
Gerhana berpikir sejenak, "begini saja, karena itu hanya bawaan bayi, kamu boleh pergi ke kantor, kamu bisa bekerja sebagai sekretaris disana, yang penting kan kamu kerja kantoran, dan kamu tidak perlu bekerja keras karena sudah ada sekretaris handal yang Papah pekerjakan," ucap Gerhana.
"Bener Fel, kamu gak usah beneran kerja, kasihan kan kalau sampai kecapekan, yang penting bawaan bayi kamu kesampean," jawab Riani.
"Emm, iya," jawab Felisha dengan terpaksa padahal dia ingin mengambil alih perusahaan Rio karena dia merasa berhak menggantikan Rio sebagai istrinya.
Aku harus memastikan jika anak ini benar anak Rio, anak ini harus mendapatkan warisan Rio, sekalipun jika sebenarnya ini anak Gani, aku harus membuat anak ini tetap jadi anak Rio, batinnya.
Felisha memilih pulang karena dia kesal tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau, tapi setidaknya dia bisa masuk ke dalam perusahaan Rio untuk memulai rencananya.
***
Kalisa masih tetap bekerja sebagai rasa tanggung jawabnya, dia juga menikmati bisnis yang dia geluti sekarang karena itu sekaligus menyalurkan hobinya.
Riki belum menghubunginya lagi, dia akan berusaha menjaga jarak dan menganggapnya hanya partner bisnis, semalam Riki bercerita jika dia bertemu ibu panti dan mendengar masalah adopsi Fino, makanya Riki berinisiatif menikahi Kalisa untuk hak adopsi itu.
"Bagaimana bisa dia berpikir sejauh itu, sampai mengajakku menikah demi hak Adopsi Fino, dia pikir pernikahan itu main-main? Bahkan aku masih berstatus istri Rio, aku juga bingung apakah aku harus mengajukan gugatan cerai atau tidak? Tapi aku masih mau menunggu mas Rio bangun dari komanya dulu," gumam Kalisa.
"Bunna, Bunna bicala sama siapa?" Tanya Fino, padahal dia tahu kalau Kalisa sedang bergumam tentang rumitnya masalah yang dihadapi kali ini.
"Fino dengar? Bunna gak bicara sama siapapun kok, hanya, emm… sudahlah, apa kamu lapar Fino?" Tanya Kalisa mengalihkan pembicaraan, dia tidak mungkin juga menjelaskannya pada anak balita yang tidak akan mengerti.
Fino pun mengangguk, Kalisa pun membawa Fino masuk dan mengajaknya makan di dalam, di ruangan khusus untuk karyawan.
__ADS_1
Kalisa menyuapi Fino dengan tersenyum dan tidak terlihat kesedihan di wajahnya, tentu dia berusaha agar terlihat baik-baik saja.
Apakah Kalisa mau menikah dengan Riki? Bukankah lelaki itu sangat baik pada Kalisa, dan ini demi Fino juga, kurasa dia akan segera mengurus surat perceraian kami, buat apa juga dia mempertahankan lelaki sepertiku yang jelas-jelas membuatnya tersiksa, batin Rio (Fino).
***
Tanpa diduga saat malam tiba, Riki datang untuk mengecek bisnisnya dan juga mengantar Kalisa seperti biasanya.
"Mas, tentang masalah kemarin–," belum sempat Kalisa menyelesaikan ucapannya, Riki segera memotong pembicaraan itu, "untuk masalah kemarin aku benar-benar minta maaf Kalisa dan aku harap kamu bisa tetap bisa bekerja sama dalam bisnis kita ini..!"
"Hmm, baiklah…," jawab Kalisa, ya… lebih baik memang seperti ini agar aku tidak merasa canggung, pikir Kalisa.
Aku tidak boleh terburu-buru dan egois seperti semalam, aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap Kalisa, pikir Riki.
Fino yang semakin tidak suka pada Riki setelah tahu pria itu begitu serius dengan istrinya itu, dia cemberut saat disapa oleh Riki, bahkan dia tidak menjawab pertanyaan dari Riki.
"Fino…, gak boleh gitu sayang, om Riki tadi kan nanya sama Fino, jawab dong sayang..!" Ucap Kalisa membujuk anak itu, dia merasa sedikit tidak enak hati.
"Udah gapapa Kalisa, mungkin Fino sedang tidak bersemangat jadi dia malas berbicara, anak kecil memang kadang suka begitu," ucap Riki sambil tersenyum.
Mereka pun pergi menuju mobil Riki, Kalisa tidak menolak saat lelaki itu menawarkan tumpangan karena dia sedang berusaha bersikap seolah tidak terjadi apapun diantara mereka.
Namun di tengah jalan, mereka mengalami kendala macet parah karena terjadi sebuah kecelakaan, Riki bergegas turun untuk melakukan pertolongan pertama pada korban, nalurinya sebagai dokter muncul, Kalisa pun mengikuti Riki keluar mobil dengan membawa Fino.
__ADS_1
Kerumunan itu ternyata semakin banyak membuat Kalisa berpikir untuk masuk ke dalam mobil lagi, namun disaat itu dia mendengar suara Felisha berteriak.
"Pak polisi cepetan dong ini benerin jalannya, saya mau lewat, saya sedang buru-buru, apa kalian tidak melihat kalau saya sedang hamil dan butuh prioritas?" Ucap Felisha pada polisi lalu lintas.
"Iya Bu, harap bersabar..! Kami juga sedang berusaha keras, karena ibu sedang mengandung sebaiknya menunggu di dalam mobil saja, itu lebih aman..!" Ucap pak polisi.
"Kalau saya masuk, kerja kalian akan semakin lelet," jawab Felisha menolak.
Dia polisi itu hanya menggelengkan kepalanya, mereka tidak habis pikir ada wanita seperti Felisha, dua polisi itupun melanjutkan pekerjaannya.
Bukankah dia tahu kalau ada kecelakaan, bukannya bersimpati malah mementingkan diri sendiri, pikir Kalisa.
Felisha yang kesal dengan kemacetan itu dia refleks menendang ban mobilnya, namun itu membuat Felisha terjatuh, dia meringis kesakitan memegangi perutnya.
"Aduh, perutku… perutku sakit, tolong aku..!" Teriak Felisha, membuat dua polisi tadi menghampirinya dengan panik, mereka melihat jika ada bercak darah disana karena baju Felisha yang berwarna putih membuat darah merah itu semakin jelas terlihat.
Riki yang telah selesai dengan korban kecelakaan tadi bersamaan datangnya ambulan, dia kini dihampiri oleh salah satu polisi itu, "anda seorang dokter?"
"Iya, memangnya ada apa?" Tanya Riki bingung.
Pak polisi lalu lintas itu langsung menarik lengan Riki hingga sampai dimana disana ternyata ada Kalisa juga.
Bersambung…
__ADS_1