Andre Untuk Bella

Andre Untuk Bella
72.


__ADS_3

72.


Dengan langkah cepat nyaris tak sabar, Bella menarik lengan suaminya, mereka tengah berjalan cepat menyusuri lorong William Medical Center, tiga hari yang lalu mereka mendapat kabar bahwa si kembar telah lahir dengan selamat, Bella sungguh tak sabar melihat bayi bayi lucu tersebut.


"Sabar sayang, jika seperti ini kamu bisa jatuh," Andre mengingatkan istrinya.


Bella mengurangi kecepatan langkahnya, "baiklah maaf, ini kerena aku tak sabar menimang salah satu dari anak anak Kevin."


"Iya aku tahu, tapi tidak ada yang membuatku bahagia selain menghabiskan banyak waktu bersamamu, termasuk saat ini, toh Kevin dan Gadisya tak mungkin kabur membawa anak anak mereka kan?" 


"Hahahaha, bisa bisa nya bicara begitu." 


"Ayo ke cafe dulu, kamu bahkan melewatkan makan siangmu,"


Bella memanyunkan bibirnya, suaminya memang bersikap terlalu manis, membuat Bella merasa selalu jatuh cinta setiap hari, ada saja ulah dan tingkah Andre yang menggemaskan di matanya, kadang dia cemberut, kadang jahil, bahkan seringnya Andre menempel padanya seperti bayi koala.


Yang lebih mengagumkan, sikapnya bisa seketika jauh berbeda ketika ia berada di ruang publik, di tetap memperlihatkan cintanya, namun dalam batas yang wajar.


Malam peluncuran tersebut Andre berhasil membuat Bella merasa spesial, sekaligus menjadi wanita paling beruntung, dicintai, dihargai, bahkan di lindungi dengan segenap jiwa dan raga.


Malam itu, Andre dan Bima berhasil membuat Jeani Kim beserta seluruh komplotannya ditangkap pihak berwajib, walau ada sedikit perdebatan sengit di kantor polisi, namun Jeani Kim dan komplotan nya tak berkutik dengan semua bukti yang di sodorkan ke hadapannya. 


*


*


*


Usai menghabiskan makan siang mereka, Andre membungkus beberapa snack dan kudapan untuk Kevin dan Gadisya.


Sementara Bella masih menunggunya di meja.


"Janji yah, setelah mengunjungi si kembar kamu tak boleh menangis apalagi bersedih?" Ujar Andre usai kembali dengan paperbag berisi makanan.


Pernyataan yang biasa, namun bagi Bella sangat bermakna, setelah beberapa hari lalu Bella melakukan tes uji kehamilan pribadi dan hasilnya masih negatif, seketika matanya berkaca kaca.


"Tuh kan belum apa apa kamu sudah menangis, berbahagialah, apa kamu tak lagi bahagia bersamaku?" Andre berbisik.


Bella menggeleng, "kenapa bicara begitu, tentu saja aku bahagia." 


"Kalau begitu, seharusnya kamu juga masih ingat perkataan ku waktu itu, aku hanya ingin bahagia bersamamu, dengan ada atau tidak ada anak diantara kita." 


Andre mengusap bening air mata di pipi Bella, "tuhan memang belum mempercayakan seorang anak pada kita, tapi aku percaya, saat itu pasti akan tiba, anggap saja tuhan sedang memberi kita waktu berdua,"


"Tapi aku ingin segera hamil." 


"Dengar aku, sebulan setelah menikah, mommy langsung hamil, dan mereka berpisah setelah kami berusia satu tahun, mereka nyaris tak punya waktu berdua saat itu, keegoisan daddy, dan rapuhnya perasaan mommy, membuat mommy mengambil jalan pintas, yaitu perpisahan." 


Kali ini Andre yang menghapus air matanya, terlalu sedih jika mengingat masa kecilnya yang harus menerima kenyataan perpisahan kedua orang tuanya, bukan cuma kevin yang menderita, tapi ia pun merasakan perasaan yang sama dengan Kevin.


