Andre Untuk Bella

Andre Untuk Bella
65.


__ADS_3

65.


Bella mencubit pelan pinggang suaminya, gemas juga, karena ternyata suaminya tak paham jika ia sedang menahan malu, karena ada pak Wawan di antara mereka.


Bella mendekat, kemudian berbisik, "malu, ada pak Wawan," bisiknya.


Andre menahan senyum gemasnya, "tenang saja pak Wawan pasti mengerti," balas Andre, dengan bisikan juga.


"Ish …" Bella mencebik malu.


"Nggak percaya?" Tanya Andre.


Bella menggeleng.


"Pak Wawan …?"


Pak Wawan tersenyum bijak, ia mengerti anak dari majikannya masihlah pengantin baru. "Jangan khawatir, Saya tidak lihat apa apa nona." Jawab pak Wawan.


'Wah … ada kesepakatan terselubung rupanya', Bella membatin.


Andre tersenyum. Kemudian meraih pinggang sang istri hingga mereka menempel erat, tanpa celah. "Nah seperti ini lebih baik,"


Bella membeku, kaku, malu, berdebar jadi satu, karena ada penonton di dekat mereka.


"Pak Wawan, antar ke rumah kami saja," 


Sepersekian detik Bella tertegun, "eh, belum bilang mommy," 


"Sudah, baru saja aku kirim pesan singkat, mommy pasti mengerti kan kita."


Habis kamu Bell, setelah ini suamimu pasti tak mengizinkanmu keluar kamar.


Tebak Bella meringis membatin, jika di rumah utama, mungkin mereka sedikit punya batasan, tidak selalu di dalam kamar, tapi jika di rumah mereka sendiri, tentu mereka bebas sesuka hati, ingin keluar kamar di jam berapa, dan melakukan apa, tak akan ada yang mengganggu, kecuali jika Kevin memang benar benar niat ingin mengganggu seperti sebelumnya.


Tapi ya sudah lah, toh Bella pun bahagia, walau mereka hanya berdua saja di rumah mereka.


"Maaf, jika aku terlalu mengekangmu, membatasi interaksi mu dengan Gadisya."


"Tapi aku telah menyia nyiakan begitu banyak waktuku, tanpa kehadiran mu, karena itulah, sekarang Aku ingin menghabiskan banyak hari bersamamu," Andre berbisik lirih, setelah Bella menempel erat di pelukannya, tangan kirinya mengusap punggung istrinya, sementara tangan kanannya menggenggam erat kedua tangan Bella. 


Bella hanya diam, ia menikmati cuitan manis tersebut, tak terkira bahagia hatinya, penantian panjangnya kini berbuah manis, walau di ujung jalan Bella menyerah, namun di sisa perjalanannya, Bella cukup senang, karena seperti estafet, Andre bersedia menyambut dan melanjutkan apa yang dahulu ter rajut diantara mereka, dengan kesungguhan dan ketulusan, suaminya membuktikan setiap kalimat yang diucapkan.


*


*


*

__ADS_1


Mobil mewah tersebut memasuki pekarangan luas sebuah rumah yang kini resmi menjadi hunian Sepasang pengantin baru tersebut.


Pak Wawan membantu menurunkan semua koper dari bagasi, kemudian pamit. Kembali ke rumah utama.


"Terima kasih pak Wawan." Ucap Andre.


"Sama sama tuan muda,"jawab pak Wawan santun.


Andre membawa kedua koper besar miliknya, sementara Bella sudah lebih dulu masuk dan kini sedang menikmati segelas jus dari lemari pendingin, "ini, duduk dan minum dulu?" 


Dengan patuh Andre duduk di meja makan, kemudian menghabiskan segelas jus dingin yang suguhkan Bella.


"Di pendingin, penuh dengan bahan makanan, padahal kita sudah lama meninggalkan rumah ini?" Tanya Bella heran.


Andre tersenyum, "iya, aku yang meminta bi Murti berbelanja, dua hari sebelum aku pulang." 


Bella mengangguk, suaminya ini benar benar penuh kejutan. "Tapi kita harus ke Singapura secepatnya, dua minggu lagi peluncuran produk." 


"Kita masih punya waktu beberapa hari, sebelum ke Singapura, karena aku sedang tidak ingin ada yang mengganggu kita." Andre mengedipkan matanya, "tenang saja, Jeani Kim, sudah berada di tanganku, wanita busuk itu tak akan bisa mengelak lagi," 


"Benarkah?? … Aahh syukurlah, aku geram sekali padanya, selama menjadi atasanku, dia selalu semena mena, terhadap kami para desainer," Gerutu Bella, tak menyangka kini dengan bantuan suaminya, ia bisa dengan mudah menyingkirkan Jeani Kim.


