Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Kebaikan Riki


__ADS_3

Saat Kalisa melihat ke arah belakang ternyata itu hanya suster, "saya sepertinya salah kamar sus, saya permisi," ucap Kalisa, dia bergegas pergi dari sana.


Namun alangkah sialnya saat dia sudah keluar dari ruangan itu dan tak jauh darisana, dia malah menabrak seseorang yang dia tidak suka.


"Kalisa, astaga kamu ngapain lagi sih disini? Apa kamu mau berusaha mencelakai Rio lagi hah?" Tanya Felisha dengan tuduhan yang disengaja itu, karena dia tahu bahwa ada orang tua Rio dibelakangnya tak jauh dari posisi Felisha berdiri.


"Maksud kamu apa?" Tanya Kalisa yang bingung, dia tidak mengerti kenapa wanita itu seakan menumpahkan kesalahan itu padanya, padahal itu kan kecelakaan tunggal yang bahkan saat kejadian dia sudah pergi meninggalkan Rio.


"Jangan so polos deh kamu, aku tau semuanya kok, untung kamu tidak dipenjarakan karena kami kekurangan bukti, kita tunggu sampai Rio sadar dan memperkarakan kamu!" Ancam Felisha.


"Felisha, sudahlah tidak perlu meladeni wanita itu lagi, ayo masuk..!" Ucap Bu Riani, dia mendengar semua yang dikatakan Felisha karena suaranya yang nyaring, dia lebih percaya pada Felisha dibandingkan kalisha.


Sementara Pak Gerhana menatap wajah Kalisa dengan tatapan bingung, jauh di dalam hatinya dia yakin Kalisa anak yang baik, namun untuk saat ini dia tidak ingin mempercayai siapapun sebelum anak lelakinya sadar dari koma dan menceritakan semuanya.


Pak Gerhana berlalu pergi meninggalkan Kalisa tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Kalisa menunduk, dia merasa patah hati karena diabaikan oleh pak Gerhana yang telah dianggapnya sebagai ayah sendiri, dia juga kecewa pada Bu Riani yang lebih percaya pada Felisha.


Kasian Kalisa, padahal dulu papah sangat membanggakan dia, tapi gara-gara aku dia jadi kehilangan segalanya, batin Rio (Fino)


Kalisa memilih pulang, namun saat dia berniat menaiki angkutan umum, ada telepon dari Riki, dia akan menjemput Kalisa dan juga Fino.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya mobil Riki datang, dia mengajak Kalisa dan Fino masuk, bahkan mengajak mereka makan siang terlebih dahulu diluar.


Rio suka dengan makanan enak di Restoran yang sudah lama tidak bisa dirasakan, namun dia tidak suka dengan sikap Riki yang seolah mendekati Kalisa, entah mengapa Rio merasa kesal.


Aku tidak cemburu, aku hanya tidak suka saja dengan si Riki ini, batin Rio (Fino).

__ADS_1


Rio yang memiliki tubuh Fino itu dia dengan sengaja duduk diantara Riki dan Kalisa agar mereka tidak saling berdekatan.


"Bunna, aku mau duduk deket sama Bunna," ucap Fino yang terdengar manja sebagai seorang anak balita, dia begitu menggemaskan di mata Kalisa, begitupun dengan Riki, dia suka sekali anak-anak dia tidak pernah berpikir kalau Fino tidak suka dengan kedekatannya dengan Kalisa mengingat Fino hanya balita yang tidak tahu apa-apa.


***


Riki mengantar mereka sampai ke kontrakan, lelaki itu membeli beberapa mainan untuk Fino, dia begitu memperhatikan anak balita itu.


"Bilang makasih dulu dong sayang sama om dokternya..!" Ucap Kalisa.


Fino tidak bisa menolak, karena itu pasti akan membuat Kalisa curiga, dengan terpaksa Fino pun mengucapkan kata yang sebenarnya tidak ingin diucapkan.


"Makasih om doktel…," ucap Fino datar tanpa tersenyum, meski begitu Riki tatap menganggap anak itu mengucapkannya dengan tulus, Riki memeluk Fino sesaat lalu berpamitan pada Kalisa.


