
Tanpa menanyakan lebih jelas, Rio mengikuti nalurinya yang langsung mencari Kalisa. Dia sempat bertanya kepada pihak yang berwajib mengenai dimana titik Kalisa menghilang dan dia pun mulai mencari dengan beberapa bantuan orang-orangnya juga. Mereka berpencar mencari secara terpisah.
"Kamu dimana Kalisa? Semoga kamu baik-baik saja," gumam Rio.
Dia yang khawatir terus mencari keberadaan Kalisa meski dia tahu dia tidak akan bisa bersama wanita itu lagi. Setidaknya dia bisa menebus kesalahannya dimasa lalu dengan berbuat baik pada wanita yang dia sakiti itu.
Dua jam dia mencari hingga dia menemukan seseorang berjalan kearah berlawanan, terlihat jika itu seorang wanita dan balita digendong dibelakang punggungnya. Bentuk tubuh yang dia yakini seperti bentuk tubuh Kalisa. Dari tingginya, dan dari bentuk tubuh yang kecil namun sedikit berisi. Yang dia suka Kalisa memiliki pipi yang sedikit menggembung (chubby). Saat jadi Fino, dia selalu ingin mencubit pipi itu tapi tak pernah dia lakukan.
"Sepertinya itu Kalisa, dan Fino," gumam Rio.
Mobil itu lebih mendekat ke arah mereka, tapi terlihat wanita yang menggendong bocah balita itu terjatuh. Refleks Rio berteriak "Kalisa…,"
Mobil itu dihentikan oleh Rio, kemudian dia berlari sekuat tenaga, dia kini berjongkok di pinggir jalan, meraih kepala wanita itu dan menaruhnya diatas lengan kirinya. Dia melihat jika itu benar-benar Kalisa. "Kalisa, sadarlah...! bangun Kalisa..!" panggil Rio dengan membelai wajahnya.
"Om, Bunna kenapa?" Tanya Fino.
Rio sedikit tersentak menyadari kalau Fino ada disana, dia melupakan kehadiran anak itu saat khawatir pada Kalisa. Rio tidak berpikir, jika ada Fino disini tentu itu adalah Kalisa, dia tidak perlu memastikan dengan melihat wajahnya lebih jelas bahkan sampai menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya.
"Fino, Bunna gapapa. Kita ke klinik dekat sini ya, Bunna om gendong, dan kamu jalan dibelakang om ya?" Ucap Rio pada Fino.
Fino mengangguk pelan, anak itu mengenali Rio. Entah mengapa memori Fino saat dimasuki jiwa Rio sebagian bisa dia ingat.
Rio langsung mengangkat tubuh Kalisa, "bahkan tubuhnya kini terasa lebih ringan, dia pasti sangat kesulitan, ah pipinya kini tidak segembul waktu itu, ya sedikit berkurang," gumam Rio saat membawa Kalisa dengan langkah cepat. Dia menaruh Kalisa di kursi belakang.
__ADS_1
Rio sedikit bingung, dia takut Kalisa terjatuh, tapi dia tak punya cara lain saat dia panik. Dia membiarkan Fino duduk di belakang menjaga Bunna nya.
Rio menjalankan mobilnya dengan hati-hati. Memastikan agar tubuh Kalisa tidak terhuyung dan jatuh. "Fino jagain Bunna ya..!" Ucap Rio yang kesekian kali pada Fino, dan anak itu mengangguk patuh.
Sepuluh menit berlalu akhirnya Rio menemukan klinik. Meski klinik kecil tapi itu tidak masalah untuknya karena ini darurat. Wilayah itu juga wilayah yang terpencil dan belum memasuki perkotaan.
***
Rio kini duduk bersama Fino. Mereka sedang menunggu kesadaran Kalisa. Wanita itu hanya kelelahan saja. Rio bersyukur tidak terjadi hal serius.
Kelopak mata berbulu lentik itu mulai mengerjap, melihat sekeliling dan dia sadar kalau dia ada di suatu tempat. Melihat selang infus, dia sedikit lega karena dia berada ditempat yang aman.
"Fino…," panggil Kalisa karena khawatir. Dia bangkit dan kini duduk diatas ranjang.
"Mas Rio, kenapa kamu ada disini?" Tanya Kalisa.
"Om Lio yang nolongin Bunna," jawab Fino.
Kenapa dari sekian banyak orang, malah Mas Rio yang menolongku. Padahal aku sudah ingin menjauh, tapi kenapa dia malah mendekat? Batin Kalisa.
"Makasih ya Mas," Ucap Kalisa.
Rio mengangguk pelan. Setelah keadaan Kalisa lebih baik,Rio mengantarkan Kalisa sampai ke rumah Husen. Riki yang mengetahui kabar Kalisa yang telah ditemukan, dia melesat membawa mobilnya menuju rumah.
__ADS_1
Disaat itulah Riki dan Rio bertemu. Disatu sisi Riki bersyukur dan berterimakasih karena Kalisa dapat ditemukan oleh Rio, tapi disisi lain dia masih kesal dan bertambah kesal pada pria didepannya itu.
Dasar lelaki plin-plan. Sepertinya dia ingin dua wanita di hidupnya, kalau seperti ini terus maka Kalisa akan terus terluka dengan sikapnya, batin Riki.
Riki mengacuhkan Rio, dia hanya fokus pada Kalisa dan fino. Menyambut kedatangan mereka dengan bahagia. Kakek Husen tak lupa mengucapkan terimakasih pada Rio.
Rio pulang dengan berat hati, sebenarnya dia ingin berlama-lama bersama Kalisa, bersama keluarganya. Dia juga ingin menanyakan tentang surat cerai itu, tapi menurtnya itu bukan waktu yang tepat. Dia sadar kalau Kalisa bahkan sudah tidak mau memperbaiki hubungannya, Rio kehilangan rasa percaya dirinya.
Selama perjalanan pulang Rio menyesali perbuatannya di masa lalu, mobilnya kini melesat menuju rumah orang tuanya untuk meminta pendapat dan nasehat mereka.
***
Kalisa sudah lega karena sudah ada dirumah dan Fino bisa merasa nyaman, balita itu sudah tidak ketakutan lagi.
Malam itu Kalisa memilih tidur bersama Fino. Sebelum dia memejamkan mata, dia teringat jika ponselnya hilang saat diculik. Dia yakin ponselnya telah dihancurkan, kemudian dia memilih memakai telepon rumah untuk menghubungi ibu panti. Kalisa berniat meminta maaf karena Fino belum bisa diantar ke Panti.
Namun karena ibu Panti yang hanya tahu jika Fino saja yang hilang, ibu Panti langsung memberi peringatan pada Kalisa tanpa mendengarkan penjelasannya lebih dulu.
"Ibu kecewa padamu Kalisa, ibu sudah berbaik hati mempercayakan Fino dibawa olehmu, tapi apa? Kamu tidak bisa menjaga dia dengan baik, bahkan sampai diculik. Syukurlah Fino sudah ditemukan, tapi dengan kejadian ini ibu sepertinya keberatan jika nanti Fino diadopsi oleh kamu. Maafkan ibu jika nanti proses adopsinya akan sulit, karena kejadian ini sudah diketahui oleh semua orang disini," ucap ibu Panti.
Setelah panggilan itu berakhir, Kalisa tidur dengan memeluk Fino malam ini, Kalisa berharap bisa selamanya memeluk balita kesayangannya.
Bersambung …
__ADS_1