
23.
"Iya, aku sudah menikah."
Emily mendelik kaget, ia membekap mulutnya, "jadi sebelum Jo meninggal, kamu sudah menikah dengannya?"
"Bukan, aku menikah dengan pria lain, pria yang sama sekali tak pernah kubayangkan akan menikahiku." Ujar Bella sendu.
Berbanding terbalik dengan Bella, Emily justru berteriak bahagia, bahkan tanpa segan ia memeluk dan mencium Bella. "Selamat … kenapa kamu tidak bilang kalau kamu tetap melangsungkan pernikahan?"
"Apa ini layak disebut berita bahagia? Sementara aku tetap menikah sementara mempelai pria yang seharusnya menikahiku meninggal, bukankah ini seperti aku menabur garam diatas luka?" Dengan ekspresi sendu Bella memuntahkan isi hatinya. "Aku pasti terlihat seperti wanita jahat."
Emily menggeleng kuat … “kamu sama sekali tidak jahat, kenyataan bahwa Jo sudah meninggal memang harus tetap di akui walau pahit, yang sudah pergi tak akan pernah kembali, dan yang ditinggalkan tetap harus melanjutkan hidup kan?” Emily mengusap punggung Bella, ia sangat memahami, berada di posisi Bella pasti sangat sulit.
Bella meneteskan air mata, “Tapi aku tetap merasa bersalah pada Jo, karena kini aku bersanding dengan Pria lain,”
“Aku mengerti, pasti sangat sulit bagimu, tapi percayalah waktu akan merubah semuanya, rasa bersalahmu pelan pelan akan terkikis berganti dengan bahagia.”
“Dokan Jo tenang dalam pelukan tuhan, maka hidupmu juga akan jauh lebih tenang.”
Kalimat penyemangat itu, sangatlah berarti untuk Bella, walau belum sepenuhnya mengobati rasa bersalahnya pada Jo.
“Sampai kapan kalian akan tetap berada di sini? bukankah jam kerja sudah dimulai sejak satu jam yang lalu,”
Sebuah peringatan tegas membuat Emily dan Bella segera menoleh, siapa lagi jika bukan sang ratu GU, gila urusan, alias semua pekerjaan ingin dia kerjakan demi citra baik nya di hadapan direktur Jewelry Star.
Dialah Jeani Kim, salah seorang rekan Bella dan Emily, dahulu mereka adalah tim desain utama, suatu hari ditengah peliknya kompetisi promosi jabatan, Jeani justru mencuri dan mengakui hasil desain Bella, dan hasilnya ia kini ada di posisi General Manager, sementara Bella dan Emily tetap berada di tim desai Utama, selain ada lagi tim tim desain yang lain.
“Cepatlah kembali bekerja,” Sentak Jeani dengan suara tegas penuh penekanan.
Bella dan Emily sudah sangat tahu karakter Jeani, jadi mereka hanya mengangguk dengan ekspresi mengejek di wajah masing masing, sepanjang perjalanan menuju kubikel mereka, Emily tak henti hentinya mengungkapkan rasa kesalnya, “rasanya ingin aku jambak saja rambutnya, berlagak sekali mentang mentang sudah ada di posisi nyaman, padahal jika orang lain tahu aib nya, dia pasti akan kehilangan muka,” sungut Emily sambil membuat gerakan memukul di udara. “Aku merindukan Miss Bety,” gumam Emily.
#(ada yang ingat nona Bety, asisten Stella semasa tinggal di apartemen, sekarang othor munculkan lagi, lumayan jadi cameo, dulu semasa masih jadi pekerja paruh waktu di apartemen Stella, bety masih berstatus anak SMU)
__ADS_1
“Iya aku juga, walaupun sudah sangat lama mengenal Miss Bety, tapi setelah beliau resign aku tetap merasa kehilangan.”
Bella dan Emily meletakkan tas kerja mereka di meja masing masing, lagi lagi Emily menatap cincin di jari manis Bella, “apakah kebetulan cincin mempelai pria nya tak ada masalah?” Tanya Emily iseng.
Bella terhenyak sesaat, barulah ia tersadar jika ukuran jari Jo dan Andre sangatlah berbeda, lalu bagaimana mungkin cincin itu bisa melekat pas di jari Andre, Bella menatap Emily, nampak sekali jika gadis itu kini tengah gugup. “adakah yang ingin kamu jelaskan?” Bella melipat kedua tangannya di dada.
Emily mulai meremas ujung kemejanya, “sebenarnya hari itu aku buru buru, kertas yang kamu titipkan padaku hilang, jadi aku tak tahu pasti berapa ukuran jari Jonathan, kemudian aku mencari cari lagi di lokermu, di buku lamamu, aku ingat kamu pernah mengatakan padaku bahwa kamu akan membuat cincin itu, aku pikir ukurannya sama, jadi aku menyerahkan ukuran cincin tersebut sesuai dengan yang tertulis di buku lamamu, maaf.” dengan gugup Emily mengakui kesalahannya.
