
85.
Usai mendapatkan vitamin dan obat, pasangan calon orang tua baru itu bergandengan tangan menuju tempat parkir mobil.
Andre membukakan pintu mobil dan memastikan seat belt terpasang dengan benar.
“Terima kasih sayang,” ucap Bella pada sang suami.
Andre tersenyum dan mengecup kening Bella, kemudian berputar menuju kursi kemudi.
“Langsung pulang?” tanya Andre, ia tahu beberapa minggu belakangan Bella jarang keluar rumah, karena baby Luna yang nyaris tak bisa jauh dari sang istri.
“Entah, kita jalan saja dulu.”
“Baiklah, jika berubah pikiran, atau menginginkan sesuatu, katakan padaku.”
Bella mengangguk.
Sepanjang perjalanan, Andre menggenggam tangan Bella, bahkan sesekali ia mengecup tangan istrinya.
Begitupun Bella tak segan segan mencium tangan suaminya.
Rupanya, kondisi lalu lintas tak bersahabat, karena sudah satu jam mereka bahkan belum mendekati rumah.
Tiba tiba sebuah papan spanduk menarik perhatian Bella, papan tersebut berisikan iklan produk sayur dan buah di supermarket XX.
Perhatian Bella tertuju pada salah satu gambar, berbentuk bulat dengan warna kulit yang kusam, ada tangkai di atas buah tersebut.
"Sayang … itu buah apa?" Tanya Bella dengan rasa penasaran.
Pandangan Andre mengikuti arah pandang Bella.
"Oh … itu buah manggis namanya?"
"Oooh … itu yang namanya manggis, dulu mommy sering cerita, kalau ketika kecil beliau suka sekali makan manggis."
Andre tersenyum, "kamu tahu, di usia berapa aku pertama kali makan buah manggis?"
Bella menggeleng.
"Usia dua puluh tahun, itu pun karena Bima memaksaku." Andre tergelak mengingat ketika teringat pengalaman pertamanya makan buah manggis, hal yang wajar karena di usia lima belas tahun ia baru menginjakkan kakinya di Jakarta.
__ADS_1
"Aku belum pernah?" Ujar Bella lirih.
Andre menoleh, mencari jejak kebohongan di wajah sang istri, ia tak percaya jika sampai sekarang Bella belum pernah makan buah manggis. "Serius?"
Bella mengangguk.
"Sekarang mau?"
"Iya … bolehkah?" Pinta Bella memelas.
"Tentu saja, istriku sayang, dan anak anak daddy harus mendapatkan apa yang mereka inginkan, walaupun aku harus bekerja keras untuk mendapatkan nya."
"Manisnya … jadi makin cinta." Bella mengusap pipi suaminya.
***
Demi mewujudkan keinginan sang istri, Andre berputar arah mendatangi supermarket XX, kebetulan supermarket XX berada di dalam Mall, dan tujuan utama mereka adalah membeli buah manggis.
Tapi rupanya niat tinggalah niat, karena tiba tiba Bella tertarik dengan salah satu restoran yang menyediakan pangan khas Singapura, yakni Singapore Chilli Crab.
Kepiting besar dengan bumbu merah pedas, terlihat menggoda dengan sepiring nasi panas.
Seketika Bella menelan ludahnya, "kita makan dulu yah, aku mau itu," tunjuk Bella ketika melewati restoran.
Tiga Puluh menit menunggu, 1 porsi kepiting besar dengan lelehan bumbu merah pedas, tersaji di hadapan mereka.
Bella makan sangat lahap, anehnya tak sedikitpun ia merasa mual, padahal biasanya ia akan mual ketika mencium bau makanan, dengan sabar Andre membantu sang istri menyingkirkan cangkang kepiting, hingga Bella bisa makan tanpa khawatir dengan cangkang kepiting.
"Pelan pelan saja makannya …" bisik Andre, ketika melihat Bella makan dengan semangat.
"Ayo, buka mulut, aku akan menyuapimu." Ujar Bella yang melihat suaminya sejak tadi bahkan belum menyentuh nasinya.
"Makan saja dulu, jangan pikirkan aku,"
Bella menggeleng, "aku memaksa."
Akhirnya Andre pun membuka mulut, agar Bella bisa menyuapkan makanan.
Dalam waktu sekejap, kepiting besar di hadapan mereka kini hanya tersisa cangkang kosong, wajah Bella berseri bahagia, karena sudah sangat lama ia tak menyantap hidangan favorit nya.
