
94.
Empat tahun kemudian.
Geraldy Kingdom berdiri megah diatas sepuluh ribu hektar tanah, Alex tak main main dengan keinginan nya, ia benar benar mewujudkan mimpinya membangun istana megah untuk cucu cucunya, istana megah itu tak hanya tempat bermain, tapi juga wahana edukasi dan belajar, banyak hal yang Alex ingin cucu cucunya kuasai, sebagai bekal mereka melindungi diri dan orang orang yang mereka cintai.
Sejak dini para kembar keturunan Geraldy diajar berkuda, memanah, bela diri, menembak, bahkan kemampuan bermain pedang, juga berenang, tentunya disesuaikan dengan usia mereka, dan juga pemahaman yang terus menerus di tanamkan, bahwa kemampuan mereka hanya digunakan dalam keadaan darurat, bukan untuk jumawa atau adu kesombongan.
"Opa … burung burung dara itu sudah berkumpul, tapi kasihan pakan mereka sedang habis." Celetuk Danesh.
"Oh yah … sudah kamu periksa di gudang," sahut opa Alex.
"Sudah opa, tadi aku yang periksa." Dean si sulung tak mau ketinggalan.
Yah kini pasukan opa Alex bertambah, selain Daniel, Darren, dan si cantik Luna, kini bertambah lagi Dean dan Danesh.
Daniel, Daren, dan Luna, sudah berada di sekolah karena usia mereka yang memang sudah memasuki usia sekolah, sementara Dean dan Danesh yang setahun lebih muda, masih harus bersabar menunggu tahun berikutnya untuk bisa bermain di sekolah.
Oma Stella datang dengan susu dan camilan untuk kedua cucu nya, donat berlapis coklat serta buah manggis favorit kedua cucunya.
"Ayo sayang, cuci tangan kalian dulu sebelum makan…" ujar oma Stella manakala meletakkan nampan berisi makanan di meja taman.
Mata kedua bocah itu berbinar bahagia.
"Siapa yang kalah dia pecundang," Dean sudah berlari mencuri start.
"Hei aku bahkan belum bersiap, bisa bisanya kamu membuat aturan konyol." Danesh segera mengejar saudara sulungnya.
Mereka berkejaran di jalanan berbatu, tak ada tangis kekalahan, yang ada hanyalah tawa bahagia, rambut coklat mereka bergerak karena tiupan angin, wajah mereka kemerahan tertimpa cahaya matahari, tapi senyuman mengembang sempurna.
Oma Stella tersenyum menatap kedua cucunya tersebut, setelah memutuskan pensiun dari rumah sakit, hidupnya kini hanyalah fokus bermain dan berbahagia bersama suami dan cucu cucu kecilnya, selalu tertawa agar ia juga selalu merasa muda.
Perjalanan hidup memang tak pernah menjanjikan segala kemudahan, tapi selalu ada kemudahan dibalik setiap kesulitan.
Dean dan Danesh kembali berlari mendekat, melihat kedua cucunya ini, membuat oma Stella teringat Andre ketika masih seusia mereka, anak yang sering ia tinggalkan, karena masih sibuk dengan pendidikan nya sebagai dokter, kini ia ingin menebus semua nya, dengan mencurahkan seluruh waktunya demi membantu mengasuh anak anak Andre dan Kevin.
Begitupun opa Alex yang juga sepakat dengan keinginan sang istri.
"Oma apakah donat coklat juga makanan favorit mommy?" Tanya Danesh yang serba ingin tahu.
"Iya, mommy dan daddy kalian memiliki kegemaran yang sama, yaitu coklat." Jawab oma Stella.
"Kalau manggis, kenapa kami berdua sangat suka makan manggis?" Dengan mulut yang sudah berlumur coklat Dean menambahkan.
"Itu karena, ketika hamil kalian dulu, mommy kalian suka sekali makan manggis manggis ini." Stella mengupas manggis manggis tersebut, agar memudahkan kedua cucunya untuk makan.
__ADS_1
"Sayang aku mau ..." Pinta opa Alex.
"No opa, ini milik kami, opa tak boleh memakannya," protes Danesh.
"Kenapa?" Tanya opa Alex iseng, ia sengaja menggoda kedua cucu nya.
"Nanti habis, daddy bahkan belum beli lagi."
Gerutu Dean.
"Sudah telepon daddy?"
"Belum …" jawab Dean dan Danesh bersamaan.
"Kalau begitu telepon daddy kalian, dan minta dia membeli manggis dan makanan untuk burung dara itu."
Dean dan Danesh hendak beranjak, tapi oma Stella mencegah mereka, "stop, habiskan dulu makanan kalian,"
Kedua bocah itu tersenyum dan mengangguk.
Usai menghabiskan snack mereka, Dean dan Danesh meminjam ponsel oma Stella.
"Iya jagoan," wajah lelah Andre terlihat di layar ponsel.
"Daddy … kapan daddy pulang?"
"Kami mau manggis dan pakan untuk para burung dara."
"Oh baiklah, siap laksanakan, ada lagi yang lain?"
"Daddy kami merindukanmu."
"Aaaahhh manisnya anak anak daddy, Bima bisakah daddy nya anak anak ini pulang terlebih dahulu?" Tanya Andre yang mengarahkan kamera ke wajah Bima.
Bima pun mendongak, menatap dua bocah yang tengah menatap dengan puppy eyes mereka yang menggemaskan, "No … daddy kalian masih banyak pekerjaan," dengan tega Bima menjawab, membuat senyum kedua bocah manis tersebut sirna seketika.
"Om Bima jahat." Danesh.
"Om Bima seperti monster." Dean.
"Tapi kenapa tante Sherin baik?" Danesh.
"Karena tante Sherin ibu peri."jawab Dean dengan polosnya.
Mau tak mau Andre dan Bima terbahak bahak mendengar celotehan keduanya.
__ADS_1
Panggilan berakhir, begitu pun snack buah dan susu mereka, semuanya habis tak bersisa.
"Uuuuuhhhh pintar sekali cucu cucu oma," oma Stella mengusap kepala kedua cucunya.
"Sekarang saatnya mandi dan tidur siang."
"Dean Danesh …" terdengar suara lembut memanggil keduanya, seketika bocah bocah tampan itu menoleh ke asal suara.
"Iya mommy, kami datang," Sahut keduanya berbarengan.
Wanita yang dipanggil mommy itu tersenyum hangat, menyambut pelukan kedua putranya.
"Mommy aku ingin berenang." Dean.
"Aku juga mom," Danesh ikut merengek.
"Nanti sore saja, tunggu daddy kalian pulang."
"Om Bima bilang daddy sibuk."
"Iya om Bima jahat seperti Monster."
.
.
.
.
.
.
sudah ada mommy baru kah atau?
.
.
.
.
.
__ADS_1
sarangeeeeee 💛❤️