
90.
Hati Bella perih membayangkan kesedihan Jonathan, pasti teramat sangat menyakitkan, ia mulai terisak, membayangkan luka yang diderita Jonathan setelah mengetahui siapa pria yang ia cintai, hingga cincin pernikahan yang seharusnya nya ia pakai pun, tanpa sengaja tertukar dengan ukuran pria lain.
“Sesudahnya, Jonathan pergi mengendarai mobilnya, aku merasa ada yang tidak beres dengannya, jadi aku mengikuti kemanapun mobilnya melaju, sepanjang jalan kulihat beberapa kali mobilnya keluar lintasan, padahal kami tengah berada di jalur cepat, hingga akhirnya, entah sengaja atau tidak, kulihat mobil Jo berjalan dengan kecepatan penuh dan ada truk besar yang berjalan dari arah berlawanan, dadaku bergemuruh, serasa jiwaku hilang sesaat melihat kejadian itu, aku bahkan tak mampu bergerak karena gemetar ketakutan, tubuh Jo terlempar beberapa meter dari tempat kejadian, ku coba mengajaknya berbicara, tapi sepertinya sudah terlambat, ia hanya menyerahkan cincin ini, dan memintaku menikahimu, mencintaimu, menjagamu seumur hidupku.”
“Petugas polisi mengatakan, keluarga Jonathan tak ingin ada penyelidikan, jadi mobil Jo di buang begitu saja, mereka menganggap itu sebagai salah satu ritual buang sial, jadi petugas polisi menyerahkan kotak ini padaku, karena mereka menginginkan semua yang ada di mobil dimusnahkan.”
Andre mengakhiri kisahnya.
“Dan aku bahkan sangat bahagia dengan pernikahan kita,” Bella menatap wajah suaminya, dan Andre mengusap air mata yang membasahi wajah sang istri. “aku jahat sekali kan?”
Andre menggeleng, “tidak sayang, kamu tidak salah, karena kamu pun tak menginginkan semua ini.”
“Tapi aku merasa sangat bersalah.” wajah Bella kembali basah bersimbah air mata, “Aku ingin ke Singapura, tolong antarkan aku.”
Andre membeku, ke Singapura? kilasan kejadian mommy Stella yang bersikeras pergi ke Singapura demi bertemu dengan orang tua Bella kembali melintas, bagaimana khawatir dan paranoid nya daddy Alex saat itu, hingga harus membawa asisten dokter Elga demi menjaga segala kemungkinan.
__ADS_1
“Tapi sayang, kandunganmu sudah berusia delapan bulan, aku tak ingin mengulang kembali kisah mommy yang harus melahirkan di pesawat.”
“Tidak akan … aku yakin anak anak kita tidak akan lahir hari ini.”
“Bagaimana jika aku tetap bilang tidak.” jawab Andre Datar, ia mulai merasa ada yang tidak beres dengan dirinya, dadanya mulai bergolak dipenuhi rasa cemburu.
“Aku akan pergi sendiri.” balas Bella, ia merasa harus benar benar mendatangi makam Jonathan demi meminta maaf.
“Kamu masih mencintainya?”
Bella hanya diam tak menjawab, ia hanya menggeleng, “dan sampai sejauh ini, kamu masih juga meragukan hati dan perasaanku.”
Bella menggeleng, hatinya serasa tercubit, sakit sekali, bahkan setelah semua usaha dan perjuangannya untuk bisa kembali menghadirkan cinta dalam pernikahan yang mereka jalani, Andre masih juga salah paham pada sikapnya. “aku sungguh kecewa padamu, ku pikir kamu mencintaiku tanpa pernah lagi meragukan perasaanku, ternyata aku salah, aku terlena dengan semua sikap dan perhatianmu.”
Andre terdiam, sungguh yang dikatakan Bella semuanya salah, ia hanya sedang cemburu ketika menyadari bahwa Bella masih ingin mengunjungi makam mantan kekasihnya, walau hanya untuk meminta maaf, tak bisakah Bella merasakan kegelisahan hatinya.
Bella beranjak dari sofa, ia menuju ke toilet, sepertinya mandi akan sedikit menyegarkan pikiran dan perasaannya yang mulai panas, terlalu menyakitkan jika kembali harus membahas urusan perasaan, terlebih bersama sang suami, beberapa tahun yang lalu, mereka kerap membahas ini semua dan selalu berakhir dengan pertengkaran, bagi Bella sudah biasa, ia akan selalu menjadi pihak yang tersakiti, karena cinta sepihak.
__ADS_1
Usai menyegarkan diri, Bella keluar dari kamar mandi dan menyadari kamarnya telah kosong, entah kemana suaminya pergi.
Sampai jam makan malam tiba, Andre tak juga menunjukkan tanda tanda kembali ke rumah mereka, akhirnya dengan perasaan hampa Bella menikmati makan malamnya, sekedar kewajiban agar anak anaknya tidak kelaparan.
“Kemana suamimu Bell?” tanya Kevin yang kebetulan sudah berada di rumah.
Bella menggeleng, “entahlah … dia pergi ketika aku mandi, ponselnya bahkan tak bisa di hubungi.”
Bella kembali ke kamarnya dengan lesu, hati dan perasaannya tak menentu, antara marah karena rasa cintanya diragukan, padahal Andre sangat tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya, dan perasaan ini bukan berlangsung sehari dua hari, tapi sudah mengendap bertahun tahun dihatinya, dan kesal karena merasa sedang diabaikan.
Sampai hampir jam sebelas malam Andre belum bisa dihubungi, entah sudah berapa puluh kali Bella melakukan panggilan, hingga akhirnya ia tertidur karena lelah.
Jam tiga dini hari Bella belum juga bisa menghubungi suaminya. “Jika amarahmu begini besar, kenapa dulu kamu menjalankan wasiat jonathan, seharusnya kamu biarkan aku jadi janda sebelum menikah, itu lebih baik, daripada bersuami tapi ternyata masih diragukan.”
Akhirnya dengan segala ragu dan entah apa lagi, Bella berkemas, ia hanya membawa barang seadanya, kemudian memesan taxi online.
Tepat jam lima ia pergi dengan menumpangi taxi, bahkan pertanyaan security pun tak ia hiraukan, toh ia hanya pergi sebentar, untuk mengunjungi makam Jonathan, kemungkinan sore atau malam nanti sudah kembali lagi ke Jakarta.
__ADS_1
Setidaknya bukan hanya Andre yang bisa menghilang, ia pun ingin menghilang sesaat, demi meredakan segala macam pikiran buruk, “kita jumpa lagi nanti malam, semoga perasaanmu juga sudah membaik, hari ini jangan coba menghubungiku, setelah beberapa jam kamu abaikan panggilanku.” ucap Bella sambil menatap wallpaper ponselnya yang berhiaskan foto suaminya.
Bella pun mematikan ponselnya, seiring dengan instruksi dari kru pesawat, karena pesawat akan segera lepas landas.