
56.
Kista Ovarium.
Andre memegang pundak Kevin, ketika tubuhnya tiba tiba terasa lemas, bahkan ia meremat kuat kuat pundak Kevin, untuk menopang tubuhnya yang hampir terduduk di lantai.
"Dilihat dari hasil test, pasti istri anda sangat kesakitan."
Semakin lemas saja sekujur tubuh Andre ketika mendengar penuturan dokter Amelia.
"Lalu dok? Sekarang apa yang bisa kita lakukan?"
Dokter Amelia tampak muram, tapi ia harus menyampaikan kondisi Bella dengan jujur, demi kebaikan Bella.
"Jika dilihat dari hasil USG, dan hasil Lab, Ukurannya sudah cukup besar tuan, lebih dari 3 cm, dan sudah bernanah, berada di indung telur sebelah kiri, syukurlah yang sebelah kanan baik baik saja, saya akan mengusahakan untuk mengangkat kistanya saja, tapi jika kondisi indung telur nya juga buruk, maka kami terpaksa mengangkat indung telur nya juga,"
Kevin melingkarkan lengannya ke pundak adik kembarnya yang mulai bergetar hebat, tentu tak ada yang bisa mengelak dari ketentuan tuhan, dan ini adalah ujian pernikahan yang harus di hadapi adiknya.
"Jangan khawatir tuan, istri anda tetap bisa hamil dan melahirkan, walau hanya memiliki satu indung telur saja." Penjelasan dokter Amelia, cukup membuat Kevin bisa bernafas lega.
"Bukan itu dok, aku tak akan mempermasalahkan anak, tolong pastikan, istriku sehat kembali, hanya itu yang ku butuhkan,"
Dokter Amelia mengangguk, "sebentar lagi perawat akan membawa dokumen untuk anda tanda tangani, saya permisi, harus bersiap untuk operasi,"
"Terima kasih dokter,"
Ucap Kevin dan Andre bersamaan.
Sekuat tenaga Andre menahan air mata yang terus mengalir, padahal ini sakit yang menurut ilmu kedokteran masih bisa di sembuhkan, tapi hatinya serasa tercabik cabik, manakala mendengar vonis dokter Amelia.
"Aku belum pernah membahagiakan nya, selama ini aku hanya memberinya rasa sakit, akankah tuhan masih berkenan memberiku waktu untuk berada di dekatnya? aku hanya ingin membuatnya merasa menjadi wanita spesial, dan menghujaninya dengan banyak cinta." Ujar Andre lirih, ketika keduanya duduk di ruang tunggu.
"Bisa, yakinlah, kalian pasti bisa menghadapi dan menjalani nya, sesudah Bella kembali sehat, aku yakin kalian akan menjalani hidup dengan lebih bahagia."
*
*
__ADS_1
*
Setelah dokter memastikan kondisi Bella, dan keputusan operasi sudah dijalankan, berulah Kevin dan Andre memberitahukan kondisi terakhir pada kedua orang tua Mereka, Kevin Menghubungi mommy Stella dan Andre menghubungi daddy Brandon di Singapura.
Satu jam setelah Bella masuk ruang operasi, mommy Stella, daddy Alex dan tak mau ketinggalan Gadisya, tiba di rumah sakit.
Wajah ketiga nya pun tampak cemas, "bagaimana istri mu?" Tanya mommy Stella begitu tiba di ruang operasi.
"Operasi masih berlangsung mom,"
"Syukurlah kamu segera membawa Bella kembali ke jakarta."
"Iya dad, tadi nya kupikir Bella akan ditangani oleh dokter rumah sakit XX, tapi dokter dan fasilitas di sana belum memadai, jadi aku putuskan untuk membawa Bella ke Jakarta, dan Sherin dengan cepat mengurus semuanya, pesawat hingga Helikopter rumah sakit, jadi semuanya bisa segera teratasi." Andre menjelaskan.
Daddy Alex mengangguk faham, "jangan lupa untuk memberikan bonus padanya, karena dia sudah banyak membantu mu."
"Iya dad,"
Sementara Gadisya nampak serius melihat hasil lab dan foto USG yang beberapa saat lalu di berikan oleh dokter Amelia, sama seperti Levin, Gadisya pun nampak bernafas lega, karena hanya satu indung telur saja yang bermasalah, setidaknya Indung telur yang satunya masih aktif memproduksi hormon dan sel telur.
"Lalu aku harus apa di rumah, membosankan sekali, aku kan juga ingin melihat suasana di luar rumah, lagi pula aku menghawatirkan Bella." Jawab Gadisya pelan, ketika Kevin mulai memeluknya. "Dan juga aku bersama mommy dan papi, tidak seorang diri kan?"
"Maafkan aku, karena aku sibuk, kamu jadi tak pernah keluar rumah,"
Gadisya mendongak dan mengusap pipi suaminya, "tidak masalah, aku mengerti kok, tapi akhir minggu ini luangkan waktu, aku ingin berbelanja baju dan perlengkapan bayi bayi kita."
"Dengan senang hati, aku pun tak sabar membeli baju baju lucu untuk anak anak kita," jawab Kevin dengan pandangan berbinar.
Sementara itu lorong rumah sakit, seorang gadis berpakaian SMU berlari kencang menuju ruang operasi, menyesal sekali ia tadi harus menuruti keinginan Voni dan Ranti untuk nongkrong di cafe, jika ujung ujungnya ia harus menahan marah, karena Voni dan Ranti terus bersikap seenaknya terhadap nya, bukan Emira tak berani melawan mereka, sekali lagi Emira hanya berpura pura lugu dan lemah, dan sekarang ia menyesal karena tadi tak buru buru pergi, dan kini ia harus jadi orang terakhir yang mengetahui kondisi kakak iparnya.
"Maaf … aku … terlambat …" Emira ter 3ngah 3ngah, nyaris tak bisa berkata kata usai berlari kencang sejak dari tempat parkir.
Stella menyodorkan air mineral pada putri bungsunya tersebut, "kenapa harus berlari, ini di rumah sakit, kalau kamu menabrak pasien bagaimana?" Cecar Stella Khawatir.
"Tenang mom … itu … tak … akan … pernah terjadi," Emira mencoba membela diri, "mommy tidak lupa siapa aku kan?"
Daddy Alex tiba tiba mendekat, dan menarik telinga putri bungsunya tersebut, "tidak bisakah kamu tidak membantah jika mommy sedang bicara …"
__ADS_1
"Aw … aw … sakit dad." Jerit Emira.
"Daddy jadi heran, kenapa sikapmu jadi liar begini, dulu kamu begitu manis, kenapa sekarang seperti berandalan."
"No dad, bukan berandalan, ini sebagai latihan perlindungan diri." Lagi lagi Emira membantah perkataan daddy Alex.
Alex hanya memijat keningnya, ia sungguh pusing menghadapi putri kesayangan nya tersebut, karena sikap Emira, semakin lama semakin membuatnya sakit kepala.
Emira begitu mirip dengan Stella, secara wajah Emira adalah wujud Stella ketika di usia yang SMU, sama sama pintar, tapi juga sama sama suka berkelahi.
🤣🤣🤪 #(Alex, para wanita kesayanganmu, hobi nya berkelahi.)
.
.
.
.
.
jumpa lagi jam 12 siang yes 🥰🤗🧘🤓
.
.
.
.
.
.
sarangeeeeee 💟❤️
__ADS_1