Andre Untuk Bella

Andre Untuk Bella
98. Extra Part 3.


__ADS_3


Extra Part 3.



#pada nungguin kontraksinya Bella yang sudah berlangsung selama 24 jam? hehehe … maaf, othor sedang jadi robin hood di dunia nyata, let's check this out.


.


.


.


Para petugas medis menyambut mereka, bahkan dokter Jimmy terkejut melihat kedatangan nya.


"And?" 


"Uncle … tolong, sepertinya istriku akan melahirkan." 


Dokter Jimmy mengangguk paham, ia segera memerintahkan anak buahnya membawa Bella ke ruang persalinan.


Cicit dari pemilik rumah sakit anak lahir ke dunia, maka seluruh petugas medis bersiap melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan bayi tersebut.


Dan Andre menjadi semakin tegang, lagi lagi mimpinya memberi petunjuk, sejujurnya ia tak terkejut jika anak anak nya lahir saat ini, justru ia sangat bersyukur, karena kecelakaan yang Andre takutkan, tidak menjadi kenyataan.


Setibanya di ruang persalinan, Bella dibantu beberapa perawat berganti pakaian yang lebih longgar dan nyaman, bahkan Andre tak bergeser sedikitpun dari sisi Bella, ia melakukan apa saja yang membuat istrinya nyaman, mengusap punggungnya, menggenggam erat tangannya, bahkan mengusap peluh yang membanjiri dahi dan rambutnya.


“Cesar saja yah?” bisik Andre, ketika kontraksi Bella terjeda sesaat, seperti para suami pada umumnya yang sudah teramat bucin pada sang istri, Andre tak ingin istrinya mengalami kesakitan panjang demi melahirkan anak anak untuknya.


Dan lagi lagi Bella menggeleng, sudah sejak beberapa bulan lalu mereka memperdebatkan masalah ini, dan lagi lagi jawaban Bella tetap sama, selagi masih bisa lahir secara alami ia ingin mencobanya, bahkan Gadisya sangat mendukung keputusannya.


“Sayang bantu aku duduk … rasanya tak nyaman jika terus tiduran, aku mau jalan jalan.” pinta Bella.


Andre terbelalak, “jalan jalan kemana lagi sayang, kan kamu sebentar lagi melahirkan.” Andre ingin menangis rasanya mendengar permintaan Bella.

__ADS_1


Bella sendiri keheranan dengan sikap suaminya, memang nya dalam kondisi kontraksi seperti ini ia bisa kemana? selain jalan jalan di sekitar tempat tidur.


Ini adalah salah satu tips yang ia dengar dari Gadisya, selama kontraksi berlangsung, sebaiknya dipakai beraktivitas kecil sesuai kenyamanan sang calon ibu.


“Apa yang kamu pikirkan? memang nya aku bisa jalan jalan kemana dalam kondisi seperti ini? aku hanya menuruti saran Gadisya, berjalan jalan di sekitar sini saja,” Kini Bella yang gemas dengan segala kekhawatiran suaminya.


Karena tak ingin istrinya stres, Andre pun menuruti segala pinta Bella, ia ikut mondar mandir di dalam ruangan, dengan perasaan tidak menentu.


“Aduh … sayang … tolong usap punggungku, ini mulai terasa sakit lagi, punggungku mau patah rasanya.” keluh Bella ketika Serangan kontraksi datang lagi, ternyata sakitnya luar biasa sungguh berat perjuangan seorang ibu demi melahirkan buah hatinya.


Dengan patuh, Andre menyangga tubuh Bella yang limbung karena menahan rasa sakit, tangan kirinya memeluk kepala Bella yang bersandar di dadanya, sementara tangankananya mengusap punggung sang istri, di selingi bisikan sayang dan kata kata cinta.


Keluarga Geraldy dan keluarga Smith sudah menerima kabar dari Andre beberapa saat yang lalu, kini semuanya sedang menuju ke William Medical Center Singapura, demi menyambut anggota baru kedua keluarga.


“Masih sanggup bertahan?” bisik Andre, “lambaikan tangan jika kamu menyerah, tapi jika kamu masih tetap bertekad melanjutkan perjuangan ini, aku akan mendukung penuh,”


Bella mengangguk, ia menggenggam erat kaos suaminya, berterima kasih dengan setulus hati, atas cinta dan juga dukungannya.


