Andre Untuk Bella

Andre Untuk Bella
67.


__ADS_3

67.


Usai menghabiskan seporsi besar seafood pasta, kini Bella bersandar nyaman di pelukan suaminya, mereka sedang menikmati soda dan kudapan ringan, film action comedy yang sedang mereka saksikan nampak hanya sebatas formalitas, karena mereka justru sibuk melakukan hal yang lain, Bella terus menyuapkan potato snack pada suaminya, karena potato snack yang ia makan ternyata tak mampu ia habiskan seorang diri.


"Aku kenyang, kamu yang habiskan yah?" Rengek Bella.


Andre menggeleng, "tadi aku sudah ingatkan, tapi kamu tetap ingin makan snack, aku bahkan berbaik hati membantu menghabiskan, tapi jika kamu tak mau memakannya, aku akan menyuapimu, seperti ketika aku menyuapkan sepiring semangka waktu itu." 


Blush … sontak Bella teringat ketika Andre menyuapkan semangka melalui mulutnya, dan kini ketika Harus mengulang, Bella tentu tak mau.


"Gimana? Aku sih gak masalah kalau kamu memang ingin kusuapi pakai cara itu." Bisik Andre jahil.


Bella menggeleng kuat, Andre tersenyum senang, "bagus … ini baru istri yang baik, aku sangat senang jika istriku banyak makan," Andre mengusap usap rambut Bella.


Suara Bel pintu mengalihkan perhatian mereka, "oh sudah datang rupanya," Andre pun beranjak.


Bella menatap punggung Andre yang semakin menjauh dari pandangannya, ia penasaran siapa gerangan yang bertamu pada malam hari.


Tak lama Andre kembali dengan paperbag di tangannya.


"Siapa?" Tanya Bella.


"Ini tab dan obat obat yang harus kamu minum, tadi aku meminta tolong pada Gadisya agar mengemas dan mengirimkan nya kemari," jelas Andre panjang lebar.


Andre kembali mendudukkan dirinya di samping Bella.


"Sudah habis," ujar Bella bangga usai menghabiskan potato Snack nya.


“Bagus, ayo sekarang minum obatmu,” Andre menyodorkan obat yang harus di minum oleh Bella, dan dengan patuh Bella meminumnya. “istriku memang pintar dan penurut.” lagi lagi Andre menghadiahkan ciuman di bibir istrinya.


“Dan suamiku memang paling tahu, apa yang ku butuhkan.”


“Oh iya? sebutkan contohnya?”


“cinta …”


“hanya itu?”


“Iya, cintamu membuatku sempurna, cintamu membuatku merasa istimewa, dan cinta pula lah yang membawaku kembali padamu.” 


Andre tersenyum bahagia, hatinya sungguh berbunga, “itu karena kamu adalah rumah bagiku, tahukah kamu, betapa berat hari hari yang kulalui setelah kepergianmu?”


Bella mengeleng

__ADS_1


“Aku seperti raga tak tak bernyawa …" 


"Lalu apa sekarang nyawanya sudah kembali ke raga?" 


Andre mengangguk, "sudah, bahkan kembalinya ia menghadirkan jutaan rasa bahagia," 


Lagi lagi mereka saling menatap dengan rasa bahagia, ini lah Bulan madu yang Andre inginkan, menghabiskan banyak waktu berdua, tak ada orang lain, dan tak ada yang mengganggu.


*


*


*


Hari hari berikutnya, berjalan terus seperti itu, hampir di tiap sudut ruangan memiliki kenangan tersendiri, tawa, canda, pelukan, cium@n, tak terkira banyaknya, hingga aktivitas di sofa ruang tengah pun seringkali berakhir dengan adegan tanpa busana, tapi sekali lagi tak masalah, karena mereka tengah diliputi rasa bahagia.


Terkadang mereka saling bantu mengerjakan pekerjaan rumah, Andre memilih bekerja di rumah untuk sementara waktu, dan Bella tetap konsentrasi dengan desain baru nya, sesekali jika bosan, Andre membawa Bella ke Bioskop, atau makan di luar, bahkan makan lesehan di pinggir jalan sama sekali tak membuat Bella merasa risih, karena Bella sering mendengar Bima bercerita, bahwa semasa kuliah, ia tak punya banyak uang lebih untuk membeli makanan mewah, jadi pilihannya hanyalah warung tenda kaki lima, yang rasanya justru lebih mewah dibandingkan restoran bintang lima, Bella merasa sungguh amazing karena semua yang diceritakan Bima benar adanya, karena nya ia senang sekali ketika Andre mengajaknya menikmati makanan di warung tenda kaki lima, diiringi nyanyian pengamen jalanan, dan lalu lalang kendaraan di sekitar mereka.


