Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Mencari


__ADS_3

"Terimakasih untuk semuanya Dokter Riki, Fino memang sebaiknya dirawat saja, maaf karena telah merepotkan, tapi suatu saat saya pasti akan membalas kebaikan Dokter," ucap Kalisa.


"Nah gitu dong, kamu jangan sungkan sama saya, semoga Fino cepet sembuh ya..!, Kalau begitu saya akan mengurus semuanya," jawab dokter Riki.


"Iya, sekali lagi terimakasih ya Dok," ucap Kalisa.


"Sama-sama," jawab Riki sambil tersenyum, padahal sudah aku bilang panggil Riki saja, dia masih saja canggung seperti itu, pikir Riki.


Hari itu Fino akhirnya dirawat, Kalisa dengan setia menunggu Fino, Riki juga bergantian menunggu Fino saat Kalisa harus pulang dan membawa barang yang dia butuhkan.


Saat Riki kebetulan melihat Kalisa membawa banyak barang, dia berinisiatif membantunya, membawa barang itu ke kamar Fino.


"Oh jadi ini selingkuhan kamu Kalisa? Sungguh wajah polos namun penipu," ucap Bu Riani yang tiba-tiba datang dari arah lain.


"Ini sih bukan laki-laki yang kemarin Tante, kayaknya mangsa Kalisa yang baru deh, hati-hati Mas, dia bukan wanita yang sebaik penampilannya yang polos..!" Ucap Felisha pada ibu Riani dan juga Riki, dia akan mencoba menjatuhkan Kalisa sejatuh-jatuhnya karena dialah yang menyebabkan dia tidak bisa menikah dengan Rio dulu.


Riki menatap Felisha dengan heran, kemudian dia menatap Kalisa yang diam tak melakukan pembelaan sama sekali, apa benar dia begitu? Batin Riki.


"Maaf Mah, tapi Kalisa tidak seperti itu," jawab Kalisa, dia sedikit melakukan pembelaan untuk dirinya sendiri, meski tidak yakin ibu mertuanya itu akan percaya.


"Kalau kamu istri yang baik, mana mungkin kamu sampai kabur dari rumah?" Tanya Bu Riani.


Pertanyaan itu benar-benar tak mampu Kalisa jawab, dia tidak mau membuka aib Rio, lagipula meskipun dia bicara yang sebenarnya mertuanya itu pasti tidak akan mempercayainya, dia tidak ingin berdebat.


Kalisa memilih pergi dari sana, "ayo Dok..!" Ajak Kalisa pada Riki.


Bu Riani tentu saja merasa tambah benci karena sikap Kalisa yang tidak sopan itu.


"Tante lihat sendiri kan, dia memang aslinya begitu..! Dia juga tidak menjawab pertanyaan Tante, pasti dia kabur karena memilih laki-laki lain," ucap Felisha yang sengaja ingin membuat Riani semakin membenci Kalisa.


Bu Riani hanya diam, dia menatap punggung Kalisa dan Riki penuh dengan kebencian, bisa-bisanya kamu bersama lelaki lain saat anakku koma dan tak berdaya, batin Riani.

__ADS_1


***


Kalisa dan Riki akhirnya sampai di kamar Fino, wajah Kalisa terlihat sedih sekali, ingin rasanya Riki bertanya, namun dia tidak enak karena ini masalah keluarganya, Riki pikir Kalisa itu single tapi ternyata dia masih memiliki suami.


Fino pun melihat keanehan di wajah Kalisa, "Bunna kenapa?" Tanya Fino ingin tahu.


"Bunna gak apa-apa kok, ini Bunna bawain makanan kesukaan kamu, ada boneka kesayangan kamu juga buat nemenin Fino tidur," ucap Kalisa sambil tersenyum, dia memberikan apa yang dia bawa.


Fino hanya menerimanya tanpa tersenyum, dia mengkhawatirkan keadaan Kalisa yang berbeda hari ini, dia kenapa? Apa ada masalah lagi? Pikir Rio (Fino)


"Kalisa, saya tahu saya bukan siapa-siapa dan tidak berhak ikut campur dengan urusan keluargamu, tapi.. kamu harus tetap semangat ya buat Fino, dan jika kamu tidak bersalah, kamu jangan pernah takut..!" Ucap Riki memandang Kalisa.


