
78.
Andre dan Bella tiba tiga puluh menit kemudian, keduanya segera menghampiri baby Luna yang masih juga menangis lirih dalam tidur nya.
"Aaahhh … syukurlah kalian segera datang, rasanya kami berdua sudah kehabisan cara menenangkan nya." Keluh Kevin.
Wajah Sepasang orang tua baru itu nampak kusut, begitupun dengan penampilannya, Gadisya bahkan tak menyadari kepang rambutnya sudah miring entah kemana.
Andre yang semula agak dongkol karena pagi pagi sudah terganggu dengan panggilan dari saudara kembarnya, kini berubah menjadi prihatin setelah melihat penampilan Kevin dan Gadisya.
"Serahkan pada kami," Andre segera mengambil alih baby Luna dari pelukan Kevin. "Kalian istirahat lah, kami akan membawanya ke kamar kami,"
Kevin tak bisa berkata kata lagi, ketika melihat si kesayangan kini tenang dalam dekapan adik kembarnya.
"Apa dia sudah minum su*u?" Tanya Bella pada Gadisya.
"Sudah," Jawab Gadisya sendu.
Bella mengusap punggung Gadisya, wajah lelah sang mama muda itu, seolah menjerit menyampaikan suara hatinya.
"Istirahat lah, mungkin setelah ini Daniel dan Darren akan membutuhkan kalian."
Kevin dan Gadisya mengangguk bersamaan.
*
*
*
Setibanya di kamar, Bella melihat pemandangan yang selama beberapa hari terakhir ini akrab di matanya.
Andre tenang meninabobokan baby Luna, dan bayi kecil itupun seakan mengerti bahwa kini ia tengah berada di pelukan orang yang tepat.
__ADS_1
Bella mendekati keduanya, "sudah tidur?"
"Hmm … istirahat lah dulu, sebentar lagi aku menyusul."
Namun Bella menggeleng, "tidak aku juga merindukan bayi kecil ini." Bella mencium Kening baby Luna.
Andre tersenyum, "Baiklah, ayo kita tidur lagi, sepertinya bayi kecil ini merindukan pelukan kita."
*
*
*
Tanpa terasa, tiga bulan berlalu begitu saja, akhirnya resmi sudah baby Luna menjadi anak Andre dan Bella, karena Bayi itu nyatanya lebih nyaman tinggal bersama mereka ketimbang bersama Kevin dan Gadisya.
Bahkan pembangunan rumah Kevin yang semestinya selesai enam bulan ke depan, nyatanya bisa di selesaikan dalam waktu dua bulan, karena Kevin yang tidak ingin jauh dari si kesayangan.
Bella menjalani hari hari nya dengan senyum, peran baru nya sebagai mommy, nyatanya membuat Bella sangat bahagia, bahkan melihat dan mengamati secara langsung tumbuh kembang baby Luna, membuat Bella melupakan keinginannya memiliki anak dari rahimnya sendiri.
Semuanya berjalan begitu saja secara alami, seakan akan Andre dan Bella tengah merawat anak kandung mereka sendiri.
Jika sebelumnya Bella yang sering berkunjung ke rumah utama, demi menyambangi Gadisya dan si kembar, kini justru sebaliknya, gadisya dan si kembar yang mendatangi Bella, demi menyambangi dan memberikan Asi nya untuk si kesayangan, bukan tak sayang pada anak kandung, tapi Gadisya menyadari baby Luna lebih nyaman bersama daddy dan mommy barunya, jadi semaksimal mungkin ia tetap menyambangi bayi kecilnya, agar kedekatannya dengan bayi kecilnya tetap terjaga.
Usai pembangunan rumah Kevin dan Gadisya di rampungkan, mereka pun segera pindah dan menempati rumah tersebut, kini praktis rumah utama kosong dan sepi, hal itu membuat mommy Stella dan daddy Alex, kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Andre dan Kevin.
