Angan Cinta

Angan Cinta
Bertengkar


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Begitu sampai di dalam rumah Mela langsung mempersilahkan Ravin duduk di sofa ruang tamu yang tidak terlalu besar itu


"Sebentar ya, Tante buatin minum dulu


Kamu mau minum apa? Teh, Kopi, Jus?" tawar Mami Mela


"Enggak perlu repot-repot Tante" jawab Ravin sungkan


"Ah enggak repot kok. Gimana kalo kopi aja?" tanya Mami Mela


"Boleh Tante" jawab Ravin


Sementara itu Rachel yang baru masuk ke dalam rumah langsung di tarik oleh sang Mami ke dapur


"Rachel ayo temenin Mami dulu ke dapur" ucap Mami Mela


"Mau apa sih?"


"Sebentar aja" paksa Mami Mela


Rachel terlihat mendesah pasrah saat Mami nya itu terlihat memaksa


"Bentar ya Ravin, Tante ajak Rachel ke belakang sebentar" ucap Mami Mela


Ravin tersenyum sambil menganggukan kepalanya


"Iya Tante silahkan" jawabnya


Mela langsung menarik tangan sang putri menuju ke dapur


Merasa kesal dengan paksaan sang Mami, Rachel menarik lengannya saat sudah tiba di dapur


"Ada apa sih, Mi?" tanya Rachel


"Kamu buatin kopi buat Ravin" ucap Mami Mela


"Kenapa nyuruh aku? Kenapa gak Mami aja yang bikin?"


"Kamu kan tau Mami gak bisa bikin kaya gitu, mana Mami ngerti" ucap Mami Mela


Rachel hampir saja lupa kalau Mami nya itu bukanlah ibu seperti pada umumnya


Para ibu yang bisa melakukan segala hal


Mami nya itu hanyalah seorang putri yang lahir dari keluarga kaya dan hanya bisa menikmati kekayaan keluarga dan suaminya seumur hidup


Di saat Ibu pada umum nya serba bisa, merawat anak dan suami mereka


Mami nya hanyalah bisa melakukan perawatan yang semakin membuat dirinya cantik


Bahkan meski keadaan mereka kini sudah berubah sulit semenjak meninggalnya sang Papi, Mela sama sekali tidak berubah


Untuk membuat air panas saja mungkin ia tidak bisa


"Kalo udah tau enggak bisa ngapain pake di tawarin? Kasih aja air putih" ucap Rachel kesal


"Ih .. kamu ini. Mana boleh kasih air putih aja, masa tamu pake mobil mewah begitu cuma di kasih air putih" ujar Mela


Rachel menggeleng kesal sambil mulai membuatkan kopi untuk Ravin


Mendekat pada sang putri yang sedang membuat air panas, Mela menyandarkan tubuhnya di samping Rachel


"Mami enggak tau kamu bisa dapetin yang ganteng dan kaya begitu.


Pantesan aja kamu nolak waktu Mami mau jodohin sama Edward" ucap Mela sambil tersenyum senang


"Kalo Mami liat dari penampilan sama mobilnya Ravin jauh lebih kaya dari Edward.


Bener gak Chel?" tanya nya sambil bersidekap


Rachel mengacuhkan racauan ibu nya yang membuat telinga nya panas.


Rachel sudah tahu kalau pikiran ibunya itu akan seperti ini, terlihat dari tatapan Mela pada apa yang Ravin gunakan.


"Chel .. Chel .. dia sekaya apa? Keluarganya punya usaha apa aja? Rumahnya di kawasan elite mana?" tanya Mela beruntun-runtun


Rachel masih mencoba menahan kesabaran nya, ia tetap sibuk mengaduk kopi yang baru saja di beri air panas


"Kalo Ravin lebih kaya dari Edward, Mami setuju deh Chel" ucap Mela dengan ceria


"Chel kamu diem aja sih, gak jawab pertanyaan Mami" ujar Mela

__ADS_1


Merasa semakin kesal, Rachel membanting sendok yang baru saja ia gunakan dengan sangat keras membuat sang Mami terlonjak kaget


"Apa-apaan sih kamu Chel, bikin Mami kaget aja" ucap Mela marah


"Mi .. Mami kapan sih bisa berubah? Aku tuh capek sama sikap Mami.


Mami tuh bisa gak sih sekali aja jadi orang tua normal kaya yang lainnya?


Aku tuh bukan barang Mi" ucap Rachel


Hatinya benar-benar merasa sakit, selama ini ia hanya di perlakukan layaknya sebuah barang yang harus di jual dengan harga yang setinggi-tingginya


"Kamu tuh ya, memang nya siapa yang anggep kamu kaya barang.


Wajar dong kalo Mami pengen kamu nikah sama orang yang derajatnya tinggi,


biar derajat keluarga kita bisa balik lagi kaya dulu" ucap Mela


Rachel tertawa sinis sambil menahan air mata nya yang hampir tumpah


"Derajat keluarga?"


"Keluarga yang mana yang Mami maksud? Aku aja hidup dan tumbuh sendirian selama ini,


tanpa kasih sayang Mami maupun Papi.


Bukannya aku ini cuma kesalahan buat kalian?


Apa itu yang Mami maksud keluarga?" ujar Rachel


Rasa nya hatinya remuk mengatakan dengan mulutnya sendiri kenyataan yang selama ini ia jalani.


