
95.
"Dean Danesh …" terdengar suara lembut memanggil keduanya, seketika bocah bocah tampan itu menoleh ke asal suara.
"Iya mommy, kami datang," Sahut keduanya berbarengan.
Wanita yang dipanggil mommy itu tersenyum hangat, menyambut pelukan kedua putranya.
"Mommy aku ingin berenang." Dean.
"Aku juga mom," Danesh ikut merengek.
"Nanti sore saja, tunggu daddy kalian pulang."
"Om Bima bilang daddy sibuk."
"Iya om Bima jahat seperti Monster."
“Sssstttt tidak boleh berbicara kasar seperti itu,” tegur sang mommy, seraya berlutut agar tinggi nya sejajar dengan kedua putra kesayangannya.
Dean dan Danesh tampaknya tak setuju dengan perkataan mommy mereka, terbukti kini keduanya sudah melipat lengan di dada, dan wajah mereka seketika cemberut dengan kedua alis saling bertaut, mereka kembar tidak identik, tapi ekspresi wajah bahkan selera makan tidak ada perbedaan, dan sang mommy sangat suka jika kedua anak anaknya sedang cemberut, menurutnya mereka berlipat lipat kali lebih tampan jika sedang cemberut.
“Kalian masih ingat perkataan mommy tempo hari?”
Dean dan Danesh saling tatap, mencoba mengingat perkataan mommy mereka.
“Menjadi tampan sempurna itu, harus juga diiringi sikap dan perkataan yang baik, barulah bisa disebut tampan paripurna seperti daddy.”
“Yes mom,” Dean.
“Yes mom,” Danesh.
“Okay … good kalian memang para pria tampan kesayangan mommy,” sang mommy menghadiahkan peluk dan ciuman sayangnya. “ayo kita mandi kemudian tidur siang.
*
*
*
Sore harinya,
Andre memarkir mobilnya di garasi, teringat pesan yang dikirimkan sang istri, ia pun bergegas pulang, untuk menemani anak anak nya berenang, sebelum masuk ke rumah, ia mengambil barang barang pesanan kedua putranya, yakni pakan untuk para burung dara di Geraldy Kingdom, serta buah manggis.
Hingga kini Andre masih tertawa geli, jika melihat manggis, sejak kejadian konyol malam itu Andre menjadi pelanggan tetap kios buah tersebut, bahkan tak jarang ia sengaja memesan manggis via telepon, dan si embak pemilik kios akan mengantarkannya dengan senang hati, ketika Andre membawa kedua jagoannya menyambangi kios, si embak dengan senang hati menerima dan menyambut keduanya dengan ramah, karena tak bisa di pungkiri, kedua cicit opa Sony Geraldy memang memiliki wajah tampan paripurna seperti sang daddy dan jangan lupakan mereka juga sudah memiliki jiwa penggoda sejak dini, tentunya turunan sang daddy.
__ADS_1
Teriakan riang menyambut kedatangan Andre.
“Yeay … daddy datang!!!!!” Riuh suara bocah memanggil, berlarian dan menyambutnya.
Andre merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan mereka.
Jangan dikira yang berteriak hanya dua anak, melainkan lima anak sekaligus termasuk anak anak kevin, Daniel, Darren dan si cantik Luna, yang juga memanggilnya dengan sebutan daddy, begitupun Dean dan Danesh memanggil Kevin dengan sebutan papa.
Kelima bocah itu berlari dan berebut memeluk Andre, sama seperti mereka menyambut kedatangan Kevin.
“Daddy … ayo kita berenang,” pinta Danesh yang sejak tadi sudah bersabar menunggu, termasuk tidur siang seperti permintaan sang mommy.
“Daddy … tadi darren merusak pita rambutku,” keluh Luna, karena ia berbeda dari kedua kakak dan kedua adik sepupunya, karena dia tetap menjadi yang paling disayang dan yang paling cantik, karena satu satunya cucu perempuan opa Alexander, dan sama seperti ketika bayi Luna memang lebih dekat dengan Daddy nya ketimbang dengan Kevin sang papa.
“Oh kasihan gadis nya daddy, mana coba daddy lihat pita nya?” pinta Andre.
Luna mengeluarkan pita berwarna merah muda dan biru pemberian sang daddy, pita itu oleh oleh Andre ketika ia sedang dalam perjalanan bisnis ke London beberapa minggu yang lalu, wajah Luna mulai memerah menahan tangis.