"Kamu merindukan Singapura?" Tanya Andre.
__ADS_1
"Mmmm … sedikit, karena aku bersamamu, jadi aku bahagia dimanapun.
"Maafkan aku, karena membuatmu jauh dari kedua orang tuamu."
"Aku tidak menyesal, aku bahagia dimanapun, asal bersamamu."
Selesai melakukan pembayaran, Mereka kembali melanjutkan perjalanan mendatangi supermarket XX, tapi buah manggis yang menjadi tujuan utama mereka ternyata sudah habis di serbu pembeli, hingga mereka memutuskan membeli manggis di tempat lain.
Rupanya malam itu bukan keberuntungan belum berpihak pada Andre, karena setelah beberapa kali mendatangi kios buah, di pinggir jalan, ia belum juga berhasil mendapatkan buah manggis yang sedang diinginkan sang istri, bahkan Bella sudah lelap tertidur, ingin rasanya Andre mengakhiri pencarian nya, tapi mengingat janji yang ia ucapkan beberapa jam yang lalu, Andre pun kembali menguatkan tekadnya.
😂🤭
Hampir pukul sebelas malam, ketika Andre kembali menghentikan mobilnya di depan kios buah, dan wajahnya berseri bahagia manakala melihat sekantong manggis tergantung manis di etalase kios.
Tapi senyumnya tak berlangsung lama, ketika tiba tiba ada seorang ibu, yang juga mengincar buah manggis tersebut, bahkan tangan keduanya hampir bersamaan menyentuh kantong manggis tersebut.
"Mas nya mau nyerobot yah?" Tuduh ibu itu, ketika Andre juga menyentuh kantong manggis tersebut.
"Mana ada saya nyerobot, ibu aja yang kalah cepat."
"Oh … tidak saya sudah mengincar manggis ini sebelum masnya datang dan nyerobot."
"Eh nggak peduli yah, pokok nya saya yang duluan pegang buah manggis ini." Seru Andre tak mau kalah, ia sudah sangat lelah hari ini, sepanjang siang ia menemani istrinya yang bahkan tak bisa beranjak dari tempat tidur, dan hingga kini ia belum juga bisa memejamkan mata, karena masih harus mencari manggis yang sedang diidamkan wanita kesayangannya.
"Apaan pegang dulu, saya yang lihat duluan … mbak mbak berapa harga manggisnya?" Seru sang ibu.
"Saya bayar sepuluh kali lipat, dua puluh kali lipat juga tidak papa." Andre mulai menggunakan otak bisnisnya.
"Waahh mas nya mulai berani pakai cara curang rupanya, mentang mentang banyak duit, trus bisa semena mena."
"Ayo mbak, jual saja sama saya manggisnya, mbaknya tinggal sebut berapa harga manggisnya." Pinta Andre memelas, tolong lah mbak, istri saya sedang ngidam, sejak kecil belum pernah makan manggis, masa mbak tega sih, nanti kalau anak saya ileran gimana?" Ini cara pamungkas, jika gagal entah apa yang harus Andre lakukan.
Si penjaga toko mulai kebingungan, di satu sisi ada ibu ibu yang jelas susah untuk dipatahkan argumennya, di sisi yang lain ada pria tampan yang memelas demi menuruti istrinya yang sedang ngidam, bahkan pria itu bersedia membayar dua puluh kali lipat, tawaran menggiurkan bukan, bahkan harga manggis nya saja tak sampai dua puluh ribu.
"Gimana bu, kasihan mas nya, apalagi istrinya belum pernah makan manggis, besok saya belanja manggis lagi deh, spesial buat ibu."
"Nah kan, ini saya bayarin sekalian manggisnya," Andre menyodorkan lima lembar uang kertas berwarna merah.
Si ibu nampak berpikir serius berpikir, melihat lebaran merah itu membuat mata dan keinginannya berubah, "baiklah karena masnya baik, manggisnya buat mas saja." Ujar sang ibu. "Tapi izinkan saya peluk masnya yah, kapan lagi bisa peluk orang ganteng."
Andre diam membeku beberapa saat, "ya sudahlah, demi manggis, dan demi istriku, maafkan aku sayang." Ringis Andre, ketika sang ibu memeluknya, bahkan berlama lama mengendus aroma parfum nya.
__ADS_1
🤪🤣#And … maafkan othor yah