
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Setelah di obati oleh salah satu perawat di rumah sakit, Ravin langsung pergi ke salah satu kantor polisi.
Di perjalanan tadi Ravin sudah menelepon Om Hadi pengacara keluarganya untuk melaporkan kasus pelecehan dan percobaan pemerkosaan yang di lakukan Randy pada Rachel.
Sesampainya di sana, Ravin langsung masuk ke dalam kantor polisi.
Di dalam sudah ada Om Hadi dan juga Marko.
Marko juga ikut bertanggung jawab atas kejadian ini sebagai pemilik acara dan tempat.
"Gimana Om?" tanya Ravin saat bertemu dengan Hadi.
"Sedang di proses, kamu tenang aja. Laporan kita di terima kok, apalagi kita punya bukti yang kuat" ucap Om Hadi
"Iya Rav, gue udah cek rekaman cctv di lorong kamar mandi dan untung nya perbuatan Randy sempat terekam di sana. Itu udah kita serahin sebagai barang bukti" ucap Marko
"Iya setelah semua laporan nya selesai, polisi nanti tinggal memanggil saksi-saksi dari TKP" ucap Hadi
"Bagus lah" ucap Ravin
"Kamu enggak apa-apa kan Ravin?" tanya Hadi karena melihat luka-luka di wajah Ravin.
"Enggak apa-apa Om, udah di obatin" jawab Ravin.
"Keadaan Rachel gimana?" tanya Marko
Marko juga merasa khawatir saat melihat keadaan terakhir Rachel yang memprihatinkan.
"Dia udah lebih tenang, sekarang masih di rawat rumah sakit" jawab Ravin
"Syukur deh" Marko mendesah lega
"Oh iya Om ada duplikat rekaman cctv nya?" tanya Ravin
Hadi menganggukan kepalanya.
"Ada, kenapa?"
"Ravin boleh liat Om?" tanya Ravin yang di iyakan oleh Hadi
Hadi memberikan flashdisk berisi rekaman Cctv di lorong toilet restaurant Marko, lalu ia juga meminjamkan laptop milik nya untuk Ravin.
Ravin akan menunggu Hadi di ruang tunggu sambil melihat rekaman Cctv tersebut.
Marko pun ikut menunggu di bersama Ravin.
Menyalakan laptop milik Hadi lalu mulai menyaksikan hasil dari rekaman Cctv yang di berikan Hadi.
Tiba-tiba emosi nya kembali timbul , rahang nya kembali mengeras saat melihat Rachel yang di perlakukan kurang ajar.
"Rav .. " Marko menepuk pundak sahabatnya itu mencoba menenangkan.
"Br*ngsek! Ini orang emang udah ngikutin Rachel dari awal" ucap Ravin
Hasil dari rekaman Cctv itu menunjukan awal mula Rachel pergi menuju ke toilet hingga masuk ke dalamnya, tapi sepertinya Rachel tidak sadark kalau ada orang yang mengikuti nya dari awal.
"Elo liat sendiri kan Ko, ini orang bahkan sampe nungguin Rachel keluar" ucap Ravin lagi emosi
Randy yang diam-diam mengikuti Rachel ternyata menunggu di sudut lorong, hingga Rachel keluar toilet.
Dan mencekal perempuan itu saat keluar.
"Iya gue juga udah liat rekaman nya, tapi kok gue ngerasa ada yang aneh ya" ucap Marko
"Aneh gimana?"
"Gue itu kenal sama Randy, dia temen gue di kampus.
Keluarganya juga orang bermartabat ,
gue rasa dia gak mungkin ngelakuin hal kaya gitu sama cewek lo apalagi kalo dia gak kenal" ucap Marko berspekulasi.
"Jadi maksud lo Rachel udah kenal sama cowo ini?" tanya Ravin.
Marko menganggukan kepalanya.
"Ini cuma dugaan gue aja, coba elo liat rekaman nya lagi.
Rachel sama Randy kaya sempet berdebat gitu kan, kaya mereka punya masalah.
Dan mungkin Randy gak bisa ngontrol dirinya" jelas Marko
Marko menunjukan video pada durasi saat Rachel dan Randy berdebat perihal masa lalu.
