
79.
"Kemarilah … jangan dengarkan daddy," Stella memeluk putri bungsunya tersebut, "mommy tak ingin membatasi pergaulanmu, carilah teman sebanyak mungkin, tapi tetap jaga batasan sebagai seorang gadis, junjung selalu norma norma yang sudah mommy ajarkan padamu sejak kecil, gunakan kemampuan bela dirimu hanya untuk situasi darurat, bukan untuk bersikap sewenang wenang, paham?"
Emira mengangguk paham, “iya mom, akan ku ingat.” jawab Emira patuh. “aaaww …” Emira meringis sesaat ketika merasakan sebuah tendangan dari kaki kecil keponakannya, si tengah seolah olah tak rela jika kedekatannya dengan sang oma terganggu dengan keberadaan Emira. “heh … jangan sok berkuasa yah, ini mommy ku … tuh mama dan papa mu disana,” ujar Emira bermaksud membalas tendangan kecil yang di hadiahkan Darren padanya.
Tapi tak disangka, mendadak wajah Darren berubah mendung, bibirnya mengerucut disusul kemudian tangisan pun pecah tak terbendung lagi, sontak sesi ruangan tertawa gemas.
“Auuh sayang … cucu oma,” Ujar mommy Stella yang tak tega melihat kesayangannya menangis.
“Masih kecil sudah manja, gimana nanti kalau sudah besar, benar benar duplikat abang …” gerutu Emira dengan senyum tertahan, tanpa sadar mata Kevin sejak tadi mengawasinya dengan tajam, seolah menyadari dirinya sedang diawasi, Emira pun mendongak, bukannya takut melihat ekspresi tak senang dari saudara sulung nya, Emira pun menjulurkan lidah nya.
“Yang paling cantik dan menggemaskan tentu saja si dia.” Emira kini berpaling menghadap baby Luna yang tengah manja di pelukan Bella, bayi cantik itu bahkan tertawa menggemaskan manakala Emira menggelitik perutnya, “nanti kalau sudah besar, aunty akan membawamu pergi berbelanja, kita gesek habis kartu milik daddy dan papamu, setuju?” seakan mengerti bahwa berbelanja dan menghabiskan uang adalah aktivitas menyenangkan, baby Luna kembali tertawa menggemaskan, “tuh kakak dengar sendiri kan, bayi kecil ini bahkan sudah mengerti jika berbelanja adalah aktivitas menyenangkan, hahahaha …” Emira tertawa keras, tak peduli kedua kakak kembarnya tenga menatapnya dengan pandangan aneh.
“Jangan mengajarkan hal buruk pada keponakanmu,” tegur Kevin.
“Sejak kapan berbelanja disebut hal buruk, justru berbelanja adalah aktivitas positif, yang mampu meningkatkan dopamin, ini semua pasti karena kakak ipar terlalu hemat, abang jadi semakin pelit.”
Gadisya yang tengah menjadi tersangka tiba tiba mendongak, “Kenapa jadi aku yang bersalah?”
“Apalagi yang harus aku beli, jika semua barang mewah yang ku butuhkan sudah tersedia di rumah.” jawab Gadisya santai.
“Oh iya? kak Bella juga?”
Bella hanya mengangguk santai.
Kemudian menatap kedua kakak nya, Andre dan Kevin kini tengah berwajah pongah seakan akan mereka baru saja menang satu poin dari adik mereka.
“Jadi masih mau bilang kami pelit?” Andre.
“Ayo mau bilang apa lagi sekarang?” Kevin.
Emira terdiam, “ah sudahlah … terserah, cape berdebat dengan kalian, aku sudah terlambat,” ujar Emira yang memilih meninggalkan perdebatan yang ujung ujung nya akan membuatnya tersudut, “hei … putri kecil, ingat kesepakatan kita tadi yah, jangan takut, jika daddy dan papamu tak mau memberikan kartu nya, kita bisa meminjam kartu milik Uncle …” lagi lagi Emira menggunakan bahasa yang ambigu, seolah memantik pertengkaran.
#what ... Uncle, lagak lagaknya Emira mulai mengibarkan bendera perang pada kakak dan abangnya 🤪
Beberapa saat setelah Emira pergi.
Gadisya menatap tajam kearah suaminya.
“Bisa tidak kalau kalian tidak terlalu keras pada Emira, dia sedang dalam masa tak ingin dilarang apalagi di kekang, berikanlah batasan yang wajar, agar dia tetap merasa dihargai.” tutur Gadisya pada Kevin.
“Istrimu benar bang, Emira sedang dalam masa itu, cukup awasi, dan ingatkan jika dia salah, papi yakin dia akan mengerti.” Alex menambahkan.
“Iya pi …” jawab kevin.
*
*
*
Jam pelajaran usai, ini hari terakhir ujian kenaikan Kelas, dan para siswa termasuk Emira segera berhamburan meninggalkan sekolah.
Tadi pagi ketika berpamitan, Emira sudah meminta izin pada mommy Stella, bahwa dia akan ke toko buku, membeli beberapa buku yang dia butuhkan.
Usai membayar semua buku yang ia beli, Emira berjalan meninggalkan toko, menyesal sekali rasanya, karena kini ia kewalahan membawa buku buku yang ia beli, seharusnya tadi ia menuruti saran mommy Stella, yang memintanya pergi bersama pak wawan, minimal ada yang akan membantunya membawakan buku.
__ADS_1
Tapi semua sudah terjadi dan Emira tak ingin menyesalinya, Emira berjalan sambil memeluk buku buku medis yang akan ia baca selama libur sekolah.
