
84.
Keluarga Geraldy Kembali memulai pagi.
Celotehan si kembar, meramaikan suasana pagi, usai mereka mandi bersama nanny Daniel segera berpindah ke pelukan opa Alex, Darren bersama oma Stella, Spesial baby Luna, sedang tak ingin bergeser dari pelukan papa Kevin, rupanya si kesayangan mendapatkan tempat bermanja selain mommy dan daddy nya, sungguh pemandangan pagi yang harmoni.
Bella baru saja membuka mata, rupanya infus di tangannya sudah tidak ada, tiba tiba panggilan itu datang lagi, Bella segera berjalan cepat ke kamar mandi, dan menumpahkan semua yang ia makan dini hari tadi, benar benar kosong, karena yang keluar di akhir hanya lendir.
Setelah membasuh mulut dan membersihkan wastafel, ia berjalan lemas dengan tangan menempel di dinding, Andre yang baru datang dari luar kamar, langsung berjalan menghampiri nya, "mual lagi," tanya nya khawatir, ia segera menggendong istrinya kembali ke tempat tidur.
Bella mengangguk lemah, "semuanya keluar, bersih tak bersisa."
Andre memeluk istrinya, "pasti lemas sekali … istirahat dulu yah, aku bawakan sesuatu, kamu ingin apa?"
"Jahe hangat saja,"
"Camilan barangkali?"
Bella menggeleng, "dia tidak bisa menerima makanan di pagi hari." Bella mengusap perutnya.
"Coba makan buah seperti daddy yah, dulu Kevin juga begini, tapi dia bisa makan buah di pagi hari."
Bella hanya mengangguk, baginya perhatian kecil seperti ini, sangat berarti, ia bahagia, walau kehamilannya tidaklah mudah, tapi suaminya benar benar menunjukkan cinta dan kasih sayangnya.
Andre berlutut hingga wajahnya berhadapan langsung dengan perut rata sang istri, "Sayang… anak daddy, baik baik di dalam sana, jangan bikin mommy susah, daddy mommy sangat menyayangi mu, kami tak sabar ingin segera berjumpa denganmu." Bisik Andre disertai usapan lembut, kemudian mendaratkan ciuman di sana.
Bella berdesir, jantungnya berdebar hebat, pria ini tak pernah gagal membuat nya jatuh cinta lagi dan lagi berulang kali, terus membumbung laksana gunung yang tinggi menjulang, di usap nya rambut kecoklatan milik suaminya, tapi hal itu tak membuat aktivitas sang suami terusik, Andre justru berlama lama menciumi perut Bella.
"Tunggu sebentar yah, aku ambilkan sarapan untukmu." Pamit nya.
Bella mengangguk seraya membetulkan letak piyama nya yang berantakan akibat ulah suaminya.
"Jangan dibetulkan," titah Andre.
Gerakan tangan Bella terhenti. "Kenapa?" Tanya nya heran.
"Nanti aku kembali, aku masih ingin bicara dengannya."
Bella terkekeh geli, suaminya benar benar konyol.
__ADS_1
***
Suasana ruang tengah terasa berbeda, tak lagi seperti sebelumnya, itu karena daddy Alex dan mommy Stella sedang terlibat pembicaraan serius dengan si bungsu Emira sementara si kembar susah berpindah ke tangan pengasuh mereka masing masing.
"Bi murti tolong buatkan air jahe dengan madu untuk istriku …" pinta Andre, ia mendatangi dapur dan mengutarakan maksud kedatangannya.
"Baik tuan muda."
"Oh iya bi … sama buah buahan yah." Imbuh Andre.
"Buah apa tuan?"
"Biasanya Bella suka buah apa?"
"Beberapa hari ini, nona suka buah yang manis agak asam." Jawab bi Murti.
"Baiklah, siapkan saja yang seperti itu."
Bi Murti mengangguk paham.
Andre memilih duduk bersebelahan dengan Kevin yang masih di memeluk baby Luna.
Melihat kedatangan sang daddy, Baby Luna menoleh, ia segera bergerak, tangannya menggapai meminta di gendong.
"Ada apa?" Tanya Andre pada Kevin.
"Negosiasi, tetap melanjutkan SMU di Jakarta, setelah lulus barulah pindah ke Singapura, atau, melanjutkan SMU di Singapura dan langsung berlanjut kuliah."
"Adik kecil kita sudah dewasa rupanya, ketika aku menjemput nya di kantor polisi tempo hari, aku bahkan dibuat terkejut oleh nya, dia melawan 6 orang sekaligus, walau semuanya perempuan, tapi bagiku, dia benar benar terlihat luar biasa jika berkelahi." Jawab Andre dengan sedikit kebanggaan.