Kalisa merasa sangat lelah, rasanya ingin langsung merebahkan diri diatas ranjang, namun Kalisa harus memberi Fino obat dan membacakan anak itu dongeng sebelum tidur.


Kalisa merasa tidak tega dengan rasa sakit yang dirasakan Fino, dia mengelus-ngelus kaki Fino, meniupnya berkali-kali dengan lembut dan berusaha menenangkan Fino, membuat rasa sakit itu agar terasa lebih baik.


Fino tersenyum, terimakasih Kalisa, batinnya.


Lama kelamaan Fino pun tertidur dengan rasa nyaman yang dia dapatkan, Kalisa bahkan sempat ikut tertidur sambil terduduk, saat dia sadar ada yang bergetar disakunya dia terbangun dan melihat ponselnya.


Kalisa bangkit dan mengangkat telepon itu, "hallo, siapa ya?" Tanya Kalisa karena nomor itu nomor baru.


"Ini ibu Kalisa, ibu panti, bagaimana keadaan Fino, kapan kalian kembali? Ibu dapat nomor kamu dari dokter Riki yang tadi sempat datang dan memberikan sumbangan juga hadiah untuk anak-anak panti," ucap Bu Rosi.


"Fino, dia masih belum bisa pulang Bu, kemungkinan kami akan sedikit lama disini, tidak apa-apa kan Bu?" Tanya Kalisa.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, yang penting Fino sembuh, kamu jaga diri baik-baik Nak, dan maafkan ibu karena tidak bisa membantu kamu, apakah uang kamu sudah habis? Ibu usahakan nanti kirim uang untuk biaya pengobatan Fino," ucap Bu Rosi.


"Ibu tidak usah khawatir, uang Kalisa cukup ko Bu, Kalisa juga akan mencari pekerjaan sampingan disini," jawab Kalisa, sebenarnya dia juga merasa khawatir dengan pengobatan Fino, sedangkan untuk makanan ada Riki yang menyediakan segalanya.


"Syukurlah kalau begitu, ini sudah malam, kamu sebaiknya istirahat Nak..!" Ucap bu Rosi.


"Iya Bu, terimakasih untuk semuanya," ucap Kalisa.


Setelah selesai menelepon, Kalisa mulai mengisi perutnya dengan makanan yang ada, kemudian mengecek ponsel itu, ada pesan dari Riki juga yang mengatakan jika besok dia akan mengantar Fino mengambil hasil rontgen.


Kalisa bingung, dia tidak membalas pesan itu, dia malah duduk di luar kontrakan, menatap langit hitam penuh bintang.


Sebenarnya dia sangat terbantu dengan kehadiran Riki,  dia tidak mau jika terlalu bergantung pada orang lain apalagi seorang lelaki yang baru dia kenal, tapi keadaan Fino memaksanya untuk menerima semua bantuan itu.


***


Keesokan harinya mereka sudah sampai di Rumah Sakit, Riki juga ikut mengantar, dokter mengatakan jika Fino sebaiknya dirawat selama seminggu, agar pemulihannya cepat dan bisa dipantau langsung oleh dokter.


"Kalau itu yang terbaik, Fino sebaiknya dirawat saja agar pemulihannya maksimal," ucap Riki pada Kalisa yang sedang bimbang itu.


"Tapi, aku tidak mempunyai cukup biaya, bisa saja aku bekerja, tapi bagaimana dengan Fino, siapa yang akan menjaganya?" Keluh Kalisa.


"Jangan panggil dokter, panggil saja Riki kalau saya sedang tidak praktek, untuk masalah biaya biar saya yang menanggungnya kamu tidak usah khawatir," ucap Riki.


Apakah aku harus terpaksa menerima kebaikannya lagi? Tapi… ini demi Fino juga, pikir Kalisa.


Sebaiknya aku dirawat dan tinggal di kota, agar aku bisa mengetahui keadaan tubuhku yang asli dan aku bisa menemukan cara agar aku bisa kembali, pikir Rio (Fino)

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2