahkan tangannya seakan ingin merebut amplop itu.
Bersambung….