
82.
Untuk beberapa saat, mereka bertatapan, bahkan Andre menunjukkan raut wajah tak suka, tapi Bella mengacuhkannya, ia pun berjalan, maksud hati ingin melewati suaminya begitu saja, tapi tiba tiba ia merasa tubuhnya melayang ringan seperti kapas.
Yah, suaminya sedang posesif, sedang memberikan perhatian extra.
Pelan pelan Andre menurunkan tubuh istrinya di tempat tidur, kemudian kembali menggantung cairan infus, dan membuka kembali sumbatan nya, agar cairan tersebut bisa mengalir kembali dengan lancar.
"cukup katakan padaku apa yang kamu inginkan!!! Bisa?" Ujarnya tegas, tak ingin lagi di bantah.
Bella mengangguk.
"Ayo sekarang tidurlah," Bella menepuk ruang kosong di sebelahnya, dan Andre pun segera merangkak mengisi ruang kosong tersebut.
Lama mereka terdiam, dalam remang remang cahaya, Bella bisa merasakan dirinya sedang diperhatikan. "Kenapa diam saja? Peluk." Pintanya manja.
Andre pun bergeser mendekati Bella, lengan kanannya kini menjadi bantal nyaman untuk sang istri, sementara tangan kirinya mengusap lembut punggung dan kepala Bella.
"Apa kamu merindukanku?" Andre membuka percakapan.
Bella mengangguk pelan, pelukan suaminya terasa sungguh nyaman, Bella menghirup aroma tubuh yang beberapa hari ini ia rindukan. "Sangat … kami bertiga merindukanmu."
Andre mengulum senyumnya, ia tak menyangka istri dan anak anak nya begitu kesepian tanpa dirinya, padahal di rumah mereka kini ramai, seluruh anggota keluarga Geraldy sudah berpindah ke rumah mereka.
"Oh iya, baby Luna di mana?" Tiba tiba Bella teringat putri kecilnya.
"Sedang bersama Kevin, dan dia senang sekali, akhirnya setelah berbulan bulan berjuang mendapatkan perhatian Baby Luna, kini ia berhasil memboyong baby Luna pulang." Andre tersenyum geli mengingat perjuangan Kevin beberapa jam yang lalu, Kevin bahkan memakai baju dan parfum miliknya, agar putri kesayangannya mau kembali padanya.
__ADS_1
"Luna tidak histeris?" Tanya Bella penasaran.
"Tidak."
"Tidak menolak?"
"Tidak sayang," jawab Andre gemas, "pokok nya malam ini istirahatlah, biarkan baby Luna bersama kedua orang tuanya."
Walau sedikit tak rela, tapi suka atau tidak, Bella harus mengakui bahwa Luna tetap bukan anak kandungnya, sangat wajar jika kini ia bersama kedua orang tuanya.
"Kenapa tak mengatakan padaku kalau kamu sudah hamil? Aku jadi merasa bersalah karena meninggalkan mu."
"Malam itu wajahmu kusut sekali, jadi aku menundanya sampai keesokan harinya, tapi rupanya esok harinya kamu pergi, dan mood ku memburuk, aku jadi malas mengatakannya."
"Sejak kapan kamu mengetahui kehamilan mu," kini tangan kiri Andre mulai menyusup ke balik piyama Bella, perlahan ia mengusap perut Bella yang masih rata.
Flashback on
“Iya, benar bi, kaki kaki udangnya di buang saja.” imbuh Gadisya.
Melihat sebaskom udang didepan mata, reflek Bella membungkam mulut dan Hidungnya, entah kenapa tiba tiba hidung dan mulutnya merasa tak nyaman.
Bella segera berlari ke wastafel terdekat, entah kenapa tiba tiba perutnya pun ikut mual, ingin muntah, tapi yang keluar dari mulutnya hanya cairan bening.
Bella membasuh mulut nya, setelah dirasa tak ada lagi yang ia keluarkan.
"Nona baik baik saja?" Tanya bi Murti khawatir.
__ADS_1
Bella kembali membekap mulut dan hidungnya ketika bi Murti mendekat, tangan kirinya memberi tanda agar bi Murti berhenti.
Bi Murti yang paham dengan kondisi nona muda nya pun mundur, bibirnya mengukir senyum, ia tahu apa yang sedang terjadi pada nona muda nya, "mau saya buatkan yang segar segar nona?" Tanya bi Murti dengan senyuman.
"Boleh bi, rujak serut seperti nya enak." Entah kenapa Bella tiba tiba memikirkan rujak serut, beberapa hari yang lalu, bi Murti iseng membuatnya, karena ada sisa apel nanas dan wortel di kulkas.
"Siap nona, tunggu sebentar yah…" dengan semangat bi Murti kembali ke dapur.
"Kamu kenapa?" Tanya Gadisya yang belum berani beranjak dari duduk nya, karena khawatir membangunkan baby Luna yang sedang lelap di pelukannya.
"Entahlah, tadi melihat udang, tiba tiba perutku mual."
Senada dengan bi Murti, Gadisya pun segera mengembangkan senyumannya.
"Kenapa wajahmu tiba tiba tersenyum? Tadi bi Murti juga mendadak senyum senyum sendiri." Tanya Bella keheranan, ia sama sekali tak mengerti, kenapa mendadak orang orang bahagia, padahal ia sedang mual dan tak nyaman.
Gadisya mengulum senyumnya, menyadari adik iparnya ternyata polos sekali.
Gadisya meletakkan baby Luna di box bayi nya, sementara Daniel dan Darren sudah berpindah ke tangan nanny mereka masing masing.
"Tunggu sebentar," pesan Gadisya.
Dengan patuh, Bella mengangguk.
Tak lama Gadisya kembali dengan 3 buah test pack di tangannya, test pack itu sengaja ia beli, ketika ia mulai berbaikan dengan Kevin, tapi ternyata tidak pernah terpakai.
"Ini … periksalah sendiri, kamu akan segera tahu jawabannya."
__ADS_1
"Ini …" tanya Bella tak percaya.
"Alat uji kehamilan, siapa tahu kita segera mendapat kabar baik." Jawab Gadisya penuh teka teki.