
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Bibir Ravin tak henti-hentinya menunjukan senyuman, matanya terus melihat ke arah Rachel di sampingnya sambil berusaha fokus mengemudi.
"Liat depan Rav, bahaya" ucap Rachel.
"Iya sayang .. " jawab Ravin, membuat kedua pipi Rachel merona.
"Apa sih" ujar Rachel menahan senyum malu nya.
Kedua nya terlihat begitu cerah dan bahagia.
"Kenapa? Kita kan udah resmi pacaran" ucap Ravin bangga.
"Siapa yang pacaran? Emang nya gue bilang iya?" ucap Rachel meledek.
Ravin mendelik tajam pada Rachel.
"Terus yang tadi itu apa? Jelas-jelas elo juga ngaku sayang sama gue?" ucap Ravin.
"Yang tadi yang mana? Kok gue enggak inget" canda Rachel.
Ravin mencubit sebelah pipi Rachel, lalu menariknya dengan gemas.
"Oh gitu ya ...
Jadi enggak mau ngaku " ujar Ravin gemas.
Rachel berusaha menarik tangan Ravin dari pipi nya, bibirnya memanyun sebal.
Membuat Ravin semakin gemas.
"Lepas Rav .. " pinta Rachel.
"Ngaku dulu kalau mau di lepas" ucap Ravin.
Lampu lalu lintas yang berubah merah membuat Ravin berhenti dan lebih leluasa menjahili gadisnya.
"Sakit .. " keluh Rachel.
"Ngaku dulu makanya"
"Yaudah iya .. iya .. " ujar Rachel mengalah.
"Iya apa?" tanya Ravin jahil.
"Iya gue juga sayang sama lo" jawab Rachel.
"Terus?" tanya Ravin.
"Terus apa?" tanya Rachel tak mengerti.
"Lepas ih .. " rengek Rachel.
"Terus bilang dulu kita pacaran enggak?" ucap Ravin enggan melepaskan cubitannya.
"Iya kita pacaran. Puas .. " ucap Rachel cemberut.
"Udah dong lepas" pinta Rachel.
"Panggil sayang dulu, baru beneran di lepasin" ucap Ravin.
"Ih curang .. enggak mau"
"Yaudah gue enggak lepas cubitan nya" ucap Ravin.
"Rav .. "
"Sayang .. ayo cepet. Mau di lepasin kan?"
"Iya .. iya .. Sayang"
"Yaudah lepas"
"Iya Sayang .. " ucap Ravin tersenyum puas, lalu melepaskan cubitannya di pipi Rachel.
Ravin pun mulai melajukan mobilnya saat lampu sudah berubah menjadi hijau.
"Nyebelin .. sakit tau .. " protes Rachel manja.
Ia mengelus-elus pipi nya yang di cubit Ravin.
Ravin terkekeh sambil ikut mengelus pipi Rachel dengan sebelah tangannya.
"Duh kasian pacar ku .. " ucap Ravin.
Aura bahagia begitu tercetak di wajah Ravin.
"Udah ah, nyetirnya yang fokus" komplen Rachel.
Ravin menuruti ucapan Rachel.
Ia fokus kembali mengemudikan mobilnya.
"Kita mau kemana?" tanya Rachel saat melihat jalanan yang di tuju Ravin bukan tempat tujuannya.
"Kita cari tempat makan malam" jawab Ravin.
"Lain kali aja Rav, gue harus pergi kerja.
Tolong anterin gue ke restoran ya" ucap Rachel.
"Udah hari ini enggak perlu masuk, biar gue bilang sama Manager lo nanti"
"Enggak bisa, gue enggak enak kebanyakan minta izin"
"Enggak masalah Chel, lagian Manager di sana juga kenalan Papa.
Biar nanti gue yang ngomonng"
"Rav .. "
"Setelah gue pikir-pikir, apa lebih baik elo resign aja dari restoran itu?"
"Apa resign?" tanya Rachel kaget.
"Iya .. "
"Loh kok jadi resign sih?
Enggak bisa itu kerjaan gue satu-satu nya"
"Soal kerjaan gampang, nanti kita bisa cari lagi"
"Enggak bisa Rav, gue itu udah cukup lama kerja di sana.