Saking bahagianya, tanpa aba aba ia menghadiahkan ciuman singkat di bibir suaminya.


Andre terkejut, tapi juga bahagia, ini pertama kali nya Bella berinisiatif mencium bibirnya, "cuma begitu saja?" 


"Lagi dong." Pintanya, Andre pun menyodorkan wajahnya. "Yang mana saja boleh, cium semu juga boleh." 


Bella beranjak berdiri, ia pura pura tak melihat, Andre yang merasa di acuhkan ikut mengekor di belakangnya, Bella meletakkan dua gelas yang tadi mereka pergunakan untuk minum, ia hendak mencuci kedua gelas tersebut, tapi kemudian merasakan tubuhnya terhimpit.


"Minggirlah dulu, aku mau mencuci gelas gelas ini kemudian membereskan koper koper mu." Elak Bella yang kini sudah berbalik, otomatis kini mereka berhadapan, dan tubuh bagian depan menempel tanpa celah.


"Aku akan minggir, tapi kamu harus menyelesaikan apa yang baru saja kamu mulai." Bisikan nakal itu, sukses membuat Bella merinding.


Bella mendorong dada suaminya, "tidak, kamu belum mandi." Elak Bella, sebenarnya belum mandi pun Andre selalu menjaga tubuhnya agar tetap wangi, hanya saja Bella kini sedang berdebar malu.


"Tidak mau, cium dulu, baru aku pergi mandi." 


Bella masih terdiam, ia semakin gugup tak karuan.


"Cium aku, atau kita akan berlanjut disini, belum pernah kan?" Andre semakin berani menggoda istrinya.


Membuat Bella semakin tidak berkutik, hingga akhirnya ia pasrah mengabulkan permintaan suaminya, di hujaninya wajah tampan tersebut dengan ciumannya, kedua pipi, lalu mata, dahi, hidung dan dagu.


Dan sebagai pamungkas, Andre me***at bibir yang sejak tadi menggodanya, menerobos masuk, membelit lidah dan meng Hisap nya dengan rakus, ia sudah begitu rindu, sejak di Airport tadi ia menahan keinginannya tersebut, kemudian di mobil ada pak Wawan, jadi ia hanya memeluk Bella sepanjang perjalanan, tapi ketika tiba di rumah, Bella lebih dulu memantik hasrat nya, jadi jangan salahkan siapa siapa jika kini ia menikmati, apa yang sudah menjadi miliknya.


Lama mereka saling berpagut mesra, sesaat melupakan dimana kini mereka berada, kedua tangan Bella sudah melingkar di leher sang suami, sementara dengan satu lengan saja, Andre bisa membuat tubuh istrinya menempel sempurna, sementara tangan yang lainnya mulai bergerilya, bahkan sudah mulai mengusap, bergerak, menggoda dan me***as sesuatu di balik gaun yang Bella kenakan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian pagutan tersebut lepas, namun dahi mereka masih menempel, mereka saling tatap, sambil menghirup sebanyak mungkin udara, kemudian tertawa bersama.


"Temani aku mandi," Bisik Andre.


"Iiih … nggak yah, aku sudah mandi tadi," 


"Itu tadi, kalau sekarang belum kan?" 


"Tetap tidak mau, aku mandi nanti sore saja," Bella masih berusaha mengelak.


"Iya memang nanti sore kamu harus mandi, setelah kita beraktivitas," Lagi lagi Andre mengucapkan kalimat penuh maksud tersebut, "tapi sebelum kita beraktivitas, sebaiknya kita mandi dulu," 


"Aaw … " jerit Bella terkejut, manakala Andre sudah menggendongnya menuju kamar mereka, dan tentunya, tanpa ragu, apalagi malu, pria itu benar benar membawa istrinya ke kamar mandi, kemudian menyalakan shower hingga tubuh keduanya basah.


Silaturahmi bibir pun berlanjut, lebih panas menggoda dari pada sebelumnya, bahkan dalam sekejap saja, keduanya sudah polos tanpa sehelai kain yang menghalangi.


Selanjutnya, sudah pada tahu kan? terjadilah apa yang memang seharusnya terjadi diantara sepasang sejoli yang sudah saling merindu.


.


.


.


.


.


.


Sudah tarik nafasnya? 🤭


.


.


Sekarang hembuskan perlahan 😤🧘🤧


.


.


.


.


Sarangeeeeee 💟❤️

__ADS_1


__ADS_2