
Happy Reading !!
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Hari ini Rachel akan pergi ke rumah Ravin untuk makan siang bersama.
Mama Rara kemarin mengundangnya untuk datang, karena hari ini hari libur. Semua keluarga pasti berkumpul untuk menghabiskan waktu bersama di rumah.
Entah itu acara kecil atau acara besar, kedua orang tua Ravin selalu mengajak Rachel untuk ikut bergabung.
Itu membuat Rachel semakin dekat dengan semua anggota keluarga Ravin.
Ia sudah merasa seperti anggota keluarga itu sendiri.
Setelah selesai bersiap, Rachel pergi keluar untuk menunggu Ravin di depan rumah.
Keluar dari kamarnya, Rachel berpapasan dengan sang ibu yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Loh mau kemana kamu?" tanya Mela dari depan pintu kamar Rachel.
Belum sempat wanita paruh baya itu membuka pintu, Rachel sudah lebih dulu keluar dari sana dengan pakaian rapih.
"Mau pergi" jawab Rachel.
"Kemana? Sama siapa?" tanya Mela.
"Sama Ravin. Mami ada apa mau ke kamar aku?" tanya Rachel.
"Itu di ruang tamu ada Edward"
"Mau ngapain?"
"Katanya mau ketemu kamu"
"Enggak bisa, aku mau pergi" jawab Rachel.
"Temuin dulu sebentar, Ravin nya juga belum datang.
Dia udah jauh-jauh ke sini"
"Enggak bisa, kalo Ravin liat dia bisa salah paham. Lagian siapa suruh dia kesini, aku kan udah bilang jangan ganggu aku lagi.
Masih aja enggak ngerti" ucap Rachel.
Gadis itu hendak berlalu tapi, Mami nya mencegahnya.
"Iya Mami ngerti kamu sekarang pacaran sama Ravin.
Mami juga lebih suka sama Ravin kok, secara dia anak konglomerat. Tapi Edward kan dulu udah banyak bantu kita, jadi temuin aja sebentar" ucap Mela.
Rachel memutar bola matanya malas mendengar ucapan Mela.
"Dia bantu Mami bukan kita. Selama ini kan Mami yang manfaatin uang nya Edward, jadi Mami urus aja dia sendiri.
Jangan libatin aku, aku enggak mau berurusan sama dia" jawab Rachel tegas.
Selama ini Mela selalu memanfaatkan Edward sebagai sumber uangnya. Edward begitu baik selalu memberikan apapun permintaan Mela karena lelaki itu sangat menyukai Rachel.
Hal itu yang Mela jadikan kesempatan untuk memoroti lelaki kaya itu.
"Rachel, kamu jangan kaya gitu dong.
Dia kan bantu Mami itu karena Mami kamu" ucap Mela.
Rachel mengangkat kedua bahu nya sambil berlalu melewati tubuh Mami nya yang masih berdiri di depan nya.
"Itu urusan Mami" ucap Rachel tak peduli.
Rachel hendak pergi keluar, ia melewati ruang tamu yang di mana ada Edward menunggu nya di sana.
Niatnya ia tak ingin peduli, tapi langkahnya terhenti saat mendapati Ravin ternyata juga sudah ada di sana entah sejak kapan.
Rachel hendak menghampiri Ravin yang juga duduk di sofa ruang tamunya.
Kekasihnya itu sedang menatap tak suka pada Edward di hadapannya.
"Sayang .. "
Suara dari Rachel mengalihkan perhatian kedua lelaki itu.
Mereka sama-sama menoleh ke arah Rachel yang berdiri tak jauh dari sana.
Ravin dan Edward langsung berdiri begitu Rachel mendekat.
"Kamu kapan datang?"
Rachel berjalan menghampiri Ravin. Itu membuat Ravin memberikan senyuman mengejek pada Edward.
Senyuman mengejek Ravin untuk Edward berubah menjadi senyuman manis yang ia berikan pada gadis di hadapannya kini.
"Baru aja kok" jawab Ravin.
Satu kecupan Ravin berikan di pipi Rachel membuat Rachel sedikit terlonjak kaget.
__ADS_1
Ravin dengan sengaja melakukannya untuk menunjukan pada Edward bahwa Rachel miliknya.
"Hai Chel .. " sapa Edward.
