Andre Untuk Bella

Andre Untuk Bella
87.


__ADS_3

87.


Pelan pelan Bella menutup pintu kamar dan menguncinya, ia sungguh merasa tak enak hati pada suaminya, dilihat nya Andre sedang duduk menghadap taman kecil di balik dinding kamar mereka, Bella mendekati Andre dan memeluknya dari belakang.


"Maaf …" ucapnya lirih, "aku tak bermaksud menyia nyiakan apa yang sudah kamu usahakan untukku dan anak kita, tapi sungguh aku sudah kenyang, dan aku akan memakannya besok pagi, disaat rasa mualku tak tertahankan, boleh yah?" Tanya Bella memelas.


Andre masih tak bergeming, sejujurnya ia hanya pura pura marah, ia ingin melihat sebesar apa usaha Bella meluluhkan hatinya.


“kok diam sih … bicara dong …” bujuk Bella, “Kamu beneran marah?” tanya Bella, ia berpindah, kini ia memeluk pinggang suaminya dari depan, praktis Bella bisa melihat wajah Andre dengan leluasa, wajah tampan itu masih nampak datar tanpa senyuman.


Bella mencebik, “kamu mau apa? biar gak marah lagi?”


Binggo, pertanyaan inilah yang sedang ia tunggu sejak tadi, Andre mulai mengulum senyuman, “benarkah … aku boleh minta apa saja?” 


Melihat suaminya mulai bicara, Bella pun ikut tersenyum, ia memindahkan kedua lengannya ke leher suaminya, kemudian mulai mencium bibir yang sejak tadi bahkan tak menampakkan senyuman, lama Bella menempelkan bibirnya, namun tak juga merespon, karena gemas Bella menggigit bibir bawah Andre.


“Aw …” Andre meringis meraba bibirnya, “sakit,” keluhnya.


“Siapa suruh ngambek segala, sudah tua, gak cocok kalau masih suka cemberut seperti ABG.” jawab Bella seenaknya, ia pun melengos dan meninggalkan suaminya.


Tapi dengan sigap Andre manahan lengan istrinya, “nakal yah, galak lagi, sepertinya si ibu hamil harus diberi hukuman.” bisik Andre dengan suara parau nya.

__ADS_1


Sebagai laki laki normal, tujuh hari tak merasakan kehangatan tubuh sang istri membuat emosinya mudah tersulut, sejak kemarin ia berusaha menahannya, mengingat istrinya dalam kondisi lemah karena sedang hamil muda, tapi ciuman Bella beberapa saat lalu membuat hasrat nya kembali bangkit.


Bella tersenyum, “tentu saja aku harus galak, biar anak anak kita tidak cengeng, dan lagi untuk menghadapi playboy sepertimu, memang harus galak dan tegas, sudah terbukti kan, akhirnya kamu mencari keberadaanku?” 


Andre hanya tersenyum, nyatanya apa yang dikatakan Bella benar adanya, dirinya seakan hilang arah, ketika Bella memutus kontak dengannya, dan mereka benar benar seperti orang asing.


“Iya, tertawalah sesuka hatimu, nyatanya aku memang seperti layang layang putus ketika jauh darimu,” bisik Andre, ia mulai membenamkan ci***an di leher Bella, tak ada sejengkal pun ia lewatkan. begitu harum, nikmat dan membuatnya candu.


***


Keesokan paginya, Bella benar benar menepati janjinya, disaat Gadisya dan bi Murti sibuk di dapur, Bella sibuk belajar mengupas manggis bersama mommy Stella, sementara suaminya sudah kembali bekerja.


Tak ingin kalah cepat dari Bella, Gadisya segera mengambil alih baby Luna, kemudian menciumi pipi gembul dan menggemaskan tersebut.


“Ayo sarapan dulu, dua jam lagi ada jadwal operasi kan?” 


Kevin tersenyum, Gadisya tak pernah lupa pada jadwal hariannya, bahkan jadwal operasinya pun dihafal dengan baik oleh sang istri, rasanya Kevin tak lagi butuh yang lain, karena Gadisya memiliki segala yang ia butuhkan, si cinta pertama yang hingga kini selalu menarik perhatiannya. “terima kasih sayang.” bisik Kevin ketika mencium kening sang istri.


Tiba tiba Bella bergeser, ia menempati kursi yang biasa ditempati Gadisya, hanya menyeringai ketika Kevin melihat ke arahnya.


“Maaf, tapi sepertinya anak anakku ingin dekat dengan uncle nya,” Jawab Bella, ketika Kevin menatapnya dengan pandangan aneh. “gak papa ya Sya, mungkin salah satu anakku ingin jadi dokter, seperti uncle Kevin, oma, dan Aunty Gadisya.”

__ADS_1


“Amin …” hanya itu yang Gadisya ucapkan, tak ada sedikitpun rasa cemburu, ia tahu sikap Bella hanyalah efek hormon kehamilan.


Sikap santai Gadisya, membuat Bella merasa nyaman, tapi tentu lain halnya dengan sepasang mata biru, yang baru tiba kembali, karena lupa membawa sebuah dokumen.


Tak ada yang menyadari kehadirannya, kecuali Kevin yang terlihat sangat menikmati ekspresi marah sekaligus cemburu dari saudara kembarnya.


Andre berjalan cepat ke kursi saudara kembarnya, kakinya menendang betis kevin, sementara pandangannya menyorot tajam penuh rasa cemburu.


Melihat kehadiran sang suami, Bella hanya menutup mulutnya rapat rapat ketika Andre kini menggantikan Kevin duduk di sebelahnya, “nakal yah, baru juga di tinggal pergi sebentar, kamu sudah berpindah kelain orang.”


Bella terkekeh, “entahlah, tiba tiba baby ingin duduk di dekat uncle,” jawab Bella.


“jangan di ulang lagi, aku cemburu.”


“hahaha … Bella, aku baru tahu suami mu bisa cemburu,” 


sring!!!


Andre menatap tajam pada saudara kembarnya, “jangan menyulut pertengkaran.” 


Andre yang pagi tadi pamit ke tempat kerja, harus kembali pulang karena ia meninggalkan salah satu dokumen penting, dan kini ia disuguhi pemandangan yang menyulut api cemburu, tentu saja membuatnya urung kembali ke tempat kerja, lebih baik ia menunda rapat, dan menemani Bella hingga akhirnya Kevin pergi ke rumah sakit, daripada sepanjang hari ia uring uringan di tempat kerja, karena hingga hari ini Sherin dan Bima masih berada di Bali, jadi sebisa mungkin Andre harus menjaga kewarasannya.

__ADS_1


__ADS_2