Kini rumah Andre selalu ramai, hampir seluruh isi rumah utama berpindah ke rumah Andre, kehebohan kini menjadi suasana biasa setiap harinya, seperti pagi ini usai mommy Stella di bantu Gadisya dan bi Murti menyiapkan sarapan, semuanya berkumpul mengelilingi meja makan, meja makan yang semula hanya disiapkan untuk dua orang saja, kini telah berganti meja bundar yang siap menampung seluruh anggota keluarga Geraldy.
Sarapan pagi siap, dan semuanya sudah duduk di kursinya masing masing, Daniel, Darren, dan Luna sudah bersama pawangnya masing masing.
"Mom … jam berapa mommy berangkat?"
"Entah, jam berapa kak?"
__ADS_1
Seperti biasa daddy Alex akan menemani mommy Stella ke Singapura, karena ada jadwal rawat jalan yang masih harus di penuhi oleh mommy Stella, yang masih berstatus sebagai dokter aktif di William Medical Center Singapura.
"Tergantung jam berapa si tampan ini bersedia lepas dariku," Jawab Daddy Alex yang kini sibuk dengan Daniel. "Lagi pula kamu kan tidak ikut? Kenapa harus repot repot menanyakan jadwal keberangkatan kami?"
Emira hanya nyengir menampakkan gigi nya.
"Apa jangan jangan kamu mau berulah?"
"Iiih kakak apaan sih … kenapa selalu berpikir jelek tentangku?"
"Karena aku pernah melihatmu bersama seorang laki laki, dipinggir jalan, tepatnya di halte bus dekat sekolahmu," jawab Andre.
"Benar apa yang dia katakan?" Kali ini Kevin ikut menimpali.
Wajah Emira kaku seketika, ia tahu jika kedua saudara laki lakinya ini akan bersikap posesif dan norak seperti sekarang, tapi mau bagaimana lagi, cepat atau lambat keduanya pasti tahu, dan Emira yakin informasi itu bukan berasal dari kedua kakak iparnya.
Selanjutnya Emira hanya bisa mengangguk lemah.
"Kakak akan terus mengawasi mu, jadi tetap jaga sikapmu, akan lebih baik jika kamu tetap jadi anak manis dan penurut."
"Mooom … lihat kakak, apa selamanya aku akan jadi anak bawang, aku sudah remaja, apa aku tak boleh berkencan dan memiliki kekasih?" Adu Emira pada sang mommy, yang selama ini terkesan diam dan membiarkan dirinya di tindas oleh kedua kakak nya.
"Tak boleh, kamu masih anak kecil." Seru Kevin dan Andre bersamaan, bahkan seketika seisi ruangan menatap ke arah mereka, begitupun Bella dan Gadisnya yang semakin gemas dengan tingkah posesif suami mereka.
"Tuuuhh kan, mereka bilang aku masih anak anak." Kini Emira cemberut.
"Daddy …" Emira pun beringsut mendekati Daddy Alex.
"Dengarkan kakak mu ya sayang, mereka berdua menyayangimu, pasti juga ingin yang terbaik untukmu, termasuk urusan pria, percayalah mereka berdua sangat ahli membuat wanita patah hati, jadi pasti bisa menilai mana pria baik dan mana pria br3ng5ek,"
Sring !!!
Seketika daddy Alex mendapat tatapan mematikan dari mommy Stella, tapi ia pura pura tak peduli pernah membuat wanitanya tersebut patah hati hebat selama empat belas tahun lamanya.
__ADS_1
😂 #gigit aja Stella, bila perlu banting sekalian, lakimu emang gak merasa kalau dia pernah perbuat salah.
"Kemarilah … jangan dengarkan daddy," Stella memeluk putri bungsunya tersebut, "mommy tak ingin membatasi pergaulanmu, carilah teman sebanyak mungkin, tapi tetap jaga batasan sebagai seorang gadis, jujung selalu norma norma yang sudah mommy ajarkan padamu sejak kecil, gunakan kemampuan bela dirimu hanya untuk situasi darurat, bukan untuk bersikap sewenang wenang, paham?"