Rachel menoleh, mencoba tersenyum meski terpaksa.
"Hai Ed .. " jawab Rachel singkat.
Mela yang datang dari arah dalam rumah menghampiri ketiga orang tersebut.
"Eh Ravin udah datang" ucap Mela menghampiri.
Ravin mengiyakan sambil mencium tangan Mami Mela.
"Tante, Ravin mau minta izin ajak Rachel pergi" ucap Ravin to the point.
Ravin malas sekali jika harus berlama-lama di sana karena ada Edward.
Mela melirik tak enak pada Rachel Edward yang masih berdiri di sana.
"Emm .. Kalian mau kemana?" tanya Mela.
"Mau ke rumah Ravin Tan, hari ini Mama sama Papa ngundang Rachel ke rumah" jawab Ravin.
Mendengar itu membuat Mela terlihat senang sekali, putrinya sudah jelas terlihat di terima dengan baik oleh keluarga konglomerat.
"Wah .. Papa Mama kamu ngundang Rachel, ya Tante senang banget ..
Yaudah kalian cepat berangkat aja, nanti Mama Papa kamu nungguin loh" ucap Mela heboh.
Rachel sudah tebak ekspresi heboh sang Mami akan seperti ini.
Inilah alasannya tak pernah mengatakan pada Mela kalau dirinya dekat dengan keluarga Ravin.
"Loh Tan, Edward mau gimana kalau Rachel pergi?
Ed kan ke sini karna mau ketemu Rachel" sela Edward.
"Udah kamu di sini aja temanin Tante, lagian kamu datang nya mendadak jadi kan gak tau kalau Rachel ada janji lebih dulu"
"Gak bisa gitu dong Tan, Edward kan datang lebih dulu di banding dia" ucap Edward sambil menunjuk Ravin tak terima.
"Bisa aja dong. Gue pacarnya Rachel, gue lebih berhak temuin Rachel setiap saat sekalipun" timpal Ravin.
"Tapi, gue datang lebih dulu dari lo" ucap Edward emosi.
"Dan gue janjian lebih dulu dari lo" jawab Ravin sama emosinya, membuat Rachel pusing melihatnya.
Ini semua nya karna Mami nya yang suka berbuat sesuka hati.
"Iya .. iya jangan berantem dong.
Aduh .. andai aja Rachel ada lebih dari satu, udah Tante kasih satu-satu buat kalian" ucap Mela membuat Rachel terlihat kesal.
"Mami ngomong apa sih, ngaco ..
Udah ayo Rav, kita pergi sekarang aja" ajak Rachel menarik lengan Ravin keluar sebelum suasana semankin memanas.
"Chel aku belum pamit loh sama Mami kamu" ucap Ravin.
"Biarin" jawab Rachel sambil tetap menarik Ravin keluar.
"Loh Chel kok kamu pergi sih, terus aku gimana?" tanya Edward.
"Eh .. eh .. udah kamu temenin Tante aja, jangan ganggu mereka" Mela menahan Edward yang hendak mengikuti.
"Tante Ravin pamit" Ravin mencoba pamit meski Rachel terus menarik tubuh nya keluar rumah.
"Iya .. salam ya buat Mama Papa kamu dari Tante" teriak Mela karena Ravin dan Rachel sudah berada di luar.
Tak lama, suara mobil Ravin pun terdengar pergi meninggalkan pekarangan rumah Rachel.
Edward pun mengentakan tangan Mela yang masih menahan lengannya.
Wajah kesal dari lelaki itu terlihat jelas.
"Maaf ya Edward .. " ucap Mela menyengir tanpa rasa bersalah, yang di balas lengosan dari Edward.
"Kalo gitu Edward pamit pulang aja, Tante" ucapnya sambil meraih kunci mobil di atas meja.
"Eh enggak di abisin dulu minumnya?"
"Enggak perlu Tan. Edward permisi" pamit Edward singkat.
Dirinya sudah tidak peduli jika terlihat tidak sopan pada Mela. Ia sudah terlanjur kesal.
"Yaudah hati-hati di jalan ya, Ed" ucap Mela masih ceria.
Edward hanya mengangguk lalu pergi dari rumah Rachel.
Mela hanya mengerdikan kedua bahu nya acuh.
