Andre Untuk Bella

Andre Untuk Bella
77.


__ADS_3

77.


Hari kedua menjadi orang tua pengganti.


Seperti kesepakatan mereka sebelumnya, hari ini Andre dan Bella memboyong baby Luna ke rumah mereka.


Mobil Andre penuh dengan semua perlengkapan baby Luna, tak berhenti sampai disitu saja, karena  dalam perjalanan menuju rumah, mereka menyambangi toko perlengkapan bayi, dan memborong semua pernak pernik untuk baby Luna, mereka sungguh tak peduli jika  nantinya Luna akan dibawa kembali oleh kedua orang tuanya, yang terpenting saat ini adalah, mereka memuaskan kerinduan dan keinginan mereka akan hadirnya seorang anak.


Jika pada hari sebelumnya, baby Luna masih menangis histeris jika digendong dengan posisi duduk, hari ini baby Luna relatif tenang walau digendong dengan posisi duduk, dan Bella sangat senang, itu artinya ia dan Andre sudah satu langkah lebih siap menjadi orang tua, perkembangan kecil ini sangat disyukuri oleh keduanya.


“Apalagi yang kurang sayang? aku tak mau nanti ketika sudah di rumah kita masih harus dipusingkan dengan barang yang belum sempat kita beli.” Andre mengamati satu persatu perlengkapan bayi yang ada di troli belanja mereka, wajahnya yang berseri bahagia membuatnya terlihat berlipat lipat kali lebih tampan, dan hal itu merupakan pemandangan spesial bagi para  pegawai wanita yang ada di toko tersebut.


Walau Bella merasa tak nyaman dengan pemandangan tersebut, tapi ia cukup dewasa menyikapinya, dan sudah biasa melihat suami tampannya di kagumi banyak wanita. 


Bella mendekati suaminya, kemudian memeriksa isi troli, “Sepertinya sudah, ayo kita pulang, kasihan Luna jika terlalu lama di luar rumah.” 


Andre pun menuruti perkataan Bella, tanpa ia tahu bahwa Istrinya sedang merasa tak nyaman dengan suasana di toko.


“Terima kasih tuan … silahkan datang kembali,” ucap wanita yang bertugas sebagai kasir.


‘Heh … datang lagi, supaya kamu bisa menikmati wajah tampan suamiku, jangan harap.’ gerutu Bella dalam hati.


*


*


*


Dua hari berlalu, tak lagi ada kehebohan seperti drama pada hari pertama, yang ada kini kedua orang tua pengganti itu merasa nyaman dengan peran baru mereka.


Pagi hari Bella memandikan baby Luna, sementara suaminya menyiapkan sarapan, setelah luna kenyang dengan sebotol AsiP, Bella pun sarapan bergantian dengan Andre yang sudah sarapan terlebih dahulu.


Dan ketika menjelang siang Andre sibuk dengan pekerjaannya, Bella dengan senang hati mendekap baby Luna sambil tetap menemani suami nya mengerjakan pekerjaannya.


Bahkan di malam hari Luna tak lagi histeris ketika ia harus tidur diantara mommy dan daddy barunya.


Begitulah yang terjadi setiap hari, hingga hari itu pun tiba, hari dimana Kevin menjemput kembali baby kesayangannya.

__ADS_1


Keduanya melamun seperti kehilangan separuh jiwa mereka, tak ada lagi tangis bayi yang meramaikan rumah, tak ada lagi suara manja yang minta di temani  di malam hari, bahkan aroma bayi pun nyaris hilang tak berbekas.


Hanya satu kata yang sanggup melukiskan kondisi mereka saat ini, 


Rindu


*


*


*


Mamun kerinduan itu tak berlangsung lama, karena ternyata baby Luna juga merindukan mommy dan daddy nya, bayi kecil itu protes keras ketika tak lagi merasakan dekapan hangat Bella dan suara celotehan Andre yang kerap menemaninya begadang.


“Iya sayang, anak papa mau apa?,” ujar Kevin menenangkan baby Luna yang kembali histeris, usai  disu**i Gadisya.


Gadisya tak bisa membantu, karena kini ia pun tengah menimang Darren yang merindukan oma nya, sementara Daniel lelap tertidur di box bayinya.


“Sya … biasanya dia tidak seperti ini kan?” tanya Kevin yang mulai panik.


“Iya aku tahu, biasanya dia tertidur setelah kenyang, kenapa malam ini dia rewel?”


Sungguh beberapa hari kemarin adalah situasi yang berat baginya dan Gadisya, mereka terpaksa meninggalkan baby Luna karena harus menjaga Daniel dan Darren di rumah sakit, bahkan Kevin masih tetap bekerja, sementara Gadisya dan nanny menjaga Daniel dan Darren di ruang rawat inap nya.


Suara tangis lirih baby Luna tak kunjung berhenti, bahkan setelah hampir satu jam Kevin menimangnya, si kecil kesayangan itu tetap tak menghentikan tangisnya.


“Haruskah kita menghubungi saudaraku?” tanya Kevin yang sudah hampir menyerah.


Gadisya pun nyaris ikut menangis ketika putri kecilnya tak kunjung tenang, “iya … telepon saja Andre dan Bella, aku tak sanggup lagi mendengar suara tangisnya.” Gadisya mengambil alih Baby Luna dari pelukan Kevin, ia sudah mulai meneteskan air mata, karena sebagai ibu tak mampu memahami keinginan putri kecilnya.


Kevin segera menyambar ponselnya dan menghubungi saudara kembarnya, sejujurnya ia benci jika harus mengakui, Andre lebih diterima putri kecilnya, padahal ia adalah papa kandung Luna.


*


*


*

__ADS_1


Jam tiga dini hari.


Telinga andre tergelitik oleh suara nyaring yang berasal dari ponselnya, susah payah ia membuat dirinya kembali fokus, tangan kanannya menggapai ponsel yang tergeletak di atas nakas.


“Kevin?? apa dia sedang tidak ada pekerjaan?” gerutunya kesal.


Bella yang mendengar suara gerutuan suaminya pun ikut terbangun, “siapa?” tanya Bella, yang melihat wajah suaminya kini terlihat menyeramkan.


“Kevin.”


“Ada perlu apa dia menelepon jam segini?”


“Itu juga yang ingin ku ketahui.”


“Angkatlah cepat, siapa tahu penting.”


“Iya Kev …?”


“Maaf kalau aku mengganggu,” 


“Udah tahu kan kalau ganggu, ada apa?”


“Hehehe maaf, kapan lagi aku bisa merepotkan mu.”


“Sering, bukan lagi kapan, kamu memang saudara yang merepotkan.”


“Terima kasih sudah bersedia kurepotkan.”


“Buruan ada apa? aku masih ngantuk nih.” Andre mulai kesal.


“Baby Luna, belum juga bisa lelap tertidur.”


Andre segera duduk, kantuknya hilang seketika, mendengar baby kesayangannya belum bisa memejamkan mata. “kenapa begitu, kamu pasti malas menggendong nya.”


“Siapa bilang, aku bahkan sudah dua jam lebih menenangkannya, tapi ia benar benar sedang mencari perhatian, bisakah kamu kemari dan menenangkannya?” pinta Kevin memelas.


Andre dan Bella saling tatap, mereka tak menyangka baby Luna merasakan perasaan yang sama seperti yang mereka rasakan, “ya sudah ayo bersiap,” Bella lebih dulu memberikan jawaban. 

__ADS_1


Andre mengangguk.


“Baiklah, kami kesana sekarang.”


__ADS_2