
Rio memberanikan diri datang ke kediaman Husen sore hari saat dia pulang dari kantor. Dia berharap Riki tak ada disana, karena lelaki itu pasti akan menyulitkannya. Riki seolah menjauhkan adiknya itu dari Rio.
Benar saja, keberuntungan sedang berpihak pada Rio. Di rumah hanya ada Kalisa dan para pembantu saja, Husen sedang pergi ke luar kota selama seminggu, sementara Riki belum pulang dari kliniknya.
Kalisa terkejut dengan kedatangan Rio yang tiba-tiba itu, meski dia sempat bertemu terakhir kali saat di Rumah Makan seminggu yang lalu. "Mas Rio, ada perlu apa ya datang kemari ?" Tanya Kalisa.
"Apa aku tidak dipersilahkan masuk dulu?" Tanya Rio sambil tersenyum.
Senyuman Rio membuat perasaan Kalisa menjadi sedikit aneh, tak pernah dia melihat Rio tersenyum tulus dan manis seperti itu. Dulu hanya cacian, dan hinaan yang keluar dari mulut lelaki itu. Kalisa mengajak Rio duduk di kursi teras rumah. Dia tidak mau menimbulkan fitnah karena status Kalisa yang janda sekarang.
"Jadi langsung saja Mas, ada apa kemari?" Tanya Kalisa penasaran.
Rio pun membahas mengenai penculikan itu, dia bertanya kenapa Kalisa tidak melaporkan Felisha ke polisi, padahal Husen orang yang cukup mampu untuk menyewa pengacara terkenal sekalipun.
Kalisa diam, hingga akhirnya dia buka suara.
"Ini ada kaitannya dengan Fino Mas, Fino yang menjadi taruhannya. Kamu tidak tahu seberapa spesialnya hubungan aku dan Fino. Aku tidak bisa mengadopsi Fino begitu saja, dan Felisha yang memenuhi persyaratan pengadopsian, dia mengancam akan mengadopsi Fino dan menjauhkannya dariku, bahkan membuat Fino tersiksa tinggal bersamanya."
"Apa? Aku tak menyangka pikiran Felisha bisa sampai tega melibatkan anak kecil. Aku tahu Fino begitu berarti buat kamu Kalisa. Aku melihat cinta kalian berdua yang tulus.
Hmm …, kamu tidak usah khawatir. Aku tidak akan menyetujui pengadopsian Fino jika Felisha meminta tanda tanganku." Ucap Rio meyakinkan.
__ADS_1
"Felisha itu licik Mas, dia bisa melakukan cara lain agar mendapatkan Fino. Sudahlah… aku sudah melupakan penculikan itu, aku tidak mau menyimpan dendam dihati karena itu akan membuat tubuhku malah menimbun penyakit. Aku mencoba menerima semua itu sebagai takdirku Mas," jawab Kalisa.
Setelah mendengar jawaban dari Kalisa, Rio tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dia juga belum mampu mengatakan kalau dia ingin rujuk, karena dia belum merasa pantas bersama Kalisa. dia harus melakukan banyak pengorbanan untuk menebus kesalahannya pada Kalisa.
Rio berniat pulang, tapi dia mendapatkan kabar kalau hasil tes DNA telah keluar. Rio yang penasaran, segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
***
Rio menunggu 10 menit disana, dia seperti telah menunggu dua jam. Waktu berlalu begitu lama untuknya yang sedang penasaran ini. Dia tidak memberitahu Riani ibunya tentang hal ini, karena dia ingin melakukan tindakan terlebih dahulu, dia ingin memastikan dulu itu anak siapa.
Terdengar namanya dipanggil, Rio mulai gugup. Rasanya hidupnya dipertaruhkan dengan surat yang ada di tangannya. Dia berharap semua akan berjalan sesuai dengan apa yang direncanakannya sebelumnya.
Amplop itu dia robek di bagian ujungnya, menarik kertas putih didalamnya dengan perlahan dan hati-hati. Dia menghentikan aktivitas itu sejenak, "bagaimana kalau dia memang anakku? Tapi aku Tidak mau hidup bersama Felisha lagi," gumam Rio.
***
Sesampainya di rumah, Rio berteriak memanggil nama istrinya itu.
"Felisha…, Felisha…," teriak Rio.
"Rio, kamu pulang ko malah teriak-teriak sih, nanti anak kamu bangun lagi, ibu susah payah menidurkannya," keluh Riani yang sedang menggendong bayi itu.
__ADS_1
Terlihat Felisha yang keluar dari kamarnya, semula memang kamarnya berada dilantai dua. Tapi semenjak pulang dari Rumah Sakit, Riani menyuruh menantunya itu pindah kamar agar tidak perlu menaiki tangga, itu tidak baik untuk ibu yang baru melahirkan.
"Ada apa Mas?" Tanya Felisha.
"Kamu begitu yakin anak ini anak aku kan?" Tanya Rio.
"Iyalah, itu anak kamu. Anak siapa lagi, aku bosan membahas masalah yang sama Rio," jawab Felisha.
"Ck, jika ini bukan anakku, apa kamu siap keluar dari rumah ini, dan aku akan segera mengurus perceraian?" Tanya Rio.
Tidak, aku tidak mau hidup di jalanan. Orang tuaku entah dimana, mereka buronan polisi dan kabur ke luar negeri. Gani sudah tidak bisa diandalkan lagi, karirnya hancur dan dia mendekam di penjara karena kasus obat terlarang, lalu aku harus kemana? Bain felisha.
"Rio, dia anakmu. Aku tidak pernah berselingkuh," jawab Felisha.
Hingga sedetik kemudian dia melemparkan hasil tes DNA itu diatas meja. "Lihatlah, dan bacalah!" Perintah Rio pada Felisha.
Felisha membacanya, tubuhnya mulai lemas terasa tak berpijak. Tubuhnya ambruk di lantai, Riani begitu kaget tapi dia tidak bisa membantu karena dia juga sedang menggendong bayi.
Felisha mulai berlutut dan memohon belas kasihan Rio, "Rio maafkan aku, aku sedang khilaf waktu itu. Aku tidak mau bercerai, hiks… lihatlah bayi itu membutuhkan keluarga yang utuh..! Setidaknya kamu mengasihani dia, aku akan berubah Rio. Aku berjanji padamu, kita perbaiki rumah tangga kita dari awal," ucap Felisha berlutut sambil menangis.
Riani ikut menangis, dia tidak tega membayangkan bayi itu harus hidup bersama Felisha. Dia tidak yakin Felisha akan mengurus bayi itu dengan baik. Riani memeluk bayi itu dengan erat, Riani terlanjur senang dan menganggap bayi itu sebagai cucunya, sementara Rio terlihat diam seperti masih memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Bersambung…