Andre Untuk Bella

Andre Untuk Bella
88.


__ADS_3

88.


Hari hari berlalu.


Drama mual dan muntah sudah biasa, jerit tangis si kembar seolah menjadi warna yang indah, cemburu juga hal biasa, semuanya terangkum dalam satu kisah yang mengiringi perjalanan rumah tangga Andre dan Bella.


Kadang kala karena hormon kehamilan membuat Bella uring uringan tak jelas, menangis karena rindu pada mommy dan daddy nya di Singapura, ingin ini dan itu, tapi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, ia menjadi heran dengan entah kenapa ia bersikap konyol, dan Gadisya hanya menertawakan tingkah konyolnya, sungguh, ia pun pernah mengalaminya, hamil bayi kembar bukan perkara mudah, morning sickness akan jauh lebih menyiksa di bandingkan dengan wanita hamil dengan 1 bayi saja.


Gadisya hanya bisa menepuk pundak Andre, jika ia sudah mulai frustasi menghadapi kegalauan sang istri.


Seperti hari ini, usai mereka memeriksakan kondisi bayi bayi tampan mereka, yah dokter sudah memastikan bahwa kedua janin yang berada dalam kandungan Bella berjenis kelamin laki laki, hal ini semakin melengkapi jumlah spesies laki laki posesif dalam keluarga Geraldy, mengingat jumlah kaum wanita nya yang semakin langka.


😂😂#apa kabar Luna yang nantinya dikawal 4 laki laki seumur hidupnya.


Mereka sedang duduk mengantri di ruang tunggu VVIP, karena hari ini kondisi rumah sakit sedang sangat ramai, maka pasien VVIP pun harus menunggu seperti layaknya pasien umum.


Bella sudah sangat lemas, tapi menolak ketika Andre mengajaknya pulang, “tunggulah disini, aku akan menanyakan vitamin mu, apakah sudah siap atau belum.”


Bella mengangguk, sebelum beranjak, Andre mengusap perut sang istri dengan sayang, “boys … jaga mommy yah.” pesannya pada anak anaknya, seketika ia mendapat hadiah dua tendangan, seakan akan kedua jagoannya mengerti dan menyetujui apa yang baru saja ia ucapkan.


“Lihat sayang, mereka merespon perkataanku.” pekik Andre senang.


Bella hanya tersenyum melihat ekspresi bahagia tersebut, ia pun bahagia, bahkan sangat bahagia menjalani kehamilannya, walau banyak drama kecemburuan dan ketidakjelasan yang ikut memberi warna.


Bella menunggu beberapa saat, senyum di wajahnya terbit, manakala suami nya kembali dengan membawa apa yang sejak tadi mereka tunggu.


Tapi raut bahagia itu seketika menjadi mendung manakala melihat Andre berpapasan dengan seorang wanita, bahkan mereka saling cium pipi kanan kiri, tak berhenti sampai di situ, Andre dan wanita itu berbicara akrab, bahkan Andre tertawa keras tanpa beban.


Entah seperti apa kini perasaan Bella, “dasar genit …” gerutu Bella tak suka. “apa dia lupa kalau istrinya menunggu, malah asik ngobrol dengan wanita yang kebetulan ia temui di jalan.

__ADS_1


tak ingin menunggu dengan cemburu yang membumbung, Bella segera menghampiri Bella, namun setibanya ia di dekat Andre, wanita tersebut sudah berpamitan, seketika Andre merasa nasibnya sedang tidak baik baik saja. 


Bella melipat kedua lengannya di dada. 


“Aku bisa jelaskan sayang.”


“Aku mau pulang,” Bella berbalik, tak menghiraukan suaminya yang memelas minta di perhatikan.


Bahkan Bella menepis tangan Andre, ketika pria itu hendak menggenggam tangannya. 


Bella berjalan cepat, ia sedang tak ingin mendengar penjelasan.


Mereka tiba di mobil, Bella bahkan memilih duduk di kursi belakang, “yah sayang … kok duduk di belakang? siapa yang menemaniku?” Keluh Andre.


Tapi Bella tak menjawab, entah kenapa ia merasa rendah diri dan tiba tiba sangat marah, bahkan kini air matanya mulai menetes.


Mendengar suara isak tangis, Andre memilih menepikan mobilnya, usai menyalakan lampu sein kiri, Andre berpindah duduk di kursi belakang, tak bisa dibiarkan, ia harus segera meluruskan kesalah pahaman. 


“Wanita tadi namanya Erina, mantan kekasihnya Kevin,”


Bella masih diam, Andre mengusap pelan punggung Bella, “dia baru dua tahun ini sembuh dari depresinya yang kedua, pasca mengetahui pernikahan Kevin dan Gadisya.”


“Kedua?” Bella mulai merespon.


“Yang pertama karena Kevin memutuskan hubungan mereka sebelum melanjutkan kuliahnya di London, yang kedua karena mendengar Berita pernikahan Kevin dan Gadisya, diperparah lagi oleh fakta bahwa semasa kuliah Erina adalah kawan baik Gadisya.”


“Benarkah seperti itu?”


“Nanti kamu bisa tanyakan pada mereka langsung.”

__ADS_1


“Lalu peluk dan cium pipi tadi?” 


“Hahahaha … maaf kalau yang itu, tadi reflek saja, itupun karena Erina yang memulai.” mendengar tawa suaminya Bella semin kesal, hingga reflek mendaratkan cubitan di pinggang Andre, “aaaawww … sakit sayang …” ringis Andre.


“Siapa suruh genit,” jawab Bella seenaknya.


“Percayalah, aku hanya mencintaimu.”


“Palsu, bilang saja kamu sekarang sudah mulai bosan padaku, tubuhku bahkan sudah seperti paus terdampar.”


Andre terkejut mendengar kekonyolan istrinya, karena di matanya kini, tubuh Bella yang berisi, padat sempurna depan belakang, membuatnya semakin tergoda, “jangan mengatakan hal konyol, karena itu semua tidak benar, di mataku tubuhmu yang sekarang sangatlah sempurna, padat dan sangat menggoda, bahkan jika aku tak ingat jika istriku tengah kepayahan membawa dua bayi, sudah setiap malam Aku mengajakmu bercinta.”


Sungguh kata kata yang menghibur, sekaligus membuat wajah Bella memerah.


“Jadi kita pulang atau membuka salah salah satu kamar hotel?” karena tak sampa satu kilometer di depan adalah cabang utama Twenty Five Hotel, sekaligus tempat Andre berkantor setiap hari.


“Sepertinya membuka satu kamar hotel bukan ide buruk, aku lelah dan ingin tidur siang segera.”


“Yah kok tidur sih, terus nasib ku bagaimana?”


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


👻👻 siang siang And ... gerah hareudang kalo kata orang sunda mah ...


__ADS_2