Angan Cinta

Angan Cinta
Keluarga


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


"Kakak enggak ikut makan malam lagi?"


Pertanyaan itu terlontar dari bibir Raisa, saat gadis remaja itu memasuki ruang makan.


Duduk di samping kakak keduanya, Raisa bertanya pada sang Mama yang sedang mengambilkan makanan untuk Papa nya.


"Kakak belum pulang, mungkin makan malam di luar" jawab Mama Rara.


"Makasih sayang" jawab Papa Ken saat istrinya itu selesai melayani nya.


"Iya Mas" jawab Mama Rara.


Dari suami, Mama Rara beralih melayani sang ayah mertuanya. Mengambilkan lauk serta nasi seperti biasanya.


"Kok tumben sih, Kakak udah beberapa hari ini jarang di rumah" Raisa kembali bertanya sambil mengisi piring miliknya.


"Mungkin Kakak lagi ada urusan di luar, Sayang" jawab Mama Rara.


Sudah tiga hari ini Ravin jarang ada di rumah.


Semenjak tahu tentang kabar perjodohannya, anak sulung itu jarang berkumpul di rumah bersama keluarga nya.


Bukan tanpa alasan Ravin melakukan itu, anak itu seperti sedang merajuk lantaran Ken selaku Papa nya menyatakan bahwa akan mempertimbangkan masalah pengajuan perjodohan yang di ajukan Hendra.


Meski Ken tak secara langsung menerima ajuan perjodohan itu, tapi Ken meminta Ravin untuk mempertimbangkan nya lagi. Meski tahu Ravin sudah jelas-jelas menolak secara gamblang.


"Tumben banget sih Kakak begini, biasanya meski sibuk Kakak selalu sempetin ikut makan malam.


Udah beberapa hari ini dia gak ikut sarapan juga makan malam" keluh Raisa.


Gadis itu seperti nya rindu pada Kakak tertuanya, karena memang ia sangat dekat dengan Ravin.


"Hey bawel, udah makan dulu jangan ngomel terus. Nanti enggak kenyang-kenyang, mau itu pipi makin bulat" ucap Arkana, membuat gadis itu mencebik kesal.


"Enak aja, pipi aku tirus begini"


"Mana tirus? Pipi udah kaya donat gula begini" ucap Arkana seraya menusuk-nusuk pipi sang adik.


"Ih .. " cebik Raisa kesal, sementara itu Arka malah asik cekikikan.


Papa dan Mama nya malah menggelengkan kepala melihat kedua putra dan putri nya yang selalu saja ribut.


Pemandangan seperti ini sudah biasa jika kedua anak itu berdekatan.


"Kakek, Kak Ar rese nih" adu Raisa pada sang Kakek yang juga ikut tertawa kecil.


"Ar, sudah jangan ledekin terus adik mu dong" tegur Kakek Wisnu.


Arkana berdehem, sambil menegakan tubuhnya.


"Iya Kakek"


"Emang enak, wlee omelin aja Kek" ucap Raisa sambil menjulurkan lidahnya pada Arka.


"Raisa sudah, ayo lanjutkan lagi makannya" ucap Papa Ken.


Raisa yang mendapat teguran dari Ken tentu membuat Arka juga senang, diam-diam ia meledeki adik kesayangannya itu.


Membuat Raisa semakin memanyunkan bibirnya.


"Raisa, Arkana, setelah makan malam nanti kalian langsung masuk ke kamar ya.


Ada hal penting yang ingin Kakek bicara kan dengan Papa dan Mama kalian" ucap Kakek Wisnu.


Raisa dan Arkana saling memandang sesaat, sampai kemudian mengangguk patuh.


"Ken dan Rara, Papa tunggu kalian di ruang keluarga setelah makan malam" ucap Wisnu kepada putra dan putri menantu nya itu.


Ken dan Rara yang seperti nya sudah tahu apa maksud dari sang Ayah, mengiyakan bersamaan.


"Iya Pa" jawab keduanya.


Suasana meja makan pun kembali hening, mereka semua melanjutkan makan malam nya.


********


Sesuai dengan ucapan Wisnu saat di meja makan tadi.


Kini mereka sedang berkumpul bertiga di ruang keluarga.


Kedua remaja yang tak lain Raisa dan Arkana, sudah memasuki kamar sesuai perintah sang Kakek.


Rara yang baru saja datang dari arah dapur, membawa dua cangkir teh yang ia letakan di atas meja.


