Angan Cinta

Angan Cinta
Kesal


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Ravin mendekap tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Sayang .. kamu kenapa?"


Pertanyaan Ravin tak mendapat jawaban.


Hanya pelukan Rachel yang semakin erat yang dapat Ravin rasakan.


Rachel semakin erat memeluk tubuh lelaki yang kini menjadi sandaran bagi nya.


Ravin membelai rambut coklat Rachel yang tergerai panjang.


"Chel .. ayo kita cari tempat dulu biar kamu tenang.


Enggak enak nanti ada orang yang liat" ucap Ravin dengan lembut.


Rachel menangguk lalu melepaskan pelukannya pada Ravin.


Ravin pun membawa Rachel masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan halaman rumah Rachel.


Di dalam mobil, Rachel terdiam.


Ia mencoba meredakan tangisannya, mengusap air matanya yang masih menetes.


"Kamu udah sarapan?" tanya Ravin.


Lelaki itu menyeka air mata yang tersisa di sudut mata Rachel dengan sebelah tangannya.


Rachel menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Yaudah kita cari sarapan ya, sekalian cari tempat buat kamu nenangin diri" ucap Ravin.


Rachel diam tak semangat untuk menjawab, ia hanya mengikuti apa yang Ravin usulkan.


Sekitar 10 menit dari rumah Rachel, Ravin menepi kan mobilnya di sebuah restoran siap saji.


Menggandeng tangan Rachel masuk ke dalam restoran tersebut.


"Kamu duduk aja, biar aku yang pesan" ucap Ravin yang di iyakan oleh Rachel.


Ravin mengantri di barisan kasir, ia memesankan satu buat menu breakfast untuk sarapan kekasih nya.


Beberapa menit menunggu seusai membayar, Ravin langsung membawa nampan berisi makanan untuk Rachel.


Ravin menghampiri Rachel yang duduk di sebuah meja yang berada di samping jendela.


"Makan dulu" ucap Ravin.


Lelaki itu meletakan nampan berisi satu buah sandwich isi daging, sayur dan satu telur mata sapi.


Satu mangkuk kecil soup jagung dan juga satu kotak susu plain.


Rachel menggeser nampan itu ke arah Ravin yang duduk di depannya.


"Aku enggak laper" tolak Rachel.


"Meski enggak laper, sarapan itu penting sayang" ucap Ravin lembut.


Ia mendekatkan kembali nampan itu ke dekat Rachel.


"Aku enggak nafsu, Rav" ucap Rachel.


"Kamu kuliah sampai siang, seenggaknya di makan sedikit" bujuk Ravin.


"Kamu aja enggak sarapan" jawab Rachel.


"Aku udah sarapan di rumah tadi"


"Terus aku harus makan sendirian?" tanya Rachel.


Nada suara gadis itu terdengar sedikit merajuk, membuat Ravin tersenyum.


"Enggak apa-apa. Kan ini aku temenin" ucap Ravin.


"Tapi.... "


"Enggak ada tapi-tapian.


Makan sedikit aja sayang" pinta Ravin.


Bujukan Ravin akhirnya berhasil juga, meski wajah Rachel terlihat cemberut.


Ravin tersenyum puas saat kekasihnya itu akhirnya mau memakan beberapa gigitan sandwich, suop jagung dan juga meminum sedikit susu nya.


Rachel terpaksa memakannya karena Ravin terus membujuknya.


Ia tak tega melihat usaha lelaki yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya itu.


Sebenarnya ia sangat tidak berselera apalagi setelah pertengkaran nya dengan Mami nya tadi.


"Udah ah" ucap Rachel menggeser lagi nampan makanannya.


Ravin menghela nafas pelan saat melihat Rachel hanya memakan beberapa suapan.


Tapi, ia tidak ingin memaksakan lagi Rachel untuk terus memakan sarapannya.


Ia tahu suasana hati Rachel sedang tak baik.

__ADS_1


"Yaudah enggak apa-apa" jawab Ravin.