"Dan Kevin pun sama, tiga bulan setelah pernikahannya, Gadisya hamil, tapi apa, karena keegoisan dan dan rasa cemburunya, ia justru pergi begitu saja meninggalkan istrinya, bahkan mereka kehilangan anak saat itu, tidakkah kedua kisah itu bisa kita jadikan pelajaran? Bukan aku tak menginginkan anak, tapi jangan jadikan anak sebagai tujuan utama pernikahan kita, yang utama adalah kita harus bahagia." 


Bella mengangguk paham, suaminya terlihat sangat dewasa disaat seperti ini, Bella rasa Andre memang diciptakan oleh othor moon khusus untuk menemani dan mendampingi Bella.


"Kenapa kamu yang menangis?" Tanya Bella, manakala melihat wajah suaminya bersimbah air mata. "Maaf kan aku yang terlalu sensitif." 


Bella mengusap airmata suaminya, Pernikahan mereka memang mendadak, tapi pria ini sudah sangat dewasa pemikirannya, dia sudah banyak melihat, belajar, dan kini setelah menjalani nya sendiri, ia sangat berhati hati dalam melangkah dan mengambil sikap, karena tak ingin mengulang kesalahan orang tua dan saudara kembarnya.


"Ayo, aku pun tak sabar bertemu si kembar." Pungkas Andre, setelah semua drama mereka berakhir.


"Kapan kapan kita culik salah satu dari mereka, kamu setuju?"

__ADS_1


"Sepertinya bukan ide yang buruk." 


"Lagi pula, mereka punya tiga anak, kalau kita ambil satu, sepertinya tak akan jadi masalah."


"Iya, kamu benar … aku sangat suka melihat wajah saudara kembarku jika ia sedang marah, ahahaha …" seringai Andre.


*


*


*


"Baby … uncle datang," sapa Andre, ketika kepalanya menyembul dari balik pintu.


Ini sudah hari ke 3 dan Andre baru sempat mendatangi rumah sakit karena pekerjaan membuat nya tertahan.


Kevin dan Gadisya tersenyum lebar melihat kehadiran keduanya, siapa sangka, keduanya memang ditakdirkan bersama, berjalan beriringan dalam sebuah ikatan pernikahan.


Andre langsung menghampiri tempat tidur bayi yang berjajar manis di dekat tempat tidur yang ditempati Gadisya, dan Bella bercipika cipiki dengan Gadisya, yang tengah Memberikan Asinya pada si bungsu Luna.


Bella mengamati wajah bayi perempuan cantik yang nampak menikmati aktivitas nya, sesekali Luna menggeliat, membuat Bella semakin hemas ingin memeluk bayi mungil tersebut.


"Dia menggemaskan sekali," bisik Bella, yang hanya didengar oleh Gadisya, karena suami mereka sedang sibuk dengan perdebatan unfaedah.


"Hai aunty, kenalan dong, aku Luna, kesayangan papa mama," ujar Gadisya yang menirukan suara bayi.


"Hai kesayangan, aku aunty Bella, Tunggu yah, beberapa hari lagi aunty buatkan perhiasan cantik untuk menyambut kehadiran mu." Bisik Bella ketika melabuhkan  kecupan di kepala Luna.


"Waahh mereka mirip denganku," celetuk Andre ketika melihat wajah Daniel dan Darren.


Perdebatan keduanya tak luput dari pandangan istri mereka.


"Apa yang kamu katakan, mereka mirip denganku," Kevin sungguh tak terima bayi bayinya dikatakan mirip dengan Uncle nya.


Gadisya memindahkan Luna ke pelukan Bella, namun seketika itu juga, suara tangisan keras menghentikan keributan antara Andre dan Kevin, si mungil Luna menangis keras manakala berpindah ke pelukan Bella.


"Kenapa? Kenapa? Kenapa dia tiba tiba menangis?" Ujar Bella panik, padahal ia sudah sangat ingin menimang bayi, namun melihat Luna menjerit histeris, justru membuat nya semakin panik.