"Teh nya Pa" ucap Rara pada Sang Papa.


Wisnu tersenyum, sambil meraih cangkir teh miliknya.


"Makasih sayang" ucap Wisnu pada Rara.


Rara mengangguk lalu kemudian ikut duduk bergabung di samping Ken yang berhadapan dengan Wisnu di depannya.


Menyesap sedikit teh nya, Wisnu lalu meletakkan kembali di atas meja.


Wajahnya kini menatap pada dua anak kesayangannya itu.


"Sebenarnya ada apa dengan Ravin?" tanya Wisnu pada Ken dan Rara.


Wisnu memang merasa aneh dengan sikap Ravin beberapa hari ini.


Tidak biasanya cucu sulungnya itu bersikap acuh dan menghindar. Ravin adalah anak yang patuh dan sopan pada semua orang apalagi pada kedua orang tuanya.


Ketika melihat sikap aneh Ravin, Wisnu yang tak tahu apapun tentu merasa curiga.


"Sepertinya Ravin marah pada Ken, Pa" jawab Ken.


Wisnu mengerenyitkan dahinya.


"Marah? Apa sebabnya?"


Ken memandang pada Rara sesaat. Rara mengusap punggungnya sambil mengangguk.


"Ceritakan aja pada Papa, Mas" ujar Rara.

__ADS_1


Ken menghela napas sesaat, lalu mengalihkan pandangannya pada Wisnu yang masih menatapnya menunggu jawaban.


"Seminggu yang lalu Mas Hendra datang ke rumah, dia mengajukan perjodohan antara Nara dan Ravin" Ken menjeda ucapan nya.


"Lalu Ken meminta Ravin untuk lebih memikirkan lagi soal hubungan nya dengan Rachel dan mempertimbangkan tentang perjodohan itu" sambung Ken.


Wisnu sempat kaget, tapi ia ingin tahu apa alasan Ken meminta hal seperti itu pada putranya.


"Kenapa kamu minta Ravin melakukan itu? Pasti ada alasan lain kan?" tanya Wisnu.


Ken pun akhirnya menceritakan semua nya pad Wisnu.


Mengenai latar belakang Rachel yang ia ketahui dari Hendra.


Juga itu alasan Ken meminta Ravin untuk mempertimbangkan perjodohannya.


Meski Ken tidak memaksa dan tetap menetapkan keputusannya di tangan Ravin, tapi Ken sangat berharap Ravin mau menerima dan mengerti.


"Jadi kamu tetap meminta Ravin mempertimbangkan, meski kamu sudah tahu kalau Ravin hanya mencintai Rachel?" tanya Wisnu membuat Ken bungkam.


Sebenarnya Ken juga tidak terlalu mempermasalahkan kehidupan Rachel, karena Ken sendiri bukan orang yang suka membanding-bandingkan segala sesuatu dari sudut pandang derajat.


Seperti dirinya yang bisa bersanding dengan Rara yang hanya dari keluarga biasa.


Ken hanya merasa Nara akan lebih baik jika harus menjadi pendamping Ravin, mengingat mereka sudah saling mengenal selama hampir dua puluh tahun lamanya.


Bahkan keluarga mereka juga sudah sangat dekat dengan keluarga Nara.


"Mas Ken berpikir Ravin akan cocok menikah dengan Nara karena mereka sudah lebih saling mengenal sedari kecil, Pa" ucap Rara menjelaskan.


"Ini bukan perihal sudah berapa lama mereka saling mengenal Kendra, Aira.


Yang lebih penting dari itu, adalah soal perasaan Ravin"


Ya, Rara tahu. Dan ia pun merasa kurang setuju dengan sikap suaminya itu.


"Apa Papa tidak masalah sama sekali dengan latar belakang Rachel?" tanya Ken pada Wisnu.


"Apa kamu mempersalahkan itu juga?" tanya balik Wisnu.


Dan Ken menggelengkan kepala nya.


"Ken, Rara dan bahkan Ravin sendiri belum tahu lebih jelasnya tentang kebenaran dari latar belakang Rachel itu" ucap Ken


"Rara rasa Rachel memiliki sesuatu luka yang dia tutupi dari semua orang. Itu juga yang membuat Ravin sendiri enggan buat mencari tahu lebih dalam" jelas Ken.


"Maka kalian pun tidak perlu mencari tahu lebih dalam.


Biarkan itu menjadi urusan Ravin dengan Rachel. Ravin sudah dewasa, dia pasti bisa bisa mengurusnya sendiri"


Ken mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.