Mereka baru menyambangi rumah utama setelah enam hari berlalu, tentu saja mereka langsung menjadi bulan bulanan Kevin, tapi seperti sudah mulai terbiasa Andre hanya menanggapinya dengan dingin.


Fokusnya kali ini tertuju pada Emira yang nampak murung, tak biasanya adik kecilnya tersebut cemberut.


Emira sedang patah hati, karena ternyata Arjuna tak memiliki perasaan yang sama terhadap nya, pasca Arjuna melarang Emira menunggu, laki laki itu benar benar membuktikan kata katanya, ia tak pernah lagi mendatangi Emira di tempat biasa, tentunya hal itu membuat lukisan duka di wajah cantik nya semakin terlihat jelas, tak ada lagi Emira yang sering tertawa jahil, tak ada lagi Emira yang cerewet, Emira seperti kehilangan jati dirinya, hingga rumah utama keluarga Geraldy, jadi semakin sunyi tanpa kicauan si bungsu.


"Biar aku saja," Bella menghalangi langkah Suaminya yang hendak mendekati Emira. "Emira tak akan jujur jika berbicara denganmu." 


"Iya aku Mengerti,"


"percayakan pada kami," Gadisya ikut menimpali, karena jujur saja, ia pun mulai merasakan gelagat aneh dari Emira.


Dari kejauhan, Andre dan Kevin melihat istri mereka tengah berbincang serius dengan si bungsu, Emira tampak dengan tenang menumpahkan segala keluh kesah dan uneg uneg nya, hingga ketiganya berakhir dengan saling berpelukan.


"Kadang aku masih merasa sedang bermimpi,"


Kevin berbicara lirih.


"Maksudmu?" 


"Pernikahanmu dengan Bella," 


Andre tersenyum simpul, "aku pun masih merasakan hal yang sama denganmu," pikiran nya mulai menerawang ke beberapa hari indah yang ia dan Bella lalui.


"Aku pun masih penasaran dengan alasan kepergianmu meninggalkan Gadisya." tiba tiba saja Andre ingin menyinggung kejadian yang sudah lama berlalu.

__ADS_1


Kevin sendiri merasa bodoh, bagaimana bisa saat itu ia pergi begitu saja, seandainya ia mendatangi Gadisya dan bertanya, tentu masalahnya tak akan berbuntut panjang, tapiia justru memilih pergi dengan rasa cemburu yang begitu melingkupi hati, ia merasa sangat kecewa pada Gadisya, hanya gara gara Gadisya menerima tawaran Bima, padahal saat itu hujan sangat deras, jadi wajar jika Gadisya menerima ajakan Bima untuk mengantarnya sampai apartemen.


"Hahahaha … jadi gara gara itu?" Andre tertawa terpingkal-pingkal, menertawakan kebodohan saudara kembarnya.


"Yah bukan hanya itu, masih ada sebab yang lain juga," Kevin menambahkan.


 "Apa kamu tidak pernah bertanya pada Gadisya, hari itu ada siapa saja di dalam mobil?" 


Dan dengan bodohnya Kevin menggeleng. 


Andre semakin tergelak, "kamu tahu, hari itu aku dan Bima dari Airport menjemput Bella," 


Kevin semakin terkejut mengetahui fakta sesungguhnya. 


"Bella, jauh jauh datang dari Singapura, untuk memberi ucapan selamat atas pernikahan kalian, karena saat itu ponselmu tak bisa dihubungi, jadi kami putuskan untuk makan diluar tanpamu," 


Kini jelas sudah kesalahpahaman yang terjadi bertahun tahun lalu, menyesal? Tentu saja, tapi Kevin tak mungkin lagi kembali berbalik ke belakang, atau sekedar menyalahkan takdir tuhan, ternyata kecemburuan dan kebodohannya lah yang menjadi penyebab utama perpisahannya dengan Gadisya.


#(reader : hadeuuhh bang … 😥)


Andre menyadari perubahan mimik wajah saudara kembarnya, ia pun melingkarkan tangannya di pundak Kevin.


“Tataplah masa depan kalian, buatlah istrimu selalu tersenyum bahagia, aku, kamu, bahkan daddy, sama sama pernah melakukan kesalahan, tak ada manusia sempurna, yang ada adalah manusia yang mau melihat kesalahan mereka sebagai pelajaran berharga untuk masa depan.” 


.


.


.


.


.


mohon maaf yang sebesar besarnya yah, anak anak sedang sakit 😣, jadi tak bisa menepati janji dobel up, doakan anak anak othor segera sembuh yah 


.


.


.


.

__ADS_1


.


pokoke sarangeeeeee sekebon apa aja lah 💟❤️


__ADS_2