__ADS_1
Masuk ke sana juga enggak gampang, apalagi gaji nya juga lumayan banget"
"Kalo masalah nya itu gampang Chel, nanti biar gue cari kerjaan yang lebih dari itu"
Rachel menatap tak suka pada Ravin.
"Enggak bisa, gue enggak setuju" protes Rachel.
Ravin melirik sekilas pada Rachel, sambil ia memarkirkan mobil nya.
Kini mereka sudah tiba di sebuah caffe.
"Kenapa?"
"Gue enggak mau bergantung sama lo, Rav"
"Enggak masalah dong sayang, kita kan sekarang udah resmi jadi pasangan.
Jadi enggak masalah kalo emang elo bergantung sama gue, Chel"
"Tapi gue enggak mau resign, Rav"
"Dan gue enggak mau elo kerja di sana lagi, Chel"
"Kenapa? Elo malu punya pacar waiters?" tanya Rachel tak suka.
"Bukan ya ampun, kok mikirnya gitu sih Chel"
"Ya terus apa kalo bukan karena malu"
Ravin menghembus nafasnya.
"Karena kerja di sana tuh capek Chel, menguras tenaga apalagi yang paling gue enggak suka elo harus pulang larut malem.
Itu bahaya dan gak baik.
Gimana kalo di saat gue enggak bisa jagain lo" jelas Ravin.
"Gue enggak masalah, lagian gue juga udah terbiasa"
"Tapi itu masalah buat gue, gue bisa khawatir terus.
Lagi di luar sana banyak kerjaan ringan tapi bisa ngehasilin uang gede kok"
"Enggak segampang itu Rav, buat orang kaya gue.... "
"Chel .. " sela Ravin.
"Udah ya kita bahas ini nanti aja. Kita makan malam dulu" ucap Ravin.
"Tapi Rav... "
"Rachel, kita udah sampe loh di caffe.
Yakin masih mau bahas ini?" tanya Ravin.
Rachel diam, melihat ke sekeliling.
Mereka kini berada di sebuah caffe yang cukup terkenal di Jakarta.
Ravin masih duduk di tempatnya, mengamati Rachel yang menghembuskan nafas pasrah nya.
"Yaudah, ayo kita makan malam" ucap Rachel.
Ravin tersenyum lalu mengusap kepala Rachel penuh kasih.
Lelaki itu segera turun dari mobil, begitu juga dengan Rachel.
Ravin menelusupkan jemari tangan nya di antara jari-jari tangan Rachel.
Ia menggenggam tangan gadis nya untuk mengajak nya berjalan bersama untuk masuk ke dalam caffe.
Senyuman tersemat dari bibir Ravin kala Rachel melihat tangan mereka yang saling bertautan.
"Ayo .. " ucap Ravin yang di anggukan oleh Rachel.
*********
Seusai makan malam, Ravin sebenarnya ingin mengajak Rachel berjalan-jalan.
Ia ingin menikmati waktu bersama lebih lama dengan Rachel.
Tapi melihat Rachel yang tertidur pulas di kursi penumpang sampingnya, membuat Ravin mengurungkan.
Ia memutar mobil nya menuju arah rumah Rachel.
Ravin akan membawa Rachel pulang saja.
Sepanjang perjalanan, mata Ravin terus melirik ke arah Rachel yang tertidur sangat pulas.
Wajahnya memang tampak sedikit terlihat lelah.
Ini lah yang membuat Ravin tak tega jika Rachel terus bekerja di restoran itu.
Sepulang kuliah Rachel harus bekerja hingga larut malam.
Di tambah waktu di perjalanan yang harus Rachel gunakan untuk pulang pergi membuat waktu istirahat gadis itu semakin berkurang.
Dan Rachel harus melakukan itu setiap hari.
Meski tempat Rachel bekerja bukan restoran biasa, melainkan restoran berkelas.
Dan penghasilan yang Rachel terima juga sangat besar.
Tapi, Ravin tetap keberatan.
Ia bisa mencarikan pekerjaan yang lebih ringan dengan penghasilan yang lebih besar.
Ravin sebenarnya sudah ingin mengungkapkan ketidak setujuan nya itu dari lama.
Tapi Ravin merasa belum berhak.
Sampai ia akhirnya mengatakannya hari ini.
"Dia pulas banget" gumam Ravin.
Ia menghentikan mobilnya di depan halaman rumah Rachel.