Ravin menggeserkan nampan nya ke samping, di space meja yang masih kosong.


Ravin meletakan kedua tangan nya di atas meja lalu tangannya bergeser menggenggam kedua tangan Rachel yang juga di atas meja.


Ravin menatap wajah Rachel yang terlihat muram.


"Kamu kenapa?" tanya Ravin.


Ravin menatap penuh kasih kedua manik coklat milik Rachel.


Rachel diam, bibir nya masih tertutup rapat.


Rasa nya ia malu untuk mengatakan apa yang terjadi pada Ravin.


"Berantem lagi sama Mami kamu?" tanya Ravin lembut.


Sebisa mungkin Ravin berusaha agar Rachel nyaman, ia ingin Rachel tak merasa sungkan padanya.


Ravin ingin Rachel bersandar padanya tanpa rasa canggung.


Rachel memejamkan matanya sejenak, kemudian terbuka kembali menatap kedua mata Ravin.


"Hidup aku berantakan banget ya?" tanya Rachel nada suaranya terdengar putus asa.


Rachel benar-benar merasa hidup nya sangat lah berantakan.


Ravin menggeleng, menggenggam tangan Rachel semakin erat.


"Enggak kok, Sayang" ucap Ravin.


"Setiap orang itu pasti punya masalah masing-masing" sambung Ravin.


"Tapi aku capek Rav, capek.


Semua nya ini benar-benar bikin aku merasa hidup aku ini berantakan"


Mata Rachel kembali memerah, hampir menangis lagi.


Semua masalah selalu muncul di hidup Rachel, sedari ia lahir.


Apa memang kelahirannya adalah sebuah masalah seperti yang di katakan kedua orang tuanya?


"Sayang .. hei dengar aku.


Enggak ada satu orang pun di dunia ini yang enggak punya masalah.


Aku, kamu, atau siapapun itu pasti punya masalah.


Hidup kita memang bisa berantakan karena masalah itu, tapi bukan berarti kita enggak bisa memperbaiki nya, Sayang.


Dan kamu hebat karena kamu selalu bisa menghadapi masalah-masalah yang datang.


"Jangan pernah kamu merasa putus asa kaya gini, sekarang kamu punya aku.


Kamu bisa bersandar dan bergantung sama aku kalau kamu merasa capek sama semuanya.


Aku selalu ada buat kamu" ucap Ravin sambil menatap dalam Rachel.


Mata Rachel memanas, air mata itu sudah tak lagi tak mampu tertahan.


Tatapan dalam penuh kasih dari Ravin membuat nya benar-benar merasa bersyukur memiliki Ravin di hidupnya.


Tapi, pantaskah ia bersama Ravin dengan segala kekurangan dalam hidupnya ini?


Hati Rachel terus bertanya-tanya.


Ravin mengusap air mata yang membasahi pipi Rachel.


"Aku udah bilang belum sih kalo kamu jelek kalo nangis?" ucap Ravin meledek sambil mengusap air mata Rachel.


Rachel mencubit tangan Ravin sambil mengerucutkan bibirnya sebal.


"Nyebelin" ucap Rachel merajuk.


"Mana coba, aku mau liat senyum cantiknya pacar aku?" goda Ravin.


"Kamu ya .. "


"Aku apa? Ganteng ya?" ucap Ravin sambil mengedipkan sebelah matanya pada Rachel membuat Rachel terkekeh dengan kelakuan kekasihnya itu.


Ravin reflek ikut tersenyum saat melihat tawa dari gadisnya.


Tangannya meraih jemari Rachel dan menyatukannya menjadi sebuah genggaman.


********


Seusai dari restoran siap saji, Rachel dan Ravin langsung pergi menuju ke kampus.


Sepanjang perjalanan Ravin dan Rachel tak banyak mengobrol, mereka asik mendengarkan musik dari flashdisk saja.


Ravin fokus mengemudi dengan tangan kanannya.


Tangan kirinya ia gunakan untuk menggenggam tangan Rachel sedari tadi, bahkan lelaki itu tak segan mencium punggung tangan Rachel, meletakannya di dadanya atau memainkan jemari lentik itu.