Karena kewalahan membawa banyak buku, tanpa sengaja Emira menabrak seseorang, rupanya orang itu tak sendiri, ia bersama tiga orang temannya.
Dan kini keempat siswa laki laki dari SMU Pelita Harapan itu, tengah menatap tajam pada seragam yang dikenakan Emira, awalnya Emira tak menyadari, namun ketika para lelaki yang seusia dengannya tersebut melihat seragamnya dengan wajah beringas, barulah Emira menyadarinya.
"Eh m … ma … maaf, aku gak sengaja."
Emira meminta maaf, karena memang merasa dirinyalah yang bersalah.
"Maaf kamu bilang?"
"Iya maaf, karena aku sudah nabrak kalian, aku gak lihat depan karena fokus pada barang bawaanku,"
Jawab Emira, sambil memunguti buku bukunya yang kini berserakan di jalan.
Melihat Emira yang kerepotan memunguti buku, tak ada sedikitpun rasa iba dari para siswa SMU Pelita Harapan, justru mereka tersenyum miring dengan gaya nya yang angkuh.
Setelah selesai memunguti buku bukunya, Emira kembali berdiri, Lagi lagi ia kerepotan membawa buku buku tersebut, menyesal rasanya tadi ia tak mendengar perkataan mommy Stella, supaya ia meminta pak wawan menemaninya ke toko buku, setidaknya ia bisa pulang dulu, dan berganti pakaian, dan tak perlu khawatir jika bertemu para Berandalan SMU Pelita Harapan.
“Kamu pikir semua ini bisa selesai hanya dengan satu permintaan maaf saja?
“Maksud kalian apa?” tanya Emira penasaran.
Ketiga siswa SMU Pelita Harapan tersebut, menggiring Emira ke tempat sepi, lebih tepatnya mereka kini di tempat parkir yang terbilang cukup lengang, Emira mulai meningkatkan kewaspadaan, ia tahu situasinya kini sedang tidak aman.
“Setidaknya kamu harus menemani kami bersenang senang.” ujar salah satu Siswa SMU Pelita Harapan tersebut.
“Rupanya sikap kalian tidak pernah berubah sejak dulu, sungguh pengecut sikap kalian, apa kalian tidak melihat, kalau dia adalah seorang gadis, bagaimana bisa kalian mengepung seorang gadis yang sedang sendirian?” Entah datang dari mana, tiba tiba Arjuna sudah berdiri di depan Emira, seolah memasang dirinya sebagai tameng.
“Tentu saja, sikap semacam ini disebut apa jika bukan pengecut?” balas Arjuna tanpa takut.
#Apa dan bagaimanakah kisah selanjutnya, nanti ada di buku Emira dan Arjuna. 😁
*
*
*
Sementara itu, usai kehebohan pagi hari, Gadisya dan Bella kini sedang bersantai di ruang tengah sementara si kembar sedang berbaring santai dengan mainan mereka masing masing, sementara baby Luna tengah menikmati Asinya di pelukan Gadisya, yah walau Baby Luna tak menikmati Asinya secara langsung, Gadisya tetap bahagia, masih tetap bisa mensuplai kebutuhan utama bayi bayinya, terutama Luna yang lebih nyaman tinggal bersama mommy dan daddynya.
Dan pada awalnya Kevin uring uringan, jiwa posesifnya meronta ronta, putri kesayangannya lebih memilih bersama daddy dibandingkan papa nya, padahal setiap malam sepulang kerja, Kevin selalu menemani bayi bayinya begadang, tapi usai kejadian Daniel dan Darren masuk rumah sakit, ia harus merelakan putri kecilnya berpindah ke lain hati.
“Hahahaha …” Bella tertawa keras mendengar cerita Gadisya. “kasihan sekali papamu sayang, dia pasti sangat merindukanmu.” bisik Bella di telinga baby Luna yang mulai terlelap.
“Iya juga sih, sebenarnya aku juga kasihan, Abang tuh sensitif sekali, saking sensitif dan posesifnya, ia bahkan tak bisa tidur jika tidak di kamarnya sendiri.”
“Dan kamu adalah wanita hebat yang berdiri di belakang nya, memahaminya, mencintai, menyayangi dan menerima semua sikap manjanya.”
“Terima kasih, kamu juga wanita tangguh yang tangguh, aku harap kalian bisa segera memiliki nya,” balas Gadisya sambil mengusap perut Bella yang masih rata.
“Karena kini sibuk dengan baby Luna, aku jadi melupakan keinginanku sendiri.”
“Tak apa, aku harap pikiranmu yang kini sedang rileks dan tidak stress, segera menghasilkan berita baik.”
__ADS_1
“Amin, dan ketika itu benar benar menjadi kenyataan, aku akan sangat berterima kasih pada baby kecil ini.” Bella lagi lagi mengusap kepala Baby Luna.
“Nona … benar udang ya di kupas seperti ini?” bi Murti tiba tiba datang dari dapur, membawa udang yang sudah ia kupas untuk menu makan malam nanti.
“Iya, benar bi, kaki kaki udangnya di buang saja.” imbuh Gadisya.
Melihat sebaskom udang didepan mata, reflek Bella membungkam mulut dan Hidungnya, entah kenapa tiba tiba hidung dan mulutnya merasa tak nyaman.
.
.
.
.
.
.
nah … kan ada tanda tanda hilal berita bahagia nih.
.
.
.
.
.
ini kan yang kalian tunggu 😁
.
.
.
.
udah 2000 kata nih gaes, udah yes ... othor semedi lagi, jangan lupa tanda cinta dan kasih sayang nya 🥰🧘
.
.
.
.
.
sarangeeeeee 💛💚
__ADS_1