Andre Untuk Bella

Andre Untuk Bella
92.


__ADS_3

92.


Baru beberapa meter taxi Bella menjauh dari pandangan Andre, tiba tiba sebuah mobil lepas kendali dan menabrak taxi yang Bella tumpangi.


Lagi


Andre melihat kecelakaan terjadi di depan matanya sendiri, namun kali ini tubuhnya sudah lunglai tak bertulang karena yang menjadi korban adalah istri dan anak anaknya, Andre Berlari kencang menghampiri taxi yang Bella tumpangi.


“Bella …” jeritnya.


Manakala ia tak berhasil membuka pintu kursi penumpang, dari luar jendela ia melihat istrinya sudah berlumuran darah, bahkan Bella menatap dan melambaikan tangan ke arahnya, seolah meminta pertolongan.


“Tolooooong … siapa saja … toloooong … istriku ada di dalam sana ia sedang hamil besar.” raung Andre yang masih terus berusaha membuka pintu taxi, tak peduli telapak tangannya yang mulai mengucurkan darah segar, karena tergores pecahan kaca.


beberapa pengendara segera memberi pertolongan, beberapa membawa perkakas untuk membuka pintu mobil agar penumpang yang terluka bisa dievaluasi terlebih dahulu, sambil menunggu Ambulance tiba.


Pintu terbuka, dan mata Andre sudah buram oleh air mata, bella sudah bersimbah darah dari pelipis dan pundak nya, bahkan darah segar mengalir diantara kedua kakinya, wajahnya tersenyum cantik walau air mata mengalir dari kelopak matanya, nafasnya tersengal, “s…. sa …kit.” ucap Bella dengan bibir bergetar, telapak tangannya terulur mengusap pipi Andre.


Seketika tangis Andre semakinn kencang, “Bertahanlah sayang, kumohon, jika tidak demi anak kita, setidaknya bertahanlah demi diriku, maafkan aku …” Andre memeluk tubuh Bella yang semakin lemah.


Pengemudi mobil yang ternyata sedang dalam pengaruh alkohol sudah diamankan pihak yang berwajib, sementara Bella dan sopir taxi yang juga pingsan sudah di Evakuasi keluar dari taxi.


*


*


*


Ambulance berjalan cepat membelah lalu lintas, sepanjang Jalan Andre terus berurai air mata, tangan kanannya menggenggam tangan Bella, sementara tangan kirinya tak henti mengusap perut Bella.


Waktu berjalan sangat lambat, walau sesungguhnya Ambulance berjalan dengan kecepatan penuh, “cepatlah …” teriak Andre tak sabar, ia masih gemetar ketakutan manakala darah tak henti mengalir dari sela sela kaki istrinya.


“Iya tuan, kita sudah berjalan dengan kecepatan penuh.” jawab salah seorang petugas yang seja tadi memantau kondisi Bella.


Sesuai permintaan Andre, mereka tiba di WIlliam Medical Center beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Petugas sudah bersiaga begitu mendapat kabar pasien VVIP sedang dalam perjalanan.


Termasuk dokter Jimmy yang masih Aktif sebagai dokter senior di Emergency Room.


“Uncle … tolong selamatkan istriku…” pinta Andre memelas.


Dokter Jimmy mengangguk, ia bergegas membawa menantu dokter Risa ke Emergency Room untuk mendapatkan pertolongan pertama.


“Dok … kesadaran pasien semakin menurun,” dokter residen melaporkan usai memasang alat intubasi dan juga infus. 


“Segera bawa ke ruang operasi, kita harus segera menyelamatkan ibu dan  bayinya,” dokter Jimmy memberikan instruksi.


Mendengar semua percakapan dokter Jimmy dan para asistennya, Andre semakin gemetar ketakutan, ia sungguh takut sesuatu yang buruk akan menimpa istri dan anak anaknya.


“Uncle…” panggil Andre ketika melihat dokter Jimmy keluar dari Emergency Room.


“Kami akan mengeluarkan bayi nya, semoga tidak terjadi hal buruk pada istri dan anak anakmu,” Ucap dokter Jimmy seraya menepuk pundak Andre.


