Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Dirobek


__ADS_3

Perlahan Rio membuka amplop itu, menarik kertas putih didalamnya. Dia bersiap-siap membuka lipatan itu, tapi sayang… Felisha datang dan langsung merobek kertas itu tanpa melihat hasilnya. Merobeknya hingga sobekan terkecil, meremasnya kemudian membuangnya ke tempat sampah.


Rio tak sempat menghentikan istrinya itu karena gerakan yang tiba-tiba. "Felisha, apa yang kamu lakukan hah? Bahkan aku belum sempat membacanya."


"Kamu yang keterlaluan Rio. Aku baru saja melahirkan, tapi kamu malah menuduhku yang macam-macam," jawab Felisha.


"Kalau kamu yakin tidak berselingkuh dari anakku, seharusnya kamu tidak usah khawatir begitu, dan biarkanlah kami mengetahui hasilnya," ucap Riani yang merasa geram. Dia baru saja ingin menghilangkan rasa penasarannya, tapi menantunya yang licik malah mengacaukannya.


"Aku yakin Mah ini anak Rio, justru Rio yang seharusnya Mamah nasehati agar tidak selalu mengingat mantan istrinya itu..! Dan kamu lihatlah sendiri anak kita, dia begitu mirip denganmu, mana mungkin dia anak orang lain!" Ucap Felisha penuh penekanan, dia berbalik dan pergi ke ruangannya lagi.


"Ya ampun, darah tinggi Mamah bisa kumat Rio kalau berhadapan dengan istrimu itu," keluh Riani.


Rio hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan sang ibu. Dia malah menatap kertas yang sudah hancur itu dengan tatapan kesal. Kesal karena Felisha membuatnya harus melakukan tes DNA ulang.


"Oh iya Rio. Maksud Felisha tadi itu apa? Kamu dan Kalisa sudah resmi bercerai?" Tanya Riani.


Rio mulai merespon saat mendengar nama wanita yang kini menempati hatinya, wanita yang sekarang dia sesali kepergiannya. Dia kini menatap wajah sang ibu dengan lekat. "Iya Mah, Kalisa yang menginginkannya. Aku tahu aku hanya luka baginya, biarkanlah dia menemukan kebahagiaannya dengan orang lain..!"  


"Apa kamu yakin rela?" Tanya Riani.

__ADS_1


"Rela gak rela, tapi aku tidak boleh egois kan Mah?" Tanya Rio.


Riani mengangguk pelan, meski Riani ingin Kalisa juga kembali menjadi menantunya, tapi dia tidak bisa memaksa terlebih dia juga pernah tidak percaya dan menyakiti kalisa. Mereka pun pergi menuju ruangan bayi untuk melihat lagi bayi mungil itu, ingin membandingkannya dengan wajah Rio. Mereka melihat dari bagian luar, mata mereka menerawang ke kaca ruangan yang transparan itu. Kebetulan sekali bayi Felisha ada didekat jendela kaca depan.


"Menurut Mamah, apa dia mirip aku?" Tanya Rio memandang bayi perempuan yang diletakan di box bayi dengan nama ibu Felisha dan ayah Rio.


"Hmm, biasanya kalau anaknya cewek suka mirip ayahnya. Coba kamu lihat, apa hidungnya semancung hidungmu..!" Jawab Riani.


"Mana ada Mah, kan cewek cantik, masa mirip ayahnya," ucap Rio menyangkal, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya.


"Mamah serius Rio. Ini bukan mitos, tapi memang kebanyakan seperti itu," jawab Riani meyakinkan anaknya.


Coba aku lihat, apa dia mirip Rio atau Gani ya?, Batin Rio dan Riani. Mereka memikirkan hal yang sama, tapi saling menutupi masalah ini karena merasa belum punya cukup bukti.


"Ish, bikin kaget aja deh kamu Rio. Mamah lagi serius liatin bayinya, bayi yang kemungkinan cucu Mamah. Oh iya, menurut kamu jika itu bukan anakmu, lalu itu anak siapa?" Tanya Riani.


"Ya selingkuhannya Felisha lah Mah, Mamah gak akan menyangka jika Rio memberitahu Mamah siapa lelaki itu, ah paling Mamah gak akan percaya," jawab Rio. Karena setahu dia, Gani lumayan dekat akhir-akhir ini dengan ibunya. Ya… karena memang di setiap ada acara yang melibatkan Felisha, maka orang itu selalu ada, termasuk saat Rio sedang koma. Riani merespon kehadiran Gani dengan baik dan positif selama ini.


"Sebelum Rio kecelakaan, laki-laki yang bersama Felisha itu–," jawab Rio yang ragu.

__ADS_1


"Gani kan?" Ucap Riani tiba-tiba.


"Kok Mamah tahu? Aku kira Mamah masih bersikap baik padanya karena tidak tahu, lalu kenapa Mamah masih bersikap baik padanya?" Tanya Rio, dia kecewa.


"Ada alasan dibalik itu semua, lebih baik kamu tes DNA ulang aja Rio. Mamah gak bisa membedakan hidung bayi itu mirip kamu atau dia, matanya mirip kamu atau dia, pusing Mamah," keluh Riani.


Rio sedikit tertawa melihat tingkah ibunya itu, dia memang berencana melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Rio takut kejadian tadi terulang lagi, atau malah hasilnya bisa disabotase oleh Felisha.


***


Tak berselang lama, terlihat suster mengantarkan bayi yang sudah dimandikan untuk diberikan pada Felisha agar diberikan ASI. Terlihat wajah Felisha yang kurang suka, "kenapa gak dikasih sufor aja sih suster!" Keluh Felisha.


"Karena ASI anda lancar Bu, jadi dokter menyarankan full ASI," jawab suster itu.


Suster memberikan bayi cantik itu ketangan Felisha, rasanya sakit, aku juga tidak mau aset berhargaku kendor gara-gara bayi ini, batin Felisha.


Namun saat terlihat dua orang memasuki ruangan itu, Felisha memaksakan senyumannya, dia berpura-pura bahagia memberikan ASI nya pada bayinya dihadapan Rio dan Riani. Felisha harus berakting menjadi ibu yang penyayang.


Saat Felisha sudah tidak melihat kehadiran suami dan mertuanya, dia mengacuhkan bayi itu. Felisha sepintas melihat wajah Gani saat menggendongnya, itu membuatnya frustasi.

__ADS_1


Felisha mengingat kertas hasil tes DNA tadi, "ah… kenapa tadi aku langsung merobeknya? Harusnya aku lihat dulu hasilnya walau sekejap," gumam Felisha pelan. Dia meremas bantal yang ada didekatnya dengan sangat kuat.


Bersambung …


__ADS_2