Meski rekaman tersebut tak menghasilkan suara,
tapi terlihat dari gerak tubuh dan ekspresi mereka terlihat saling beradu argumen layaknya orang yang sudah saling mengenal.
Ravin kembali mengamati rekaman tersebut, dan memang dirinya merasa ucapan Marko terlihat masuk akal juga.
"Terus gimana? Buat sementara waktu dokter nyaranin buat jangan bahas dulu soal kejadian ini sampai shock nya Rachel ilang.
__ADS_1
Karena bisa aja itu berpotensi jadi trauma buat dia" jelas Ravin
"Heemm .. yaudah buat sementara biar gue yang urus masalah ini sama pengacara lo Rav.
Biar gue coba cari tau" ucap Marko
"Thanks Ko elo udah banyak bantu gue"
"Gak masalah Rav, toh ini juga karna keteledoran keamanan di tempat gue. Di tambah Randy juga temen gue, jadi gue emang harus ikut campur"
Keheningan sesaat terjadi, sampai akhirnya Om Hadi datang memanggil Ravin.
"Rav ayo ikut Om ke dalam" ucap Om Hadi
"Iya Om" jawab Ravin
Ravin langsung mengalihkan laptop di pangkuannya kepada Marko lalu ikut dengan Hadi untuk melakukan laporan pemeriksaan selanjutnya.
********
Selesai melakukan laporan di kantor polisi, Ravin bersiap hendak kembali lagi ke rumah sakit.
Ia harus memeriksa keadaan Rachel saat ini dan juga harus bergantian berjaga dengan Amel.
Waktu di jam tangan nya sudah menunjukan pukul 1 malam dini hari.
Jalanan malam kota Jakarta pun sudah terlihat lenggang ketika ia melajukan kendaraaan nya.
Ravin berencana akan menginap di rumah sakit, ia sudah menelpon Mama Rara dan mengatakan tidak akan bisa pulang.
Ia beralasan akan menginap di rumah teman nya, agar tak membuat Mama Rara khawatir.
Ravin tidak bisa menceritakan soal Rachel saat ini, mungkin besok ia akan jujur pada Mama nya saat kembali ke rumah.
Sedangkan, Papa Ken mungkin saat ini sudah tahu masalah yang di alami Ravin.
Om Hadi tadi sudah meminta izin akan mengatakan semua nya pada Papa Ken, karena tidak mungkin ia menangani kasus Ravin tanpa mengatakan pada Ken.
Dan Ravin tidak keberatan, karena bagaimana pun ia tak bisa menyembunyikan hal penting seperti ini dari kedua orang tuanya.
"Mel .. Amel .. " Ravin mengguncangkan bahu Amel yang tidur di kursi samping ranjang perawatan Rachel.
"Mel .. bangun .. " ulang Ravin
Amel terlihat mulai terusik, ia mengangkat kepalanya dari sisi ranjang sambil mengucek kedua matanya.
"Ravin.. " ucap Amel berat.
Kantuk nya masih sangat bersarang.
"Sorry gue ganggu elo" ucap Ravin
"Enggak apa-apa, tapi kok elo ke sini lagi?" tanya Amel.
"Iya, gue juga mau jagain Rachel di sini.
Ayo gue anter elo pulang, nanti biar gue yang tidur di sini" ucap Ravin.
Amel melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 1 malam lewat.
"Enggak usah deh Rav, gue juga tidur di sini aja.
Udah terlalu malem, elo juga pasti capek" ucap Amel
"Gue sih gak masalah kalo nganter elo, mending elo istirahat di apartemen.
Besok pagi biar kita gantian buat jaga Rachel" ucap Ravin
Amel terdiam sejenak, memikirkan benar juga perkataan Ravin.
"Yaudah deh gue balik, tapi elo gak usah anter gue.
Gue bisa pesen taksi aja, biar elo istirahat aja"
"Yakin mau pesen taksi, ini udah malem banget"
"Enggak masalah kok Rav, apartemen gue juga enggak jauh banget ini.
Biar gue pesen taksi aja"
Amel bangkit dari duduknya lalu bersiap mengambil tas nya dan memesan taksi melalui hp.