Andre mensejajarkan langkahnya dengan para petugas medis yang mendorong brankar istrinya, wajah Bella tampak pucat, dengan alat bantu nafas yang terpasang di mulutnya.


*


*


*


Sepasang bayi kembar nan tampan dibawa keluar dari ruang operasi, kondisi mereka stabil hanya perlu oksigen, karena paru parunya belum matang sempurna.


“Bayinya sehat ya tuan, lengan dan tangannya ada dua, jari jarinya juga ada sepuluh, begitu juga kaki kakinya, lengkap dengan sepuluh jari.” perawat pertama menjelaskan


Selanjutnya perawat kedua pun demikian, entah Andre harus tertawa bahagia, atau menangis sedih, manakala bergantian menimang, memeluk dan menciumi kedua bayinya, buah cintanya bersama Bella, sementara ia belum mendapatkan kabar terbaru tentang kondisi istrinya, usai melahirkan.


beberapa saat kemudian, dokter Jimmy dan dokter kandungan yang menangani Bella keluar dari ruang operasi, wajah keduanya tampak menunduk sendu, tak ada sedikitpun senyuman.


“tolong katakan istriku baik baik saja,” ucap Andre.

__ADS_1


namun kedua dokter itu terdiam dan menunduk, jelas sekali mereka bahkan tak mampu menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.


“And … kami sudah berusaha, tapi istrimu kehilangan banyak darah, dan disaat terakhir, jantung dan nafasnya tiba tiba terhenti begitu saja, kami sudah coba lakukan kompresi dada, tapi hasilnya nihil, kami turut berduka cita.” ucap dokter Jimmy dengan wajah tertunduk.


seketika Andre lunglai jatuh ke lantai, ia menjambak rambut nya sendiri bahkan membenturkan kepalanya ke dinding, sakit tak berdarah inilah yang ia rasakan saat ini, belahan jiwanya, wanita kesayangannya, mommy dari anak anaknya … 


“Tidak dok … katakan jika dokter sedang bercanda,” Andre mengguncang dokter kandungan yang menangani Bella, namun dokter tetap diam dan menunduk, keputusannya tak berubah, karena faktanya memang demikian.


Andre bahkan berlutut memohon agar dokter mengatakan sebaliknya, namun kedua dokter yang menangani Bella masih diam tak bergeming.


“ayo uncle antarkan kamu melihat jasad istrimu.” 


Andre diam membatu, kakinya terasa berat untuk digerakkan, kata kata JASAD seolah kini tengah menghantui pikirannya, sungguh ia tak tahu seperti apa kini wujud perasaanya.


Ruang operasi masih terasa dingin, sementara di dalam sana ada tubuh yang tengah berbaring tak bergerak dengan kain putih menutupinya, sekuat tenaga Andre bergerak mendekat.


tangannya gemetar manakala membuka kain yang menutupi wajah Bella, tangisnya semakin kencang menggema di ruangan dingin tersebut.


“Bellaaaaaa …” raungnya, ia menggoyang goyangkan tubuh kaku istrinya, namu Bella hanya diam tak bergerak, wajahnya masih menampakkan senyuman yang sama, senyuman yang ia lihat tatkala berhasil membuka pintu taxi, senyuman cantik yang bahkan belum pernah Andre lihat seumur hidupnya, seakan akan Bella Hendak memberi ucapan selamat tinggal terbaik.


“Teganya kamu sayang, bagaimana aku bisa membesarkan anak anak kita seorang diri, bangunlah … kumohon jangan menyiksaku seperti ini, aku yakin kamu hanya bercanda, sudah cukup bercandanya … aku dan anak anak membutuhkan kehadiranmu, kamu bahkan belum memberiku hukuman …”


sunyi


tak ada sahutan


yang terdengar hanya raungan Andre.


tak ada lagi wanita yang akan menemani hari harinya.


Bella akhirnya menyerah mencintai dirinya.


bahkan kehadiran anak anak merek tak membuat Bella terbangun.


karena tuhan tak mungkin merubah suratan takdirnya.

__ADS_1


__ADS_2