Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Menguping


__ADS_3

Riki akhirnya datang, "Fino, kenapa kamu malah diam disini?" Tanya Riki.


"Om, aku tidak bisa masuk ke dalam, pintunya kan tinggi Om," keluh Fino, Riki Riki… apa kamu tidak berpikir membawaku masuk ke dalam tadi, malah bertengkar dengan Mamah dan berlalu pergi, keterlaluan, batin Rio.


"Aduh Om lupa, maaf ya Fino, ayo masuk sama Om..!" Ajak Riki senang menggandeng tangan Fino, sebenarnya Rio (Fino) tidak mau berdekatan dengan Riki, namun dia setidaknya harus berpura-pura menjadi Fino yang manis.


"Bunna….," Ucap Fino berlari mendekati tubuh Kalisa.


"Fino…, kamu udah makan belum? Ini ada buah-buahan kamu makan ya..!" Ucap Kalisa, lagi-lagi dia merasa bersalah karena tidak bisa merawat Fino, bahkan dia tidak tahu Fino sudah makan atau belum.


Riki berniat membantu mengupas buah yang ada di meja untuk Fino, "tidak usah Om, Fino bisa sendili," ucap Fino (Rio) menolak.


"Ini pisau, bahaya Fino, biar Om yang kupasin buat kamu," ucap Riki yang membuat Fino menyerah dan membiarkan Riki melayaninya.


Fino mendekatkan dirinya pada Kalisa, "Fino…, maaf ya sayang, kamu jangan terlalu dekat sama Bunna, takut kamu tertular demam..!" Ucap Kalisa dengan nada lembut.


"Iya Bunna," jawab Fino dengan wajah kecewanya, padahal dia ingin memberi semangat untuk Kalisa dengan ada di dekatnya, namun memang anak balita yang daya tahan tubuhnya masih lemah suka tertular jika ada yang sakit.


***


Saat sore tiba, Gerhana yang akan pulang menyempatkan diri untuk mampir sebentar menjenguk Kalisa.


Ceklek


Pandangan Kalisa langsung tertuju pada lelaki itu, "Papah…, masuk Pah..!" Ucap Kalisa.


"Ini Papah bawain buah-buahan buat kamu, kamu sakit apa?" Tanya Gerhana.

__ADS_1


"Aku cuma demam Pah, mungkin karena kelelahan," jawab Kalisa.


"Cepet sembuh ya, maaf Papah gak bisa lama-lama," ucap Gerhana.


"Fino, kamu jagain Bunna ya, dan jangan nakal..!" Ucap Gerhana sambil tersenyum, dia sedikit mengacak-ngacak rambut Fino.


Ceklek


Terdengar suara pintu terbuka, Riani menghampiri suaminya dengan langkah cepat lalu dia manarik lengan suaminya itu, "ayo Pah..! Biarin aja lah Pah, Kalisa kan sudah punya calon suami yang akan menjaganya, memang wanita tidak baik dia Pah, belum resmi bercerai dengan Rio saja, dia sudah dekat dengan lelaki lain dengan hubungan seserius itu," ucap Riani sinis.


Deg


Hati Kalisa benar-benar sakit, dia mendapatkan penghinaan dari seorang wanita yang bahkan telah dianggapnya seorang ibu, lagi dan lagi dia mendapatkan perlakuan buruk dari Riani untuk kesekian kalinya.


Kalisa menatap kepergian ayah dan ibu mertuanya dengan rasa sedih, terluka, sampai dia meneteskan air mata, dengan terburu-buru dia menghapus air mata itu, dia baru sadar kalau di ruangan itu ada Riki dan Fino.


"Hmm, iya Mas, hanya saja ini terasa keterlaluan kalau Mamah sampai mengira aku akan menikah lagi dan punya calon suami disaat mas Rio lagi koma dan bahkan aku belum mengurus surat cerai," ucap Kalisa.


"Bunna, Om Liki yang bilang kalau Om calon–," ucap Fino yang belum tuntas dan malah di sela oleh Riki karena takut Kalisa tahu.


"Fino, kita keluar yu beli makanan, kamu mau ice cream tidak?" Tanya Riki lalu menggendong Fino.


Apa-apaan dia, aku belum selesai berbicara juga malah dipotong seenaknya begitu, padahal kan ini bermula karena omongan dia, batin Fino.


Fino ingin berontak dan turun dari pangkuan Riki, namun dia harus berpura-pura sebagai Fino yang polos.


"Kalisa, aku keluar sebentar ya bersama Fino, kamu istirahat saja dan jangan terlalu banyak pikiran, apalagi yang tidak penting..!" Ucap Riki.

__ADS_1


"Iya," jawab Kalisa sambil mengangguk kecil.


***


Keesokan harinya, Riani datang ke ruangan Felisha untuk mengantarnya pulang karena hari ini hari terakhir dia dirawat, dia memutuskan pulang dan bedrest di rumah.


"Kok terbuka? Apa ada yang mengunjungi Felisha, bukannya orang tuanya ada di luar negeri ya?" Gumam Riani sambil berjalan mendekati pintu.


Namun dia mendengar suara lelaki yang tak asing di dalam sana, dia ingin masuk, namun sebuah pernyataan mampu membuat Riani syok, dia terdiam menguping dibalik pintu.


"Bagaimana keadaan bayi kita? Kalian baik-baik saja kan?" Tanya lelaki itu.


"Aku baik, jangan sebut anak ini anak kita, aku yakin dia anak Rio!" ucap Felisha.


"Bukannya kamu bilang kamu lebih mencintaiku dan selalu puas jika bermain di ranjang bersamaku? kita sering melakukan hal itu, aku yakin dia anakku" Tanya lelaki itu.


"Ssttt… jangan terlalu keras, oke oke, aku akui aku memang lebih nyaman denganmu, kamu lebih perhatian dari pada Rio yang so sibuk itu, tapi untuk saat ini kita harus memanfaatkan keadaan, bukankah anak ini akan mewarisi kekayaan Rio, jadi kami ikuti saja rencana ku, kamu juga akan kecipratan kok tenang saja..!" Ucap Felisha.


"Apa kamu akan kembali pada Rio jika dia bangun?" Tanya lelaki itu.


"Kami percaya saja kalau hatiku tetap untukmu, aku hanya ingin hartanya saja, sayang bukan? Lagipula aku tidak yakin dia akan bangun," ucap Felisha.


Terdengar suara benda yang terjatuh di luar kamar, membuat lelaki itu dengan segera mengecek keadaan diluar, namun dia tidak menemukan sesuatu, hanya tong sampah yang jatuh, lelaki itu mengira jika ada suster lewat dan tak sengaja menabraknya, karena banyak orang berlalu lalang.


Riani yang bersembunyi, dia memegang tasnya dengan gemetar, dia berniat pulang namun kakinya terasa masih lemas sulit untuk digerakan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2