"Iya Dok, terima kasih atas semuanya," jawab Kalisa.


"Ya sudah, saya permisi dulu ya, besok kalau saya ada waktu luang, saya akan menyempatkan untuk datang kesini," ucap Riki.


Kalisa mengangguk pelan.


Fino mengangguk kecil, dia sebenarnya malas berhadapan dengan Riki, namun dia harus tahu diri kalau sekarang dia selalu dibantu oleh lelaki itu dan dia hanyalah anak balita berumur 3 tahun yang seharusnya tidak tahu apa-apa.


Riki pun berlalu pergi, Fino yang sempat mendengar apa yang dikatakan Riki, dia yakin kalau Kalisa bertemu dengan salah satu keluarganya, atau diganggu lagi oleh Felisha.


Aku harus secepatnya kembali ke tubuh asliku, menjelaskan semuanya agar Kalisa tidak disalahkan lagi, pikir Rio (Fino)


***


Saat hari sudah malam, Fino mengendap-ngendap keluar dari kamarnya, meski kakinya yang masih sakit, namun dia memaksakan diri untuk melihat tubuhnya yang asli.


Dia melewati Kalisa dengan sangat hati-hati, Rio masih ingat jelas dimana raganya dirawat, dia berjalan dan terus berjalan hingga seseorang mengagetkannya, "nak, kamu mau kemana? Ibumu mana?" Tanya seorang perawat.


Rio mulai bingung, "Fino lagi nungguin Bunna disini kok, bental lagi juga dateng," jawab Fino (Rio).

__ADS_1


Perawat itupun mengangguk, dia pergi untuk melanjutkan pekerjaanya, perawat itu mengira jika Fino tersesat ternyata tidak.


Rio pun melanjutkan perjalanannya yang masih sangat jauh dengan langkah kaki yang kecil, bahkan ditambah kakinya yang sakit.


Oh astaga, kenapa ini terasa jauh sekali, andai saja kakiku sehat dan langkahku seperti orang dewasa, keluh Rio (Fino).


Fino akhirnya sampai dengan susah payah, bahkan dia sampai berkeringat, dia menunggu disana sampai pintu besar itu terbuka oleh seseorang, ya.. tubuhnya yang kecil membuatnya tidak bisa membuka pintu itu, sama halnya saat dia keluar kamar, untung saja pintu kamarnya tidak tertutup rapat.


Saat dia melihat sang ayah (Gerhana) keluar dari sana, ah sayang sekali pintu itu langsung tertutup, pikir Rio.


Rio menunggu momen lainnya, dimana sang ayah kembali dan dia berada tepat di belakang sang ayah, dia masuk dengan cepat dan lincah agar tidak terlihat oleh ayahnya, tentu dia harus mengorbankan kakinya yang sakit, dia menahan sakit itu demi bisa masuk ke dalam sana.


Rio bersembunyi di bawah tempat tidur, tubuhnya yang kecil membuatnya lebih mudah bersembunyi.


"Mah, ini makan dulu..!" Ucap Gerhana pada istrinya Riani.


"Mamah gak lapar Pah, mamah cuma mau Rio sadar," jawab Riani.


"Tapi, kalau mamah pengen jagain Rio, ya mamah harus sehat dong Mah..!, Papah suapin ya?" Tanya Gerhana.


Rio yang mendengar itu dia merasa bahwa orang tuanya itu memiliki hubungan yang harmonis, dia iri, dia bahkan menyesal karena dia tidak bisa memperlakukan Kalisa semanis itu dulu.


***


Sementara ditempat lain, Kalisa yang terbangun karena ingin buang air kecil, dia pun pergi ke kamar mandi, namun saat dia kembali , alangkah terkejutnya saat dia menyadari kalau Fino tidak ada disana, bukankah tadi Fino tidur diatas ranjang? batin Kalisa.


"Fino, kamu dimana sayang?" Teriak Kalisa yang panik.


Dia berlari keluar kamar, mencari Fino dalam keadaan yang kacau, dia bahkan menangis sambil mencari anak itu.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2