“Eh eh kenapa menangis?” tanya Andre.
“Aku takut daddy marah.” adunya.
Andre tersenyum lalu memeluk gadis kecilnya dengan sayang, “daddy tidak marah sayang, pita itu tidak berharga, jika rusak, daddy bisa belikan banyak untuk mu,”
Tangis Luna pecah semakin keras.
“Aaaahh … dasar Cengeng, tadi aku sudah bilang begitu dad, tapi Luna masih juga marah.” Adu si sulung Daniel.
Andre tersenyum bijak, “Darren … sudah minta maaf pada adikmu?”
Darren menggeleng.
“Jika begitu silahkan minta maaf dulu, baru setelah itu kita berenang.”
Darren mendekati sang adik yang masih sesenggukan, “maafkan kakak yah,” Darren memeluk Luna, dan dengan kepolosan nya Luna mengangguk.
Menghadapi pertengkaran para bocah, kini menjadi makanan sehari hari bagi seluruh anggota keluarga Geraldy.
“Ayo dad, cepatlah, sebentar lagi matahari tenggelam, mommy pasti memarahi kami jika kami belum selesai berenang.” keluh Danesh tak sabar.
Andre mengangguk, ia bergegas mengganti kemeja dan celana kerjanya , dengan celana renang.
*
*
__ADS_1
*
Usai berkutat dengan para bocah di kolam renang, Andre menyelesaikan tugasnya sekaligus membantu mereka semua mandi, bilas, dan berganti pakaian hangat, tugas selanjutnya beralih pada para nanny mereka, yakni makan malam.
Andre kembali kekamar guna membilas dirinya sendiri, ia melepas bathrobe mandinya ketika tiba di walk in closet, ia masih celingukan mencoba mencari jejak wanita kesayangannya yang sejak tadi tak menampakkan batang hidungnya.
Iseng iseng ia membuka sedikit pintu kamar mandi, Andre tersenyum, benar sekali dugaannya, lagi lagi sang istri tertidur di bath up.
“Kasihan sekali, ia pasti kelelahan.” gumam Andre.
Andre melepas celana renangnya hingga ia polos tanpa sehelai kain menutupi tubuhnya, kemudian ia ikut bergabung bersama istrinya di bath up, kecipak air luber ke lantai ketika ia menenggelamkan tubuhnya di sana.
Jelas saja sang istri terbangun, wajahnya terbelalak marah, ketika melihat suaminya ikut bergabung di dalam bath up.
“Apa yang kamu lakukan? airnya jadi tumpah kemana mana.” gerutu sang istri.
“Kita bisa mengisinya lagi sayangku,” jawab Andre yang sudah memindahkan istrinya ke pangkuannya, serta mulai menikmati aroma sabun dari Leher istrinya.
“Sayang … Aahh …. hentikan.”
“Kenapa Hmmm?” jawab Andre, yang tak ingin menghentikan aktivitasnya, bahkan kedua telapak tangannya sudah membelai area favoritnya.”
“Kebiasaan, nanti kalau anak anak masuk bagaimana?”
“Anak anak sedang bersama pawang mereka, dan pintu kamar sudah terkunci rapat, tak ada yang akan mengganggu kita, setidaknya tiga jam ke depan.”
Andre menatap wajah istrinya, “hei kenapa cemberut, aku baru pulang kerja, aku bahkan sudah mengasuh kelima anak kita, lalu apa aku juga masih dilarang bersenang senang dengan istriku?”
Wanita di hadapannya menggeleng, “tidak,” ujarnya.
“Lalu?” Andre mencium sekilas bibir sang istri.
“Aku hanya ingin mengatakan, aku semakin mencintaimu,” ciuman panjang di hadiahkan sang istri pada Andre. “ini hadiah untuk suami dan daddy terbaik di dunia.”
Andre tersenyum senang, ia seperti sedang mendapat undangan Private Party dari sang istri.
“Jadi bisakah kita berpindah ke tempat yang lebih nyaman? sepertinya tempat tidur sudah menunggu kita.”
“Sepertinya bukan ide buruk,” jawab sang istri.
Keduanya terkikik Geli seperti sepasang muda mudi yang merasakan setiap hari jatuh cinta pada pasangan mereka.
...__________ The End _________...
...haruskah tamat sekarang?...
__ADS_1
^^^mereka terlalu sweet untuk di akhiri begitu saja.^^^