Ia tak peduli jika Edward marah atau kesal padanya yang terpenting sekarang ia merasa sangat senang, karena Rachel di terima oleh keluarga Ravin.
__ADS_1
"Yang terpenting calon menantu ku konglomerat" ucap Mela senang.
********
Sesampainya di rumah Ravin, Rachel langsung di sambut hangat oleh semua orang.
Di karenakan ini hari libur, semua orang memang ada di rumah untuk quality time.
Rachel yang baru datang langsung ikut bergabung bersama Mama Rara dan Raisa di dapur yang sedang memasak untuk makan siang nanti.
"Chel, udah kamu tunggu aja di ruang keluarga. Masa tamu repot-repot ikut bantu gini" ucap Mama Rara.
"Enggak apa-apa kok Tante, Rachel malah senang bisa bantuin" ucap Rachel.
"Iya Ma, biar aja Rachel ikut bantu. Mama jangan perlakuin Rachel kaya tamu gitu dong" ucap Ravin.
"Iya Ma, biarin aja. Kalo Kak Rachel bantu kan jadi seru, rame-rame" ucap Raisa juga.
"Yaudah .. yaudah iya.
Kalo gitu Kakak tunggu sama cowok-cowok, biar Rachel di sini" ucap Mama Rara.
"Iya Ma .. " jawab Ravin tersenyum.
Rasannya ia senang sekali melihat kekasihnya itu sangat akrab dengan ibu dan juga adiknya.
"Aku tunggu di ruang keluarga ya .. " ucap Ravin pada Rachel yang di iyakan oleh Rachel.
Ravin pun pergi meninggalkan ketiga wanita yang ia cintai itu, membiarkan mereka bersama-sama.
Mama Rara, Rachel dan Raisa pun melanjutkan kegiatan memasak untuk makan siang mereka.
Mama Rara banyak memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi Rachel dan Raisa yang masih belum terlalu pandai memasak.
"Senang ya kalo kita bisa setiap hari masak bareng kaya gini.
Mama jadi ada temannya deh" ucap Mama Rara.
"Memang biasanya Tante masak sendiri?" tanya Rachel.
"Enggak sih, biasa nya di temanin Bibi karna Raisa kan sibuk sekolah" jawab Mama Rara.
"Nanti kalau kak Rachel udah nikah sama Kakak, suruh tinggal di sini aja Ma.
Biar bisa temenin Mama setiap hari" ucap Raisa.
"Mama sih terserah Kakak sama Rachel.
Terserah mereka mau tinggal di sini atau tinggal di rumah mereka sendiri nanti" ucap Mama Rara.
"Gimana kak? Nanti kalo udah nikah, Kakak mau tinggal di sini atau mau pisah?" tanya Raisa.
"Kalo itu .. emm aku terserah Ravin aja" jawab Rachel malu.
"Udah bahas soal itu nya nanti aja, sekarang kalian bawa dulu makanan nya di meja makan ya" ucap Mama Rara.
"Siap Ma" jawab Raisa.
"Iya Tante" jawab Rachel.
Raisa dan Rachel kompak membawa makanan yang sudah jadi untuk di tata di meja makan besar itu.
Sudah banyak hidangan yang di buat, sebagian hasil masakan masakan Bi Ijah dan sebagian banyaknya hasil masakan Mama Rara dengan bantuan Raisa dan Rachel.
Saat Raisa dan Rachel asik menata meja makan sambil mengobrol, Mama Rara datang ikut membantu.
Ketiga perempuan itu selalu keasikan jika bersama, sampai mereka tak sadar jika ada seseorang yang baru saja datang.
Seorang tamu yang tak di undang.
"Tante .. Raisa .. "
Suara dari orang baru saja tiba itu menghentikan tawa ketiganya.
Raisa dan Mama Rara menoleh, mendapati seseorang sedang berdiri tak jauh dari meja makan sambil membawa sebuah paper bag di tangan nya.
"Nara .. "
"Kak Nara .. "
Rachel yang awal nya sedang menata peralatan makan, menghentikan gerakannya.
Membalikan badaannya, Rachel berhadap-hadapan dengan Nara yang sedang menatapnya penuh tanya.
"Ra...chel?"
•
•
•
•
__ADS_1
Jangan lupa Like, Coment dan Vote
See you next episode ❣️