"Yaudah biar gue anter elo sampe depan rumah sakit aja kalo gitu" ucap Ravin
Amel pun menyetujui ucapan Ravin yang itu.
Ravin mengantarkan Amel hingga ke depan lobby rumah sakit.
********
Ravin langsung kembali ke kamar Rachel usia mengantarkan Amel sampai lobby.
Duduk di kursi samping ranjang, Ravin menatap wajah Rachel yang masih terlelap pulas.
Meski tadi cukup lama Ravin di kantor polisi, tapi ia menerima laporan berkala tentang keadaan Rachel dari perawat yang menangani gadis itu.
__ADS_1
Ravin menarik hingga dada selimut yang menutupi sebagian tubuh Rachel.
Rasa bersalah kembali menyerang dirinya saat melihat luka yang ada di tubuh Rachel.
"Maaf .. " ucap Ravin sambil menyentuh luka yang terdapat di sudut bibir gadis itu.
Ravin juga menyentuh perban luka pada leher Rachel.
Ia tak habis pikir, Rachel akan mengalami dan menerima perlakuan seperti itu.
Kalau ia sampai telat bisa saja hal paling fatal menimpa Rachel.
Rasa lelah yang teramat sangat membuat kantuk Ravin datang.
Ia menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Rachel, menggunakan sebelah lengannya sebagai bantalan.
Dan
satu tangannya lagi ia gunakan menggenggam erat jemari Rachel.
Hingga akhirnya Ravin mulai terlelap dari tidurnya.
********
Malam masih sangat gelap dan pekat, saat Ravin merasakan guncangan di ranjang Rachel.
Matanya yang baru terpejam beberapa jam masih terasa amat lengket untuk di buka.
Tapi, tangisan histeris dari bibir Rachel berhasil membuat kesadarannya pulih.
"Jangan .. tolong jangan .. hiks .. hiks .. "
Tangisan histeris dan ketakutan keluar dari bibir Rachel dengan mata yang masih terpejam.
Ravin yang tersadar langsung mencoba menyadarkan Rachel dan mimpi buruk nya.
"Chel .. Chel .. bangun" ucap Ravin, ia berpindah duduk di tepi ranjang
"Tolong jangan .. hiks .. hiks .. jangan .. "
Tangan Rachel meremas erat baju pasiennya seolah ia sedang melindungi diri.
"Chel .. Achel bangun. Sadar Chel .. " Ravin menggoyakan kedua bahu Rachel.
Air mata perempuan itu terus mengalir dengan mata yang terpejam.
Rachel semakin histeris saat membuka matanya, ia ketakutan melihat wajah Ravin di atasnya.
"Pergi..!! Jangan Rand .. pergi!!" teriak Rachel
Ia beringsut bangun dan memukuli tubuh Ravin.
"Rachel sadar ini gue Ravin .. Ravin Chel" Ravin menahan kedua tangan Rachel menggenggamnya erat.
"Hiks .. pergi Randy.. jangan sentuh.. " teriak Rachel
"RACHEL SADAR!! INI GUE RAVIN" bentak Ravin yang berhasil membuat Rachel mulai sadar.
"Rav .. hiks .. Ravin .. " ucapnya.
"Iya ini gue Ravin"
"Ravin.. " ucap Rachel lemah.
"Iya ini Ravin" ucap Ravin lembut
Ravin menarik Rachel kedalam pelukannya.
"Enggak apa-apa. Ada gue di sini, gue bakal jagain elo" ucap Ravin sambil menepuk-nepuk punggung Rachel.
Rachel masih terus menangis sesegukan.
"Enggak apa-apa, elo baik-baik aja. Semuanya baik-baik aja"
Rachel meremas erat baju depan Ravin dengan kedua tangannya.
"Gue takut Rav.. " ucap Rachel pelan.
"Jangan takut, gue ada di sini"
"Ravin .. "
"Iya ini Ravin" tangannya masih memeluk Rachel yang mulai tenang.
"Elo tenang ya .. " ucap Ravin.
Usapan dan tepukan-tepukan lembut di punggung Rachel berhasil membuat perempuan itu tenang dalam dekapan Ravin.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Coment dan Vote.
See you next episode ❣️