
83.
Gadisya meletakkan baby Luna di box bayi nya, sementara Daniel dan Darren sudah berpindah ke tangan nanny mereka masing masing.
"Tunggu sebentar," pesan Gadisya.
Dengan patuh, Bella mengangguk.
Tak lama Gadisya kembali dengan 3 buah test pack di tangannya, test pack itu sengaja ia beli, ketika ia mulai berbaikan dengan Kevin, tapi ternyata tidak pernah terpakai.
"Ini … periksalah sendiri, kamu akan segera tahu jawabannya."
"Ini …" tanya Bella tak percaya.
"Alat uji kehamilan, siapa tahu kita segera mendapat kabar baik." Jawab Gadisya penuh teka teki.
Bella mengangguk senang, dengan penuh semangat ia menuju kamar nya, hendak memastikan sendiri, benarkah saat ini ia sedang mengandung atau hanya mual biasa.
Setelah menampung urin di sebuah cawan kecil, Bella segera menenggelamkan ke tiga alat tes pemberian Gadisya, ia tak berani menunggu, terlalu berdebar, takut pingsan, jika hasilnya tak sesuai harapan.
"Lho kok sudah keluar?" Tanya Gadisya penasaran.
"Aku takut, kamu saja yang periksa." Ujar Bella terus terang.
Gadisya memahami ketakutan saudara iparnya tersebut, sangat lah wajar jika Bella takut hasilnya tak sesuai harapan, karena sudah lama sekali Bella mengharapkan segera hamil, terlebih pasca pengangkatan salah satu ovarium nya beberapa bulan lalu, Bella bahkan sudah berpikir, bahwa ia tak akan bisa hamil seperti perempuan lain pada umumnya.
Gadisya menggenggam tangan Bella yang sudah mulai dingin dan berkeringat. "Santai saja, tetap rileks, jika masih negatif, anggap saja kalian masih berpacaran, nikmati sebanyak banyaknya waktu kalian selama masih berdua, jika sudah berlima seperti ku, mana bisa berduaan." Gadisya terkekeh geli.
Mau tak mau Bella menyunggingkan senyumnya, "sebentar aku periksa dulu, semoga positif yah." Dengan tak sabar, Gadisya menuju toilet di kamar Bella.
Tik
Tok
Tik
Tok
Tik
__ADS_1
Tok
Setelah beberapa saat Gadisya keluar dari toilet, wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Kenapa lama sekali, aku deg degan nih." Bella sudah tak sabar menanti kabar.
Gadisya menatap Bella dengan mata teduhnya, membuat Bella semakin dag dig dug.
"Bell …" ucapan Gadisya tertahan.
"Kenapa Sya … aku gak papa kok kalau masih negatif."
"Bella maaf … tapi sepertinya … kamu harus bersiap menjadi mommy …" Gadisya tersenyum lebar, berbanding terbalik dengan wajah Bella yang masih membeo.
Mendadak Bella merasa seluruh isi kepalanya kosong, ia tidak tersenyum, tidak juga menangis, hanya terdiam tak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Hei … kenapa diam, kamu positif hamil," Gadisya menepuk kedua pipi Bella. "Ayo, segera telepon suamimu, dia pasti segera pulang."
Bella tersenyum, tapi air matanya berurai.
"Hei … kenapa menangis?"
"Aku senang sekali Sya … ini air mata bahagia."
Flashback end
"Terima kasih,"
"Berterima kasih untuk apa?" Andre mengeratkan pelukannya.
"Karena sudah mempercayai aku, menerima kekuranganku, bahkan membuatku yakin, bahwa kita hanya butuh bahagia bersama,"
"Dan pada akhirnya tuhan menilai kita sangat layak untuk menjadi orang tua, bagi anak anak kota kelak."
Andre hanya mengangguk haru, lagi lagi ia menghujani wajah Bella dengan ciumannya, ia begitu bahagia, karena sebentar lagi memiliki anak anak nya sendiri.
"Apa Gadisya juga mengatakan, berapa usianya saat ini." Andre masih mengusap perut Bella.
"Iya, katanya baru berjalan lima minggu," jawab Bella antusias.
__ADS_1
"Besok kita ke rumah sakit yah, aku ingin melihat anakku dari dekat."
Bella mengangguk senang.
Kruuukkk … tiba tiba terdengar suara nyanyian misterius.
"Kamu lapar?"
"Iya, hari ini aku benar benar tidak bisa makan, dan aku mau pasta buatanmu." Pinta Bella manja.
"Baiklah, pasta spesial untuk istri ku akan segera siap." Andre segera bangkit dari hangat dan nyamannya pelukan mereka. "Tunggulah disini."
"Aku mau ikut…"
"Tidak mual?"
Bella menggeleng, "sepertinya tidak, bayi ini ingin di dekat daddy nya,"
"Hanya bayi nya saja?" Sindir Andre.
"Emp … mommy nya juga." Jawab Bella tanpa canggung.
Andre mencium sekilas bibir Bella, Kemudian menggendongnya hingga ke meja makan, "tunggu lah di sini, aku akan mengambil tiang infus nya."
"Bisakah di buka saja?" Pinta Bella penuh harap.
"No, para dokter itu bilang, harus sampai isinya kosong."
Bella mengerucut kan bibirnya.
"Netralkan kembali bibirmu, atau kita tidak jadi makan, jangan lupa sudah enam hari berlalu sejak terakhir kali nya."
Bella terdiam, ia tentu tahu sekali apa yang dimaksud kan oleh sang suami.
"Maaf … kalau begitu, aku akan diam dan menunggu, tapi aku mau duduk di sana." Bella menunjuk meja dapur, teringat ketika hari hari mereka hanya berdua dirumah, Bella duduk di meja dapur, seperti Ratu, di layani dan diperhatikan penuh oleh suaminya.
"Baiklah … sesuai aplikasi nyonya?" Tanya Andre menirukan logat driver ojeg online.
"Iya tuan, cepatlah … aku sudah lapar."
__ADS_1
Interaksi mereka begitu manis, hingga tanpa mereka sadari mereka sedang diawasi sepasang mata biru milik mommy Stella, mommy Stella menatap haru pada keduanya, "semoga kalian selalu bahagia …" doanya dalam hati.
Mommy Stella kembali ke kamar, ia urung ke dapur mengambil minum, khawatir mengganggu sepasang suami istri yang sedang menikmati bahagia.