“Jangan mengingat rasa sakit ini,” bisisk Andre, keduanya kini berpelukan dan bergerak lembut, seperti tengah berdansa.


“Ingat saja, semua yang indah indah,”


“Tawa lucu mereka,”


“Bahkan celotehan mereka, ketika nanti tiba saatnya mereka berbicara.”


“Hal menyakitkan ini, akan segera sirna berganti dengan rasa bahagia tak terkira, dan aku akan menjadi pria paling beruntung, karena memilikimu, dan anak anak kita, terima kasih karena bersedia berjuang melahirkan anak anakku.”


bug


Bella memukul dada suaminya, “ish … mereka anakku juga.” ucap Bella dengan suara manja.


“Tapi mereka adalah buah dari kerja kerasku …” Balas Andre tak mau kalah.


“Dan aku membawa mereka kemana mana hingga hari ini.”

__ADS_1


Hahaha keduanya tertawa renyah, sejenak melupakan tegang akibat menunggu persalinan.


Setiap kali kontraksi kembali datang, semakin erat pula pelukannya, dan Andre hanya  bisa mengusap usap dengan penuh rasa sabar.


“Selamat siang Nyonya Belinda?” suara lembut menyapa sepasang suami istri yang masih berpelukan menikmati rasa sakit yang tengah mendera Bella.


Andre dan Bella serentak menoleh, “selamat siang dok.” jawab Andre yang tahu bahwa wanita dihadapannya adalah dokter yang akan membantu persalinan Bella, dokter yang sama persis dengan dokter yang mengoperasi Bella dalam mimpinya. 


“Saya segera kemari setelah menerima kabar dari dokter Gadisya, Kenalkan, saya Stevi dokter yang akan membantu persalinan istri anda tuan.” dokter Stevi memperkenalkan diri, ia tampak tersenyum melihat kemesraan pasien yang akan ia tangan hari ini.


“Hai dok,” sapa bella lemah, wajahnya sudah muram, masam, memerah, terlihat tan menyenangkan untuk dilihat, tapi itu semua bukan karena Bella Sedang marah melainkan karena sudah tak tahu lagi bagaimana cara mengekspresikan rasa sakit yang tengah dideritanya.


“Silahkan rebahan sebentar, saya kan memeriksa jalan lahirnya.” Dokter Stevi memberikan instruksi pertamanya.


Bella mengangguk kemudian dengan di bantu Andre, bella merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur.


Andre menyingkir sebentar, agar dokter Stevi bisa menjalankan tugasnya.


Setelah memakai sarung tangan, dokter Stevi mulai memeriksa kondisi terakhir jalan lahir Bella.


“Sepertinya sebentar lagi, sekarang sudah pembukaan delapan, bersabar sedikit lagi yah, semoga prosesnya lancar, sampai kedua bayi lahir dengan selamat.” 


Dokter Stevie kembali pamit keluar ruangan.


Bella kembali meringis, kali ini air matanya meleleh, ingin rasanya ia segera menyudahi rasa sakit ini, tapi ini bukan sesuatu yang bisa ia kendalikan sesuka hatinya.


“Sakit …” 


“Jangan menangis sayang, aku yakin kamu pasti bisa,” walau setengah hati dan sungguh tak tega melihat penderitaan sang istri, Andre mengucapkan kalimat tersebut.


“Ini bukan tangis, tapi ini memang sakit sekali,” jawab bella lirih, menggenggam erat tangan suaminya, sambil merengek manja meminta pelukan dari suaminya.


Lagi lagi andre memeluk sang istri, kembali mengusap perut Bella, bahkan mengecup perut buncit tersebut, kemudian beralih mengecup kening Bella dengan sayang.


“Tiduran lagi yah, sini sambil aku usap punggung kamu,” Andre memiringkan tubuh Bella, masih duduk di kursi, ia mulai kembali mengusap perut Bella.

__ADS_1


“Aaaaaahhhh … ini semakin sakit,” pekik bella, ia merasakan perutnya semakin kencang, disusul kemudian ada cairan yang merembes keluar dari jalan lahirnya.


Andre segera berlari keluar memanggil dokter Stevi.


__ADS_2