"Ken .. " panggil Wisnu membuat Ken menodongkan.


"Ravin itu sama persis seperti kamu dalam segala hal. Tentu kamu sendiri bisa merasakannya bukan?


Dirimu saat muda adalah Ravin saat ini, kamu hanya harus percaya pada keputusan putra kamu sendiri seperti Papa percaya pada kamu dulu.


Ravin tidak mungkin mengambil langkah yang salah jika menyangkut perasaan nya. Karena semua itu turunan dari diri kamu juga" ucap Wisnu bijak.


"Iya Pa, Ken mengerti" jawab Ken.


Berhasil membuat Rara tersenyum dan Ken memberengut masam.


"Enggak perlu Papa ingatkan"


Karena itu sudah menjadi kenangan terburuk bagi Ken.


"Baguslah .. Yasudah, cepat perbaiki hubungan kamu dan Ravin.


Tidak bagus hubungan Ayah dan Anak menjadi buruk seperti ini" ucap Wisnu pada Ken.


"Iya Pa" jawab Ken.


"Rara, pastikan hubungan mereka segera membaik. Juga buat Ravin supaya mau bergabung lagi sarapan dan makan bersama, bilang adik nya yang cerewet itu terus merengek karna kangen pada Kakak nya" ucap Wisnu pada Rara.


Rara mengangguk sambil tersenyum.


"Iya Pa, pasti" jawab nya.


"Makasih Pa" ucap Ken pada Wisnu.


Ken merasa beruntung masih memiliki Papa Wisnu yang bijak dan selalu ada.


Wisnu mengangguk seraya beranjak dari duduknya.


"Yasudah, Papa mau istirahat ke kamar" ucap Wisnu yang di iyakan oleh Ken dan Rara.


*********


Selepas kepergian Wisnu, Ken merebahkan tubuhnya di sofa dengan kepala berbantalkan kedua paha Rara.


"Ternyata meski udah berumur dan jadi orang tua, aku masih butuh banget saran Papa ya" ujar Ken pada sang istri.


Rara menunduk, menatap wajah Ken sambil mengusap lembut rambut sang suami.


"Tentu aja Mas. Karena meski sudah setua apapun kita, di mata orang tua, kita itu tetap anak-anak bagi mereka" ucap Rara.


Ken tersenyum kecil, membenarkan ucapan sang istri.


"Iya kamu benar, Sayang"


"Maka itu, kalau memang kamu perlu saran atau masukan apapun, jangan sungkan buat datang dan minta pendapat Papa" ucap Rara.


Ken meraih satu tangan Rara untuk ia letakan di pipinya.


"Aku pengen jadi Papa yang hebat dan selalu ada buat Ravin, Arka dan Raisa.


Seperti Papa yang hebat buat aku" ucap Ken.


Rara tersenyum mendengar nya.


"Kamu hebat kok, kita hanya perlu lebih belajar lagi. Dan lebih memahami lagi perasaan mereka satu persatu"


"Iya kamu benar. Kadang aku masih sulit mengerti mereka semua.


Ravin terlalu kalem dan tenang, tapi di saat marah dia bisa jadi paling menyeramkan" ucap Ken sambil menerawang, mengingat sifat anak mereka satu persatu.

__ADS_1


"Kalo itu sih kaya kamu banget" ucap Rara sambil mencolek hidung Ken.


Ken tersenyum kecil.


"Arkana, aku rasa dia perpaduan kita berdua banget, dari wajah sampai sikap nya ada gabungan kamu dan aku


Dia anak yang cool dan terkesan cuek dari luar, tapi dia bisa humble, pengertian dan peduli banget sama orang lain, bahkan orang yang gak dia kenal sekalipun." sambung Ken.


Dan Rara merasa setuju dengan ucapan suaminya itu.


"Dia bahkan bisa terlihat kekanakan dan dewasa di waktu bersamaan" tambah Rara.


"Raisa ... dia putri aku yang paling cantik. Dan semua yang ada di diri dia menurun dari kamu" ucap Ken sambil mencium telapak tangan Rara.


"Cantiknya, lembutnya, manisnya, lucunya, manjanya, cerewetnya. Pokoknya semua nya dia ambil dari kamu, aku enggak kebagian sedikit pun" ucap Ken, berhasil membuat Rara tertawa.


"Emangnya semirip itu?" tanya Rara yang di angguki oleh Ken.


"Enggak nyangka ya Mas, ternyata kita punya banyak anak" ucap Rara.


