Andre Untuk Bella

Andre Untuk Bella
96. Extra Part 1.


__ADS_3


Extra Part 1.



Flashback Empat tahun yang lalu.


“Bella …”


Suara teriakan Andre menggema di seluruh ruangan, tubuhnya sudah basah bersimbah keringat, nafasnya memburu, ia tengah dikuasai rasa takut yang teramat sangat.


“Ya tuhan, mimpi apa barusan, kenapa begitu mengerikan,” bahkan air matanya masih mengalir membasahi pipinya, ia teringat kilasan mimpi buruk yang baru saja dialaminya, “tidak, ini tidak boleh terjadi.”


Andre melirik jam dinding, “jam 04.45 …” ia terkejut, ketika teringat lagi kilasan mimpinya, Bella meninggalkan rumah jam 05.00, itu arti nya lima belas menit lagi Bella pergi. 


Masih dengan nafas memburu, tubuh bersimbah peluh, serta ketakutan luar biasa, Andre segera turun dari tempat tidur, menyambar ponsel dan kunci mobilnya, kemudian berlari menuruni tangga seperti orang kes***nan.


Pedal gas mobilnya ia injak dengan kecepatan penuh, bahkan ia sengaja membawa mobil sport miliknya yang masih terparkir di rumah utama, agar perjalanannya lebih cepat, suasana jalanan yang masih sepi memudahkan Andre memacu kencang kecepatan mobilnya.


Lagi lagi ia menangis manakala teringat mimpi buruknya, bagaimana ia melihat jasad istrinya yang masih bersimbah darah, terbaring kaku di ruang operasi, bahkan wajah pucat Bella yang Andre lihat dalam mimpinya kini mulai membayang di pelupuk matanya.


“Maafkan aku sayang, kumohon tunggulah aku sebentar lagi.” raung Andre selagi ia memacu mobil sport nya dengan kecepatan penuh.


Tubuhnya gemetar ketakutan.


Karena suasana jalanan yang masih lengang, maka tak lama kemudian ia tiba di rumahnya, benar saja, ada taxi berhenti di depan rumahnya sedang menunggu penumpang.


Andre segera menghampiri taxi, “menunggu siapa pak?” tanya Andre tak sabar.


“Atas nama nyonya Belinda,” jawab sopir taxi tersebut.


“Maaf pak, orderan taxi saya cancel.”


“Tapi anda harus bayar penalti pembatalan pak.” jawab sopir taxi tersebut.


Seperti kata Bella, jangan membahas uang dengan anak sultan, karena beberapa saat kemudian Andre mengeluarkan beberapa uang berwarna biru, dan menyodorkannya pada sang sopir.


“Apa ini cukup?”


“Kebanyakan pak, saya gak bisa terima semua.” 


“Gak papa pak, saya ikhlas, ambil saja semua,” ucap Andre, ia segera berbalik memasuki halaman rumahnya.


Andre berjalan cepat memasuki rumahnya, sesampainya di kamar ia segera membuka pintu, hal pertama yang Andre lihat adalah Bella yang sudah berpakaian rapi, dress hamil berwarna biru muda dilengkapi kemeja pink sebagai outer, pakaian yang sama yang ia lihat dalam mimpinya, entah kenapa pagi itu Bella terlihat lebih cantik di matanya.

__ADS_1


Tak terbayang bahagianya Andre melihat istrinya tengah berdiri di hadapannya, tawa haru bercampur tangis bahagia kini tergambar jelas di wajahnya, ia segera memeluk erat sang istri, pelukan paling erat yang pernah Bella rasakan, bukan hanya memeluk, Andre pun menangis sesenggukan, tapi tak mampu ia bercerita pada sang istri tentang mimpi buruknya.


“Maaf kan aku,” ujarnya setelah tangisnya reda.


Kini mereka duduk di sofa, Andre masih memeluk Bella bersandar di pundak dada dan Leher Bella, menikmati Aroma yang sejak semalam tak ia hirup.


Bella yang tidak tahu menahu apa yang terjadi pada sang sang suami, hanya menatap heran ke arah Andre yang masih terisak, walau kemarin siang hingga bangun tidur tadi dibuat kesal oleh sang suami, tapi melihat Andre menangis dan menyesalinya, membuat Bella tak tega melanjutkan marah nya, kini telapak tangannya justru membelai mesra rambut coklat milik sang suami.


“Apa yang terjadi?” tanya Bella.


Andre menggeleng, tapi tak bergeser dari posisinya saat ini, “aku mimpi buruk,”


“Tentang?”


“Bolehkah jika mimpi buruk ku tak ku ceritakan, sungguh aku takut jika semua itu menjadi nyata.”


“Baiklah …” jawab Bella pelan, “apa sekarang kamu ingin melanjutkan tidurmu?” tanya Bella yang tak tega melihat betapa kacau penampilan suaminya.


Andre mendongak, “tapi berjanjilah kamu tak akan pergi kemanapun sampai aku bangun, aku takut jika mimpi buruk tadi kembali lagi.” 


Bella lagi lagi tersenyum, “suamiku sedang manja rupanya, baiklah … ayo aku temani tidur lagi.”


