
57.
VVIP lagi.
Bagi anggota keluarga Geraldy, Selalu ada cerita di ruang VVIP, cerita sedih dan bahagia yang datang silih berganti, menjadi sebuah goresan kisah karya author moon, yang terus mengiringi perjalanan keluarga kecil Alexander Geraldy.
Cerita bahagia ketika Alex menyambut hadirnya si kembar.
Cerita sedih karena daddy Alex pernah gagal mendapatkan kesempatan kedua di depan ruang VVIP.
Berganti lagi dengan kisah bahagia ketika mereka menyambut kehadiran si bungsu Emira.
Bahkan Stella yang lepas dari kondisi kritis usai ada dua peluru, menembus perutnya.
Juga Kevin pernah merasa sangat bahagia, karena untuk pertama kalinya, ia berhasil membawa mommy Stella kembali ke Jakarta, yah walaupun ia harus menjalani operasi usus buntu, tapi sungguh kala itu tak terbayang bahagia yang dirasakan si kembar, setelah bertukar tempat dan kembali mempertemukan kedua orang tua mereka, akhirnya mommy Stella kembali ke Jakarta.
#(lahirnya anak anak Kevin gak di tulis yah, karena sampai di sini, anak Kevin belum lahir.)
#(belum Emira dan Arjuna yah, nanti ada juga kisah mereka di ruang VVIP 😁 pokok nya wait lah.)
Setelah Bella dipindahkan ke ruang perawatan, Andre tak bergeser sedikitpun dari tempatnya, padahal mommy Stella sudah menawarkan diri untuk menemani nya di rumah sakit, tapi Andre menolaknya, ia tak ingin ketika sang istri sadar, bukan wajahnya yang pertama kali dilihat Bella.
Setelah berhasil mengusir seluruh anggota keluarganya, Andre kembali duduk di kursi yang ada di sisi tempat tidur pasien, walaupun ada extra Bed, tapi Andre lebih memilih berada di dekat Bella, setelah menghabiskan separuh hari dalam ketegangan dan ketidakpastian, kini raga nya mulai lelah, lampu kamar yang sudah diredupkan seakan mendukung Andre untuk terlelap dengan tangan sang kekasih hati tetap berada dalam genggamannya.
*
*
*
__ADS_1
Pukul 05.00 pagi, ini untuk pertama kalinya Bella berhasil bangun lebih pagi dari suaminya.
Matanya berkedip kedip beberapa saat, kemarin saat di pesawat ia sudah terlelap karena efek obat yang diberikan oleh dokter, bahkan Bella sama sekali tidak mengingat bagaimana ia bisa sampai di rumah sakit.
Di tangan kanan nya sudah terpasang jarum infus dan ia tak lagi merasa sakit seperti sebelumnya, tapi anehnya tubuhnya seakan lemas, dan ia sendiri tak ingin bergerak.
Ketika hendak menggerakkan tangan kirinya, Bella merasa tangan kiri nya hangat, tapi juga tak bisa diangkat, setelah menoleh ke sisi kiri, rupanya ada seseorang yang menggenggam tangannya dengan erat.
Pria yang sejak kemarin resah gelisah, bahkan nyaris seperti orang gila karena mengurus segala keperluan nya.
Bella sungguh terharu, pria yang mendadak menjadi suaminya ini, ternyata benar benar menunjukkan ketulusan nya, Bella sungguh tidak tega melihat ekspresi Andre sepanjang hari kemarin, ia merasa sangat bersalah karena sudah merepotkan suaminya.
Dan kini, ia bahkan tidak tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya, pelan pelan Bella menarik tangannya, agar Andre tak terbangun dari lelapnya, walaupun tak dipungkiri ia pun sangat ingin membangunkan Andre agar ia bisa bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia hanya mampu mengusap si rambut coklat tersebut, pelan pelan sangat perlahan, seolah menginginkan sang suami kembali terlelap dengan tenang.
Bella ingin memiringkan tubuhnya agar ia bisa leluasa menatap wajah tampan suaminya, tapi ia merasa kan nyeri luar biasa dari perut sebelah kiri nya, hingga tanpa sadar ia kembali meringis menahan sakit.
Andre yang mendengar dan merasakan ada pergerakan segera membuka mata, dan mendongak, ia melihat Bella tengah menggeliat sekaligus memejamkan mata menahan nyeri, ia segera bangkit berdiri.
"Iya …" jawab Bella lirih, "apa yang terjadi denganku?"
Andre menunduk sesaat, tak tega rasanya ia menyampaikan berita yang mungkin akan membuat istri nya bersedih, "maafkan aku, tapi kemarin tidak ada alternatif lain,"
Tiba tiba Bella merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, tapi suka atau tidak ia harus tahu, "ada apa denganku, katakan saja, aku ingin tahu." Tanya Bella dengan rasa penasaran.
"Kista Ovarium, dan dokter juga mengangkat salah satu indung telurmu," bisik Andre, ia menatap kesedihan di wajah Bella, "maafkan aku, jika aku mengambil keputusan ini seorang diri, tapi kondisi ovariumnya memang sudah tidak bisa dipertahankan, jika tidak di angkat, mungkin akan terjadi pendarahan yang lebih parah, bahkan bisa membahayakan nyawamu,"
Tak ada jawaban, hanya tangisan yang terdengar, tangisan sedih dari Bella yang mulai khawatir dengan kondisi rahimnya, serta tangisan Andre yang khawatir jika terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa kekasih hatinya.
"Apa itu berarti … sekarang aku bukan wanita sempurna?" Tanya Bella di sela isak tangisnya.
__ADS_1
Andre menggeleng kuat, "bagiku kamu adalah yang paling sempurna, aku sama sekali tak melihat ada kekurangan pada dirimu."
Haru, lagi lagi haru menyeruak diantara keduanya, Andre mengusap wajah Bella yang mulai basah oleh air mata, "apa aku juga sudah tidak bisa hamil dan melahirkan?"
Akhirnya terlontar juga pertanyaan, yang sejak tadi menjadi ganjalan di hati Bella, manakala Andre menceritakan tindakan medis yang baru saja ia jalani, sungguh Andre tak ingin Bella berpikir bahwa, Bella akan ditinggalkan jika tak bisa memberikan seorang keturunan untuk keluarga Geraldy.
.
.
.
.
.
.
terima kasih sekali buat yang sudah bersedia like komen vote bahkan mengirimkan hadiah kembang atau kopi, poko nya lope lope sekebon buat kalian semua ... 🥰🥰🤗
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
sarangeeeeee 💟❤️