Melepaskan sabuk pengaman nya, Ravin mencondongkan tubuh nya mendekat pad Rachel.
Tangannya terulur untuk merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik Rachel.
"Chel .. Chel .. "
Ravin mengelus-elus lembut pipi Rachel, membuat Rachel meggeliat pelan.
"Chel bangun yuk udah sampai" ucap Ravin.
__ADS_1
Rachel masih nyenyak dalam tidurnya.
"Chel .. " Ravin masih berusaha membangunkan.
"Heemm .. " gumam Rachel.
"Bangun udah sampai"
"Dimana?" gumam Rachel dengan suara serak nya.
"Di rumah lo" ucap Ravin.
Rachel membuka matanya perlahan.
Saat kedua matanya sudah terbuka, Rachel terbelalak saat melihat wajah Ravin ada di depannya.
Dengan buru-buru Rachel menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa?" tanya Ravin sambil tertawa.
"Kok elo deket banget sih, gue kan malu.
Muka gue pasti jelek banget abis ketiduran" ucap Rachel.
Perempuan itu khawatir wajahnya terlihat sejelek oleh Ravin.
Ravin terkekeh sambil mencoba paksa menurunkan kedua tangan Rachel dari wajahnya.
"Enggak kok, elo tetap cantik.
Bahkan lebih cantik waktu tidur" ucap Ravin.
"Bohong!" tuding Rachel.
"Beneran sayang" ucap Ravin.
"Udah yuk turun" ucap Ravin yang di iyakan oleh Rachel.
Keduanya turun dari mobil lalu berdiri du depan halaman.
"Udah gih sana masuk. Terus lanjutin istirahat di dalam" ucap Ravin.
"Mau mampir dulu?" tanya Rachel.
Ravin menggelengkan kepalanya.
"Enggak usah, lain kali aja" jawab Ravin.
"Yakin elo enggak mau mampir?" tanya ulang Rachel.
Ravin menganggukan kepalanya.
"Iya sayang .. " jawab Ravin yang berhasil membuat Rachel berdebar setiap lelaki itu memanggilnya sayang.
"Oh iya Chel, mulai sekarang kita ubah ya cara bicara kita" ucap Ravin.
"Maksudnya?" tanya Rachel tak mengerti.
"Jangan panggil gue elo lagi.
Mulai biasain panggil aku dan kamu" ucap Ravin.
"Hah?" ucap Rachel kaget.
"Aku enggak suka kita saling panggil gue-elo, gue-elo terus.
Kesan nya kita kaya orang lain" ucap Ravin.
"Beneran harus aku kamu?
Gue enggak biasa"
"Ya makanya di biasain"
"Ya..yaudah"
"Yaudah kalo gitu kamu masuk gih ke dalem" ucap Ravin.
"Elo .. eh kamu aja duluan.
Nanti gue, eh aku masuk kalo kamu udah pulang" ucap Rachel
"Enggak, kamu masuk duluan.
Baru aku pulang" jawab Ravin.
Entah sejak kapan untuk urusan pergi lebih duluan saja menjadi seribet ini.
Rachel mengalah, akhirnya ia setuju masuk lebih dulu.
"Yaudah .. aku masuk duluan" ucap Rachel.
Ravin mengangguk, membelai penuh cinta rambut Rachel.
"Yaudah istirahat ya" ucap Ravin.
"Iya .. elo .. Emm .. maksudnya kamu.
Kamu kabarin ya kalo udah sampai" ucap Rachel.
Ia masih kaku dengan sebutan aku dan kamu.
"Iya .. yaudah masuk sana"
Rachel menangguk, lalu hendak masuk ke halaman rumahnya.
"Kamu hati-hati di jalan" ucap Rachel.
Ravin tersenyum mengiyakan.
Sebelum benar-benar masuk, Rachel sempat melambaikan tangan nya pada Ravin yang juga membalas lambaian tangan nya.
Setelah Rachel benar-benar masuk, Ravin pun masuk ke dalam mobil untuk pulang.
Rachel sempat mengintip di balik jendela saat mobil Ravin meninggalkan pekarangan rumahnya.
Senyum bahagia tersemat dari bibir manis gadis itu.
•
•
•
•
Jangan lupa di Like, Coment dan Vote
__ADS_1
See you next episode ❣️