Sesudahnya, barulah Bella mengetahui kenapa cincin tersebut begitu melekat pas di jari tangan suaminya, padahal jika memakai ukuran Jonathan pastilah cincin itu akan meluncur bebas, karena perbedaan ukuran lingkar jari mereka.
Kini entahlah, apakah Bella harus bersyukur, atau tetap menyimpan rasa bersalah, sepertinya kesalahan Emily memang bukan sebuah kebetulan, mungkinkah tuhan hendak mengatakan pada dirinya, bahwa Jo memang tak pernah ditakdirkan untuk bersamanya.
Lalu apa benar pria yang kini menjadi suaminya adalah orang yang memang seharusnya berada di sisinya, disaat perasaannya tak lagi sama justru tuhan mendekatkannya kembali dengan pria yang dahulu selalu mengisi hari harinya, walau kedekatan mereka berakhir menyakitkan.
*
*
*
Tampilannya sudah tak sesempurna pagi tadi, kini hanya tersisa kemeja yang sudah digulung kedua lengannya, serta dasi yang sudah dilonggarkan, tapi sungguh itu semua tak mengurangi kadar ketampanannya.
(perpaduan daddy Alex dan mommy Stella memang gantengnya gak ada obat, tapi tetep othor gak bisa muv on dari daddy Alex si mantan duda🤭)
Andre bersandar di pintu mobil dengan ponsel berada dalam genggamannya, hembusan angin sore membuat rambut coklatnya menari nari, hingga tampak berantakan.
Dari kejauhan Andre melihat Bella tengah berjalan keluar, beriringan dengan beberapa rekan kerjanya termasuk Emily.
Dahulu, Andre selalu sengaja melambaikan tangannya, manakala melihat Bella tengah bersama teman teman wanitanya, entah kenapa ia langsung tergerak untuk mencari perhatian, wajah tampan dengan penampilan memukau, selalu wangi memikat, ditambah lagi barang branded yang menunjang penampilannya, membuat Andre selalu nampak memukau di mata kaum Hawa, karena itulah Bella selalu cemberut karena menahan cemburu, Bella selalu merasa tak pernah memiliki tempat di hati Andre, ia selalu merasa tersisihkan.
Tapi kini Andre tak ingin gegabah mengulang kesalahan masa lalunya, fokusnya kini hanyalah Bella Bella dan Bella, rasa yang dulu ia anggap angin lalu, kini seakan berubah menjadi rasa penasaran yang ingin segera dituntaskan.
Bella bukannya tak tahu jika suaminya sudah menunggu, tapi ia lagi lagi teringat dengan kenangan buruknya, saat di mana hatinya menangis karena selalu menjadi yang tersisihkan, jadi Bella sengaja berjalan sangat pelan, agar teman temannya bisa berjalan lebih dulu, “tak apa Bella, syukurlah sejak dulu kamu sudah terlatih merasakan kecewa, jadi kini kamu bisa memetik hasilnya.” Bisik Bella dalam hati, ia bahkan tak lagi berada di dekat Emily.
__ADS_1
Emily yang mulai merasa Bella tak lagi ada di sampingnya, mulai mencari cari, dan ternyata yang dicari tengah berjalan seorang diri, bahkan sangat santai memainkan gawainya, bahkan bella sudah mulai mengulum lolipop favoritnya, sebuah kebiasaan yang sejak dulu sangat susah dia hilangkan.
Andre masih santai mengamati ponselnya, ia mengabaikan para gadis yang tengah menatapnya dengan pandangan penuh damba, tapi karena tak ingin membuat sang istri cemberut, Andre sengaja memamerkan jari kelingking yang sudah tersemat cincin di sana, sontak saja para wanita berubah muram, tapi Andre tak peduli, ia justru berjalan menghampiri Bella yang masih nampak berjalan pelan bersama Emily, Andre bahkan tak segan memeluknya di depan Emily, serta para wanita yang sesaat lalu menatapnya penuh damba.
Bella terkesiap, ia sungguh tak menyangka, jika suaminya akan berbuat demikian, hingga Bella pikir Andre tengah keracunan makanan, karena secara tiba tiba pria ini memeluknya di depan banyak orang.
.
.
.
susah yah, akibat sering tersakiti membuat Bella tak bisa merasakan, Andre sedang berusaha merubah diri 🤧
.
.
.
.
sekian halu untuk hari ini 🤓
.
.
.
,
sarangeeeeee 💟❤️
__ADS_1