Andre menghampiri istrinya, "berikan padaku," pintanya, "aku pasti bisa menenangkan nya, aku bahkan ikut merasakan morning sick, tak mungkin diantara mereka bertiga tak ada yang mau berada di dekatku." Ujar Andre penuh percaya diri.


"Aku yakin, kamu tak akan berhasil menenangkannya." Ejek Kevin, dengan nada cemburu.


Sang penakluk wanita itu berjalan mendekati istrinya, kemudian mengambil alih baby Luna dari pelukan Bella, secara ajaib, bayi kecil itu perlahan diam, seakan menikmati aroma tubuh pria yang kini menggendong nya, parfum yang dahulu membuat Kevin mual, seakan akan kini menjadi aroma terapi yang menenangkan bayi mungil tersebut.


Tentu saja hal itu membuat Bella merasa sangat iri, "kenapa dia menangis ketika ku gendong," 


"Belum sayang, pelan pelan saja, kamu hanya belum terbiasa, aku yakin lama lama dia akan nyaman bersamamu." 


"Benarkah?" Tanya Bella dengan binar penuh harap.


"Iya, aku yakin sekali." Jawab Andre yakin. 


"Hai kesayangan, kenapa kamu semakin membuat papi merasa tersingkir." Rengek Kevin di depan putri kecilnya yang kini tenang dalam dekapan Andre.


"Apa ku bilang, sepertinya dialah yang waktu itu membuatku mengalami gejala kehamilan simpatik, "hahaha … mulai sekarang kamu anak daddy, panggil uncle dengan sebutan daddy yah," ujar Andre yang merasakan getaran tak biasa manakala Luna berada di pelukannya. "Apa kamu setuju denganku?" Andre meminta persetujuan istrinya.


Bella terpaku di samping Gadisya, namun iya mengangguk setuju, pemandangan tak biasa ini mampu memporak porandakan hati dan perasaan nya, suaminya ternyata seorang family man.


"Sepertinya aku mengenali wajah Luna, mirip siapa dia?" Tanya Andre pada Kevin.


"Entah, sejak kemarin pun, aku mencoba mengingat nya, namun belum menemukan jawabannya." 

__ADS_1


Beberapa saat keduanya mencoba mengingat ingat, " ah iya, Emira … ini wajah Emira ketika masih bayi," Andre menjawab rasa penasaran kedua pria tersebut, tak sadar jika keduanya tengah diperhatikan oleh istri mereka.


"Oh benar, iya benar sekali, aku masih menyimpan gambar Emira ketika baru lahir,"  


Kevin menyambar ponselnya, kemudian membuka galeri di ponselnya, wajah si kembar dewasa tersebut nampak berbinar manakala menatap foto mereka yang kala itu berebut menggendong Emira ketika adik kecil mereka baru saja lahir ke dunia.


"Waktu cepat berlalu yah, sekarang dia sudah remaja," gumam Andre.


"Iya, bahkan ia tak mau berdekatan dengan kita, poros hidupnya dan juga cinta pertamanya hanya pada papi." Kevin menambahkan.


.


.


.


.


.


.


Hari ini othor ingin mengucapkan:


.


SELAMAT TAHUN BARU 2️⃣0️⃣2️⃣3️⃣


.


MARI KITA SAMBIT HARI YANG BARU🤩🥳


.


TAHUN YANG BARU🎇🎊🎈🎆🎉🧨


.


SEMOGA MENAMBAH SEMANGAT BARU 💪🧘


.


TERIMA KASIH UNTUK DOA, DUKUNGAN, DAN CINTA NYA🥰📝


.


OTHOR SANGAT BERSYUKUR😇


.


KEHADIRAN KALIAN MENAMBAH SEMANGAT TERSENDIRI BUAT OTHOR.🤗


.


.


.


.


.

__ADS_1


Pokoknya Sarangeeee 🌹💃


__ADS_2