Tapi tidak bagi Kevin, peristiwa penembakan yang terjadi pada mommy nya beberapa tahun lalu masih lah membekas.
"Jangan terlalu senang dulu, aku justru takut dia akan melawan bahaya seperti mommy dulu." Jawab Kevin. Dengan mata berkaca kaca.
Andre menepuk bahu saudara kembarnya, "iya, maafkan aku."
"Oh iya, jam berapa bertemu dokter Amelia?"
"Jam 3 sore."
__ADS_1
***
Andre dan Bella tiba di William Medical Center jam 3 tepat, dan langsung ke ruang periksa, kedatangan mereka sudah di tunggu dokter Amelia.
"Selamat datang tuan Andre … maaf jika saya salah sebut, karena anda sangat mirip dengan dokter Kevin, hanya berbeda kostum." Gurau dokter Amelia.
"Tidak papa dok, sudah biasa bagi kami, yang penting istri kami tidak salah mengenali kami." Andre menjawab dengan kelakarnya. "Bukankah begitu sayang?"
Bella hanya tersenyum. Ia sedang menjalani screening awal pemeriksaan bersama perawat.
Dokter menerima hasil pemeriksaan, kemudian mempersilahkan Bella berbaring di brankar, sementara Andre berdiri di bibir brankar menggenggam erat tangan istrinya.
Dokter mulai memulas gel bening pada transducer, kemudian mulai menempelkan nya di perut Bella.
Sensasi dingin terasa ketika gel tersebut menyentuh perut Bella.
Dengan lincah tangan kanan dokter Amelia menggerak gerakkan transducer, sementara tangan kirinya berkali kali memindahkan tombol tombol pada layar USG.
"Perkembangan mereka baik, tumbuh normal sesuai usia …"
"Tunggu dok, apa maksud dokter dengan mereka?" Andre menyela perkataan dokter Amelia.
"Ups … kan lagi lagi saya lupa, seperti sedang bicara dengan dokter Kevin." Jawab dokter Amelia, "baik saya ulangi lagi yah … lihat ada dua kantung kehamilan, yang artinya janinnya pun ada 2, ukuran janin 5 minggu sebesar biji apel, dengan panjang sekitar 0,1-0,2 sentimeter (cm), dan sesuai dengan perkembangannya yah." Dokter Amelia kembali mengulang penjelasannya dengan sabar.
Sementara Bella sudah berurai air mata bahagia, bisa hamil saja sudah membuatnya sangat bahagia, dan sekarang dokter mengabarkan bahwa dirinya hamil anak kembar, Bella tentu sangat bahagia, rasa haru menyeruak, ini seperti keajaiban pasca pengangkatan salah satu ovariumnya.
"Mau dengar denyut jantung mereka?" Tanya dokter Amelia.
"Tentu dok," jawab Andre dan Bella bersamaan.
Dokter Amelia tersenyum mendengar kekompakan sepasang suami istri tersebut.
Tak lama terdengar bunyi detak jantung saling bersahutan, seakan akan mereka sedang berlomba memberitahukan keberadaan mereka pada kedua orang tuanya, Andre benar benar tak kuasa menahan laju air matanya, ia berlutut di sisi brankar menciumi wajah Bella.
"Terima kasih sayang, kamu membuatku sangat bahagia, kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku, berjanjilah kamu akan bertahan disisiku selamanya." Andre terisak di pelukan Bella, tak peduli ada dokter Amelia di antara mereka, dan dokter hanya tersenyum, seraya membiarkan mereka tetap menikmati alunan detak jantung janin mereka.
"Perlu saya ingatkan yah, mungkin mualnya dan muntahnya akan sangat parah, tapi itu hanya sampai trimester pertama berakhir, paling lama empat bulan, walau ada yang tetap berlanjut sampai lebih dari lima bulan." Penjelasan dokter Amelia, membuat Andre bergidik ngeri, mengingat bagaimana dulu Kevin mengalaminya sampai usia kehamilan Gadisya menginjak tujuh bulan.
"Saya resep kan vitamin dan obat untuk mualnya yah, jika mual dan muntah nya parah, segera hubungi saya, eh maaf saya lupa, ada dokter Gadisya yang mengawasi anda …"
__ADS_1
"Iya dok, dia ipar terbaik." Jawab Bella dengan senyum lebarnya.
"Iya saya tahu … dia pasti melakukan yang terbaik demi memantau kehamilan anda."