
76.
Hingga siang hari, Kevin dan Gadisya belum juga memberi kabar, jadilah peran sebagai orang tua pengganti terus berlanjut, Andre dan Bella terus bergantian menimang Luna, karena bayi kecil itu akan menjerit histeris jika yang menimangnya berhenti bergerak.
Walau lelah, tapi dengan sabar dan senyum keduanya tetap berbagi peran tanpa mengeluh.
"Holllaaaa … kakak kakakku." Emira yang sudah berganti dengan baju rumahan kini ikut bergabung.
"Ah syukurlah kamu datang." Sambut Bella.
"Kan aku pengertian, sini berikan padaku, aunty siaga siap membantu." Tanpa canggung apalagi kaku, Emira mengambil alih Luna dari pelukan Bella.
"Hai baby, apa kamu merindukan aunty juga?" Tanya Emira pada Luna.
Seakan mengerti perkataan Emira, bayi kecil itu bergerak sesaat kemudian kembali terlelap.
"Auuuhhh manisnya," gumam Bella, "Luna sangat sangat menggemaskan."
"Iya kak, aku pun merasa demikian,"
"Sayang aku ke bawah sebentar yah, ada Sherin yang mengantar beberapa berkas pekerjaan." Pamit Andre.
Bella mengangguk, dan menatap punggung suaminya hingga menghilang di balik pintu.
"Hei … bagaimana Arjuna? Apa dia masih juga berpura-pura tidak mengenalmu?" Tanya Bella, ia masih penasaran dengan kelanjutan kisah adik iparnya tersebut.
Emira mendadak muram, "begitulah kak, dia bahkan mengacuhkan aku ketika kami tak sengaja berpapasan."
"Kadang aku berpikir, apa sebaiknya aku berubah saja yah, aku buka penyamaran ku, agar dia kembali memperhatikan aku? Tapi aku jadi teringat ketika dia mengatakan bahwa dia membenci gadis “berwajah cantik” secercah harapan kembali muncul, aku yakin sekali apa yang dia katakan saat itu benar adanya."
"Bagaimana kamu bisa yakin Arjuna mengatakan yang sebenarnya??" Bella semakin penasaran.
“Aku melihat sesuatu yang lain di matanya, raut kesedihan, dan duka.”
“Kamu tidak penasaran, dengan alasan Arjuna berkata demikian?”
“Gimana mau tanya, kak Arjuna nya saja tak bisa didekati, dia bahkan sengaja berbaur dengan teman teman satu geng nya, intinya aku semakin kesulitan mendekatinya, bahkan untuk menyapa saja aku tak bisa.”
__ADS_1
Emira cemberut, bahkan sudah hampir menangis, “dulu aku pernah menyukai teman sekelas ku, tapi rasanya biasa saja, entahlah kenapa Arjuna berbeda kak, aku bahkan rela berpenampilan konyol, sangat jauh dari sifatku yang sesungguh nya, lebih parahnya lagi, aku memilih sekolah umum tempat Arjuna berada, aku meminta daddy menyembunyikan nama asliku, dan jika semua harus berakhir seperti ini, rasanya aku tak rela kak.” Emira bersandar dan menangis di pelukan Bella, gadis yang sedang dalam masa remaja yang penuh dengan keingintahuan itu kini menangis sedih.
Bella mengusap rambut dan punggung Emira, teringat kala remaja pun ia berkali kali di buat patah hati oleh pria yang kini menjadi suaminya.
“Bolehkah kakak memberi saran, walaupun dulu di usiamu saat ini, kakak sendiri gagal menjalankannya.”
“Kakak keduaku pasti sangat menyebalkan saat itu.” tebak Emira.
“Benar sekali, kakak mu adalah pria paling menyebalkan di seluruh galaksi, aku sungguh ingin menghajarnya, sayang nya aku tak sanggup, karena dia terlalu tampan di mataku.” Bella meringis sedih, mengingat kala itu, walau jarang bertemu Andre karena pria itu sudah kembali ke Jakarta, tapi mereka cukup sering melakukan panggilan video. “tapi … cobalah untuk melepaskan Arjuna walau susah, cinta tak akan kemana jika kalian sudah ditakdirkan berjodoh.”
“Seperti kalian berdua?” tebak Emira.
Dan Bella hanya mengangguk, namun bibirnya tersenyum bahagia.
*
*
*
Akhirnya, di sore hari Bella mendapat kabar dari Kevin, bahwa Daniel dan Darren harus menjalani rawat inap, karena di paru paru mereka terindikasi ada bakteri, jadi harus diawasi secara intensif hingga paru parunya bersih.
Lagi lagi Andre tersenyum, “bukankah kita berdua juga orang tuanya?”
Bella menatap kedua mata Andre, “bolehkah jika kita bawa pulang saja? aku akan senang sekali jika bayi cantik ini menjadi anak kita.” Bella berangan, sementara tangan kanannya tengah menahan dot agar tidak terjatuh.
“Memang siapa yang berani melarang? bagaimana jika besok kita bawa bayi ini kabur ke rumah kita?”
Bella mengangguk bahagia, “apa kamu bisa bayangkan seperti apa wajah Kevin, jika tahu putri kesayangannya kita bawa kabur.”
“Yang jelas wajah marah Kevin, sungguh membuatku bahagia.” seloroh Andre, dengan seringai jahil.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
akhirnya setelah sekian lama tak apdet di jam kunti 👻 semalam kejadian lagi.
.
.
.
.
rencananya mau up di jam 21, tapi ngantuk sekali jadilah tertunda, sampe jam kunti ... maafkan 🙏
.
.
.
.
.
terima kasih yang masih setia kirim sajen dan vote, othor sangat menghargai nya ... 🥰🥳
.
.
.
.
__ADS_1
sarangeeeeee 💛 💛