Bella berjalan lebih dulu ke tempat tidur, setelah posisi tidur sang istri dirasa nyaman, Andre pun merangkak naik dan kembali menenggelamkan wajahnya di pelukan Bella, tak lupa ia mengusap anak anak nya sesaat.


*


*


*


Mereka sedang berada di ketinggian, jika sejak pagi hingga jam 9 Andre tertidur di pelukan Bella, kini berganti Bella yang bersandar nyaman di pelukan suaminya.


Andre masih tak mau lepas dari sang istri, ia benar benar takut, jika mimpinya menjadi nyata.


Andre membelai lembut kepala dan punggung Bella, agar Bella nyaman menikmati perjalanan.


Sebenarnya agak berat memberi izin pada Bella untuk pergi ke Singapura, tapi demi ketenangan hati sang Bella, yang masih menyimpan rasa bersalah pada Jonathan, Andre pun memilih setuju bahkan menemani perjalanan Bella, dan untuk berjaga jaga  karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi, Andre membawa salah satu asisten Gadisya, karena Gadisya sudah aktif kembali di William Medical Center Jakarta.


Masih ada kekhawatiran jika Bella akan mengalami kejadian yang sama dengan mommy Stella yang terpaksa melahirkan di pesawat.


Andre bernafas lega karena hal buruk yang dikhawatirkan nya ternyata tidak terjadi, mereka sudah mendarat dengan selamat di bandara International Changi Singapura.


Kini keduanya tengah berada di makam Jonathan, aneh nya tak ada lagi kecemburuan tertinggal di dada Andre, seperti jari sebelumnya, justru Andre berinisial membeli rangkaian bunga untuk Jonathan.


Seperti biasa cuaca panas di Singapura sungguh menyengat, tapi kedua nya abai, karena begitu besarnya rasa ingin mereka untuk menghaturkan maaf.

__ADS_1


"Hai Jo …" sapa Andre. "Maaf kami baru sempat datang lagi." 


Tangan kiri Andre meletakkan buket bunga yang tadi ia beli dalam perjalanan menuju makam, sementara tangan kanannya masih memegang erat tangan Bella.


"Jo …" Bella mulai membuka suara, setelah terlebih dahulu Andre menganggukkan kepala, tanda bahwa ia baik baik saja, bahkan wajahnya tersenyum ramah tanpa ada amarah.


"Maaf kan aku … aku tak bermaksud membohongimu … alasanku tak pernah bercerita padamu tentang pria dari masa laluku adalah … karena aku ingin benar benar melupakannya … tak ingin lagi mengingat sakit yang pernah kurasakan ketika aku menanti dan mengharap cinta nya … aku tak bohong ketika ku katakan aku mencintaimu … aku memang merasakannya … kehadiranmu membuatku lupa akan sakit yang pernah kurasakan … kamu kembali membuatku tertawa … meski hubungan kita tak mudah … terima kasih karena kamu mau memperjuangkan cinta kita … bahkan sampai akhir kamu membuktikan besarnya cintamu padaku … terima kasih karena sudah membuat laki laki ini terpaksa menikah denganku …" Bella menatap wajah Andre yang sedang tersenyum mendengar pengakuannya, "bahkan dia kini melakukan dan memberikan segala yang terbaik untukku … dan lihat sebentar lagi kami akan menjadi orang tua," Bella mengusap perut besarnya, "mereka kembar Jo … aku bahagia sekali, sekali lagi terima kasih." Bella mengakhiri kalimatnya.


"Sudah minta maafnya?" Tanya Andre ketika Bella tak lagi bersuara.


Bella mendongak kemudian mengangguk, "sayang sepertinya nanti aku harus sering sering memakai heels 20 cm." 


"Kenapa?" 


"Kenapa kamu tinggi sekali, bisa bisa leherku sakit kalau aku terlalu sering memandang wajahmu," 


"Hahahaha … katakan saja kalau kalau kamu ingin memandangku, aku akan menunduk supaya wajah kita sejajar, bagaimana?" 


Bella tersenyum geli, "ayo kita pulang, di sini panas sekali." 


"Baiklah … Jo … kami pergi dulu yah, lain kali kami akan datang lagi." 


Keduanya melambai sebelum meninggalkan makam.


Andre masih menggenggam tangan Bella ketika keduanya berjalan menuju mobil.


Tepat sebelum Andre membukakan pintu mobil untuk sang istri, tiba tiba Bella meringis memegangi perut nya.


"Aduh …" keluh Bella yang tangannya masih di genggam oleh sang suami.


"Kenapa? Sakit?" 


"Iya … sepertinya kram." Jawab Bella sambil menarik dan membuang nafasnya perlahan.


Andre pun ikut mengusap perut sang istri, "anak anak daddy … kalian yang pintar yah, jangan bikin mommy susah dan kesakitan." Andre mendaratkan dua kali kecupan di perut istrinya, sama seperti kebiasaan Kevin yang memberikan tiga kali kecupan selama Gadisya mengandung si kembar.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sarangeeeeee 🥰🥰


__ADS_2