Ravin semakin mengeratkan genggaman nya saat merasa Rachel hendak menarik jemarinya dari genggaman Ravin.


"Yang fokus nyetirnya, Rav" ucap Rachel.


"Aku dari tadi fokus, Sayang" jawab Ravin.

__ADS_1


"Apa, dari tadi kamu mainin tangan aku terus"


"Tapikan, pandangan aku fokus ke depan" bantah Ravin.


"Kamu tuh ya bisa aja ngeles nya" ucap Rachel.


"Tapi kamu suka kan?" ucap Ravin yang berhasil mendapatkan cubitan panas di pinggang nya dari Rachel.


"Aw.. aw.. sakit, Sayang" rengek Ravin.


"Biarin aja, lagian kamu sekarang jadi nyebelin gini" ucap Rachel.


"Yakin nyebelin bukan ngangenin?" ucap Ravin.


Rachel mencebikan bibirnya.


"Dih percaya diri" ucap Rachel.


"Harus dong" jawab Ravin.


Ravin tertawa pelan sambil kembali mencium punggung tangan Rachel.


Lelaki itu mengusap-usapkan punggung tangan Rachel ke pipi nya seperti seorang kucing yang sedang mendusel manja pada pemiliknya.


Rachel tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan sikap Ravin yang sekarang.


Lelaki itu kini tak segan menunjukan sifat jahil dan manja nya pada Rachel.


Beberapa meter lagi mereka akan sampai di gerbang kampus, tapi secara tiba-tiba Rachel meminta Ravin menghentikan mobilnya.


"Kenapa?" tanya Ravin.


Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Aku turun di sini aja"


"Loh kok turun?"


"Ia biar aku jalan kaki aja, udah dekat ini"


"Kamu bercanda?" tanya Ravin.


"Enggak lah, Rav.


Emang nya kamu mau kita bareng masuk ke kampus?"


"Iya dong, sekarang kan kamu pacar aku.


Wajar dong kalo kita dateng ke kampus bareng, biar orang-orang juga tau kita udah pacaran" ucap Ravin.


"Serius kamu?"


"Iya lah, Sayang.


Jangan bilang kamu enggak mau orang-orang tau kalo kita pacaran?" tanya Ravin.


"Bukan git... "


"Kenapa? Kenapa kamu enggak mau orang-orang tau? potong Ravin.


Nada suara Ravin terdengar tak suka, ia bahkan melepaskan genggaman tangan nya pada Rachel.


"Bukan nya enggak mau Rav, tapi aku belum siap aja.


Aku cuma belum siap aja sama pandangan orang-orang kalau mereka tau orang kaya aku pacaran sama kamu"


"Kenapa harus peduli sama pandangan orang-orang sih, Chel.


Lagian apa maksudnya orang kaya kamu? Emang nya apa yang salah dari kamu?" ucap Ravin kesal.


"Kamu tau sendiri image aku di kampus Rav.


Aku cuma enggak mau kamu nanti orang ikut melihat kamu buruk karna aku"


"Aku enggak peduli"


"Tapi aku peduli!"


"Pokoknya kita rahasiain ini buat sementara aja ya, Rav.


Aku keluar sekarang, aku udah telat" ucap Rachel.


Perempuan itu benar-benar pergi keluar dari mobil tanpa peduli betapa kesalnya Ravin saat ini.


Rencana Ravin gagal untuk datang ke kampus bersama lalu menggandeng lengan gadis itu di hadapan semua orang agar mereka tahu Rachel milik nya.


Ravin hanya mampu menatap punggung gadisnya itu berjalan menjauh menuju gerbang kampus.






Aduh neng Achel, babang Ravin nya kesel juga enggak peka amat wkwk.


Maaf ya updete nya lemot, soalnya lagi ada kerjaan lain.


Jangan lupa loh support nya dengan cara di like, Coment dan Vote juga sehabis baca.

__ADS_1


See you next episode ❣️


__ADS_2