Ken mendongkak, menatap wajah Rara dari bawah.


"Tiga itu sedikit, Sayang. Yang banyak itu lima atau enam lah"


"Hei, tiga juga butuh perjuangan ekstra tau mengandung dan melahirkannya. Emangnya kamu, enak cuma bikin aja" ucap Rara.


"Loh kata siapa aku enak cuma bikin aja? Aku kan juga berjuang tau, waktu kamu hamil ngidam pengen ini itu.


Gak inget waktu hamil Ravin, jam dua malam kamu minta makan tomyum sampai kita harus keliling jakarta. Terus waktu hamil Arka kamu ngerengek pengen ayam goreng buatan aku, sampai aku ke cipratan minyak panas?


Dan waktu hamil Raisa, kamu minta makan mangga yang di pohon tetangga di depan rumah ayah. Aku sampe harus bangunin orang yang punya jam 4 pagi dan hampir jatoh juga aku dari pohon.


Itu semua perjuangan aku, enak aja aku cuma bisa enaknya aja" protes Ken.


"Jadi kamu enggak ikhlas, turutin ngidam aku dulu?" tanya Rara sebal.


"Ya enggak lah, Sayang. Malah aku kangen masa-masa ngidam kamu" jawab Ken sambil bangkit dari rebahannya.


"Maksudnya?" tanya Rara waspada.


Ken tersenyum misterius, membuat Rara takut.


Ken perlahan mendekati Rara.


"Gimana kalo kita buat satu lagi adik buat mereka?" tanya Ken tersenyum mesum.


Buru-buru Rara menjauhkan wajah Ken dengan telapak tangannya.


"Gak mau. Jangan aneh-aneh deh"


"Kok aneh sih, kan nambah anak bagus Ma. Rumah kita jadi rame lagi sama tangisan bayi" ucap Ken merayu.


Rara menggeleng cepat.


"No .. No .. No .. "


"Ayolah Sayang .. " bujuk Ken lagi hendak mendekat.


Bersamaan dengan itu teriakan suara Raisa dari atas mengganggu keduanya.


"Mama .. Papa .. Kak Arkana nih, rese ih kesel .. Awas ya aku aduin sama Papa" teriak Raisa dari atas sana.


"Papa .. !!"


Keduanya sama-sama mendongkak ke atas, menuju arah suara.


Sepertinya kedua remaja itu bertengkar lagi.


"Tuh, enggak perlu suara tangisan bayi segala biar rame, dua anak kamu itu juga cukup bikin rame dan pusing" ucap Rara sambil beranjak dari duduknya.


"Mama .. !!"


Rara segera beranjak pergi, menuju kamar putra dan putri nya, meninggalkan Ken yang masih manyun sambil berdengus kesal.


"Arkana .. Raisa .. jangan ribut terus nak" ucap Rara sambil menaiki tangga.






Siapa nih yang kangen sama Mama Rara, Papa Ken dan Kakek Wisnu? Nih aku buatin part mereka bertiga buat kalian yang kemarin minta di buatin part khusus.


Di part ini sengaja aku mau buat cerita khusus tentang keluarga Mama Rara dan Papa Ken.


Juga tentang Kakek Wisnu yang dulu banyak di idam-idamkan jadi mertua idaman haha.


Gimana? Cukupkan buat mengobati kerinduan kalian.


Kalo kurang puas bisa di baca lagi di Dua Hati aja ya ..


Oh iya di part ini enggak ada Abang Ravin dan Rachel, jadi mungkin besok baru muncul.


Maaf juga gak update lama karena banyak kerjaan dan juga selama beberapa hari kemarin aku bantuin sahabat aku nikahan.


Ribet bantu sana sini, juga harus jadi bridesmaid.


Doain ya semoga abis jadi bridesmaid, bisa jadi mempelai wkwkwk.


Jadi karna banyak urusan aku baru up, tapi sebagai gantinya ini episode panjang bgt loh.


Sampai 2000 kata lebih.


Pokoknya minta pengertian kalian aja ya..


Kalo masih mau baca silahkan kalo enggak jangan hujat karna update lama.


Dari pada hujat mending di semangatin, ya gak wkwkwk


Udah ah, kepanjangan curhatnya.


Intinya ini cerita ini bakal cepat tamat, mungkin 5 sampai 8 chapter lagi.


Jadi tetap di Like, Coment dan Vote ya.

__ADS_1


See you next episode ❣️


__ADS_2