
40.
Sepenggal Kisah Emira.
Sementara itu di sudut ramainya jalanan pagi kota Jakarta.
Seorang gadis berkacamata tebal, rambut berkepang dua, tengah berdiri dengan wajah takut, di hadapannya tampak dua orang gadis berseragam namun kancing bajunya di biarkan terbuka, dengan rok abu abu yang panjangnya jauh diatas lutut, tak berhenti sampai disitu, mereka juga dengan bangga menghisap rokok dihadapan Emira.
Jika ketiga kakak tertuanya bertanya, dan selalu penasaran dengan apa yang Emira inginkan, Emira tak pernah memberi jawaban pasti, yang jelas Emira punya maksud tersendiri.
Seluruh keluarganya sangat penasaran, pasalnya dua tahun yang lalu selain mengubah penampilannya, Emira juga memilih pindah ke sekolah umum, padahal daddy Alex menentang keras keinginannya, terutama lagi daddy Alex tak rela jika putri cantiknya berubah menjadi gadis culun yang bahkan bisa membuat orang sakit mata hanya dengan melihatnya saja.
Bukan hanya rambut berkepang dan berkacamata tebal yang Emira pakai untuk mengkamuflase penampilannya, tak tanggung tanggung Emira memakai lensa kontak untuk menyamarkan warna mata nya, juga menempelkan tompel dengan ukuran cukup besar di pipi kanan nya, rok seragam yang ia pakai juga hampir mencapai ⅞ panjang keseluruhan kakinya.
Semuanya ia lakukan demi Cinta pertama nya.
Dia lelaki tampan yang sudah memikat hati seorang putri konglomerat.
Lelaki yang di kenal gaul di seantero jagad SMU Bina Bangsa.
Lelaki yang dinilai nakal serta tidak memiliki masa depan, oleh para guru dan orang tua wali murid.
Tapi sayangnya Lelaki itu sangat tampan dalam kacamata pandang Emira.
Dialah sang Arjuna, seniornya di SMU Bina Bangsa.
Bukan Arjuna dalam arti kata kiasan, melainkan nama aslinya memang Arjuna.
Sungguh, jika Emira mau, ia bisa saja berpenampilan cantik dan anggun seperti layaknya putri seorang konglomerat, tapi Emira ingin Arjuna melihat sosok nya yang jelek, demi menilai seperti apa Arjuna sebenarnya.
Apalagi menghadapi dua orang gadis yang kini berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Keduanya mengaku sama sama mencintai Arjuna, dan sangat tidak suka melihat Emira berada di dekat Arjuna.
Bagi Emira yang sudah sejak kecil berlatih taekwondo dari mommy Stella, mengalahkan kedua gadis berandal di hadapannya tidaklah sulit, ia hanya berpura pura lemah dan tak berdaya, karena itulah Emira kerap menerima perlakuan tak menyenangkan di sekolah, dipanggil culun lah, gadis tompel lah, atau bahkan si mata empat, jika bukan karena besarnya gejolak yang ia rasakan pada sang Arjuna, Emira tak akan bertahan hingga dua tahun lamanya.
"Jadi ingat yah … jangan coba coba mendekati Arjuna, karena yang berhak menjadi kekasih Arjuna hanyalah salah satu dari kami berdua." Voni si gadis berambut ikal mengingatkan Emira.
"Sudah cukup kami berbaik hati padamu selama ini, kami tahu kamu tak akan sanggup jika menerima pukulan dari kamu, melihat tubuh kecilmu saja, kami tak tega," Ranti si rambut kecoklatan pun ikut mengingatkan.
Emira hanya mengangguk mendengar ocehan kedua kakak kelasnya tersebut, 'Semua demi mendapatkan perhatian Arjuna,' Emira berujar dalam hati.
Emira berpura pura lemah demi mendapatkan simpati dan perhatian lelaki tersebut.
"Oh iya, minggu lalu aku melihatmu memasuki gerbang sebuah rumah mewah? Apa diam diam kamu punya profesi lain?" Voni bukan sekedar bertanya, tapi ia juga terang terangan menuduh dan menunjukkan rasa tidak suka nya pada Emira.
Emira terkejut, tapi ia masih dalam mode pura pura bodoh, "oh … itu karena ibuku bekerja di sana, dan majikan ibu juga mengizinkan aku tinggal di sana." Lagi lagi Emira beralasan.
'Bodo amatlah, kalau memang mereka meminta bertemu dengan ibu palsuku, aku cukup minta bantuan tante Ima, untuk menjadi ibu palsuku,' ucap Emira dalam hati.
Jam sekolah dimulai tiga puluh menit lagi, di halte inilah Emira biasa menunggu Arjuna, lelaki itu pernah menolong Emira, kala itu ia harus mendorong matic nya yang tiba tiba mogok, dan sebagai balasan kebaikan Arjuna, Emira selalu membawakan sarapan untuk lelaki pujaannya tersebut.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, lelaki itu menghentikan motor sport nya tepat di depan Emira, ia memakai jaket kulit berwarna hitam, bahkan helm dan motor pun berwarna senada, di pergelangan tangannya ada beberapa gelang yang entah kenapa menurut Emira, motifnya menyeramkan, wajah tampan Arjuna menatap Emira yang tengah menantinya dengan tidak sabaran.
Jika orang orang melihat Arjuna itu anak bandel dan nakal, Emira melihat Arjuna sebagai lelaki baik, karena sejauh ini, Arjuna tak pernah berkata kasar atau bahkan malu berdekatan dengan Emira yang penampilannya membuat sakit mata siapapun yang melihat.
"Aku susah bilang, jangan lagi menungguku, kamu bisa habis di hajar Voni dan Ranti, jika terus terusan begini." Begitulah sapaan Juna setiap pagi, namun itu terdengar merdu di telinga Emira, sebuah perhatian yang hangat, ujar nya suatu kali.
"Ti … ti … tidak kak, itu tak akan pernah terjadi, ini sebagai ucapan terima kasih ku." Emira menyodorkan sepotong roti dan sekotak fresh milk yang tadi ia beli di minimarket.
"Aku cuma membantumu membawa motor ke bengkel, bukan menyelamatkan dunia, kenapa kamu sampai sebegini peduli pada ku?"
.
__ADS_1
.
.
Spoiler novel selanjutnya 😁
.
.
.
lanjut nanti sore yah ...
.
.
.
.
like komen vote kembang dan kopi seikhlasnya 🥰
.
.
.
.
__ADS_1
sarangeeeeee 💟❤️