Sebenarnya untuk apa ia di lahirkan?


Sering kali pertanyaan itu muncul di benaknya


Tanpa ingin menambah lagi lonjakan emosi di hatinya, Rachel memilih berlalu pergi dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


Tapi, langkahnya terhenti saat dirinya melihat Ravin yang sedang menatap bingung padanya.


********


Ravin sedang memandangi setiap sudut rumah Rachel.


Tidak terlalu banyak pajangan, hiasan ataupun foto yang terpajang.


Hanya beberapa foto Rachel saat kecil hingga remaja, juga beberapa hiasan pemanis di sudut-sudut ruangan.


Ravin menatap beberapa foto masa kecil Rachel, gadis kecil di dalam foto itu terlihat tersenyum begitu ceria dan tulus.


Tapi ketika melihat foto masa remaja Rachel, senyuman yang ada foto itu sudah terlihat berbeda.


Senyumnya terlihat seperti senyum yang di paksakan dan aura wajahnya pun terlihat tak bahagia.


Saat Ravin sedang sibuk menatap foto-foto Rachel, terdengar suara ribut dari arah dapur rumah itu.


"Ada apa ya?" gumam Ravin


Keributan itu semakin jelas terdengar saat Rachel dan Mela saling beradu argumen, hingga


tak lama kemudian Rachel keluar dari dapur dengan wajah berlinang air mata.


Kedua tak sengaja saling bersitatap


"Elo kenapa?" tanya Ravin


Dari arah dapur terdengar suara teriakan dari Mela


Tanpa menghiraukan teriakan dari Mami nya, Rachel menarik tangan Ravin keluar bersamanya.


"Rachel, elo kenapa? Kalian berdua berantem?"


Ravin masih mengikuti Rachel yang tak melepaskan tangannya


"Pulang" ucap Rachel saat mereka sudah ada di depan mobil Ravin


"Apa?"


"Mending elo pulang sekarang"


"Bilang dulu ada apa?"


"Gue bilang pulang" ucap Rachel mendorong tubuh Ravin mendekat pintu mobil milik Ravin


Lalu ia berbalik hendak pergi dari sana

__ADS_1


"Elo sendiri mau kemana?" tanya Ravin menahan tangan Rachel yang hendak pergi ke arah jalanan


bukan masuk kembali ke rumahnya


Rachel menepiskan tangan Ravin


"Bukan urusan lo" Rachel kembali hendak pergi


tapi Ravin lagi-lagi menahannya


"Kalo lo mau pergi, kita pergi bareng"


"Gue bisa pergi sendiri"


"Pergi bareng gue atau elo juga gak bisa pergi" ucap Ravin tak terbantah


Terdiam sesaat, akhirnya Rachel memutuskan untuk pergi saja bersama Ravin sebelum Mami nya itu menghampiri mereka


"Yaudah lepasin gue" ucap Rachel


Ravin melepaskan genggamannya di lengan Rachel dan mulai memasuki mobil saat gadis itu sudah masuk lebih dulu


Saat mobil Ravin mulai melaju mundur, mereka melihat Mela baru saja keluar dari dalam rumah dan berdiri di ambang pintu


********


"Elo mau gue anter ke mana?" tanya Ravin setelah keheningan terjadi beberapa lama


Ravin membiarkan gadis itu tenang lebih dulu saat Rachel sempat menangis di dalam mobil


hari ini beberapa kali Ravin melihat ekspresi lain dari perempuan itu selain ekspresi dingin seperti biasanya


"Enggak perlu, turunin gue di halte yang paling Deket aja" jawab Rachel


Mobil mereka masih terjebak di macetnya ibukota malam hari


"Jangan, biar gue anter aja. Ini udah makin malem, bahaya cewek pergi naik angkutan umum sendirian"


"Gak perlu khawatir, gue udah terbiasa" tolak Rachel berkali-kali


Ravin tidak mengiyakan maupun menolak ucapan Rachel


tapi ia melewatkan begitu saja halte bus yang mereka lalui


"Eh .. kok gak berhenti?" tanya Rachel kebingungan


Ravin hanya diam tanpa menjawab apapun


"Ravin .. Ravin .. "


"Ravin .. gue mau turun"


"Gue gak bakal turunin elo di halte.


Terserah elo mau bilang tujuan elo kemana atau gue bawa elo balik ke rumah gue?" ucap Ravin dengan nada tegas


Perempuan itu terdiam bingung, sebenarnya ia bisa saja pergi ke apartemen Amel


Tapi,


Rachel takut Amel sedang tidak ada di sana saat ini, ia juga tidak bisa menghubungi karena hp nya rusak


Dia juga tidak mungkin ikut kembali ke rumah Ravin, gadis itu terlalu malu pada keluarga Ravin


Apalagi jika mereka melihat keadaan Rachel yang kusut setelah bertengkar dengan Mami nya


Mau bilang apa dia pada kedua orang tua Ravin?


Jelas sekali Rachel dan Ravin tidak terlalu dekat untuk bisa saling datang ke rumah masing-masing


"Elo diem aja, berarti elo setuju buat gue bawa ke rumah gue" simpul Ravin yang berhasil membuat Rachel gelagapan


"Jangan!" sanggahnya buru-buru


.


.


.


.


Jangan lupa Like, Coment dan Vote nya


See you next episode ❣️

__ADS_1


__ADS_2