Angan Cinta

Angan Cinta
Terlanjur


__ADS_3

Happy Reading !!


▪️▪️▪️▪️▪️▪️


Nara benar-benar tak pernah menyangka kedatangannya yang mendadak ke rumah Ravin akan membuatnya sangat terkejut karena kehadiran Rachel di sana.


Nara yang sedari remaja sudah terbiasa datang dan tinggal di rumah Ravin sesuka hati seperti rumah nya sendiri,


membuat dirinya juga tak merasa canggung datang ke tempat itu secara mendadak seperti hari ini.


Niatnya hari ini Nara hendak datang ke rumah Ravin karena bosan di rumah sendirian.


Dulu, biasanya saat weekend Ravin akan berkunjung ke rumahnya atau sebaliknya.


Tapi, beberapa bulan belakangan ini Ravin tak pernah lagi menghabiskan akhir pekannya bersama Nara dan Jojo.


Terakhir kali Ravin datang ke rumahnya saat Papi nya di bawa ke rumah sakit, itu sudah sekitar tiga bulan yang lalu.


Setiap kali Nara mengajaknya keluar, Ravin selalu beralasan sibuk.


Nara pun tidak pernah memaksa, dirinya selalu mengerti dan memahami situasi Ravin.


Saat ini Ravin sedang menyelesaikan kuliahnya dan juga mulai mempelajari perusahaan keluarganya.


Wajar saja jika lelaki itu mengaku sibuk.


Tapi, Nara tidak menyangka jika alasan sibuk yang Nara kira itu salah.


Bukan sibuk dengan skripsi dan belajar perusahaan, tapi Ravin sibuk dengan hal lain.


Yaitu kekasih.


"Siapa Bibi bilang?" tanya Nara pada Bi Imah.


Nara menghentikan langkah kaki nya, menoleh ke belakang di mana Bi Imah sedang mengikuti nya.


Salah satu dari asisten rumah tangga yang sudah hafal dengan Nara itu, mengatakan keberadaan setiap orang.


Bi Imah bilang kalau Kakek Wisnu, Ken, Ravin dan Arka sedang ada di halaman belakang.


Sedangkan, Rara dan Raisa ada di dapur bersama kekasih Ravin.


"Pacar nya Aden Ravin juga sedang ikut memasak di dapur" ulang Imah pada Nara.


"Pacar Ravin?" kening Nara berkerut.


Imah menganggukan kepalanya.


"Ravin punya pacar?" tanya Nara tak percaya.


Imah mengerjap bingung.


"Loh Non Nara enggak tau?" tanya Imah menatap bingung.


Imah pikir Nara tahu dan kenal dengan Rachel.


"Saya enggak tau" jawab Nara sambil menggelengkan kepalanya.


"Eh, saya pikir Non tau. Padahal mereka udah lumayan lama pacarannya.


Den Ravin juga udah sering bawa Non Achel kesini" ucap Imah.


Mendengar nama yang baru saja di ucapkan Imah membuat Nara membeku sesaat.


Achel ..


Achel ..


Achel ..


"Jangan .. Jangan .. "


Nara meremas rok yang ia pakai.


"Bi apa nama pacarnya Ravin, Rachel ..?" tanya Nara takut-takut.


Imah menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Iya namanya Non Rachel.


Itu Non Nara kenal ya?" tanya Imah tanpa


menyadari raut wajah Nara sudah berubah.


Kaget dan tak percaya menjadi satu.


Tanpa menjawab pertanyaan Imah, Nara meminta Imah meninggalkan nya.


"Udah bibi boleh lanjutin kerjaan nya, Nara mau langsung ke dapur aja" ucap Nara.


Bi Imah mengiyakan lalu permisi kembali bekerja.


Selepas kepergian Bi Imah, Nara langsung bergegas ke dapur dengan terus berusaha menyangkal prasangka nya.

__ADS_1


"Gak mungkin, Bi Imah pasti salah" gumam Nara.


Kakinya terus melangkah menuju dapur.


"Ravin enggak mungkin pacaran sama Rachel.


Hubungan mereka udah enggak terlalu akrab akhir-akhir ini.


Dan Ravin juga enggak mungkin, gak cerita sama aku" gumamnya lagi.


Nara yang hendak menuju dapur menghentikan langkahnya saat mendekati ruang makan.


Nara dapat mendengar suara obrolan dan tawa yang ia kenal, yaitu suara Tante Rara dan Raisa.


Tapi, bukan hanya suara Rara dan Raisa yang ia dengar. Ada suara lain juga yang seperti nya ia kenal.


Melangkah lagi, Nara ingin memastikan siapa yang ada di sana.


Saat sampai di ruang makan, Nara dapat melihat Tante Rara dan Raisa sedang merapihkan meja makan.


Bukan hanya mereka berdua, tapi ada satu orang perempuan lagi yang sedang membelakangi nya.


Meremas tali paperbag yang ia bawa, Nara coba memanggil Rara dan Raisa yang belum sadar aakn kehadiran nya.


"Tante .. Raisa .. "


Panggilan Raisa membuat keduanya menoleh kaget.


"Nara .. "


"Kak Nara .. "


Nara masih mematung, memandangi perempuan yang masih membelakangi nya itu.


Dan ketika perempuan itu berbalik, hati Nara terasa mencelus.


"Ra...chel?"


Ya perempuan itu benar-benar Rachel .. Rachel yang ia kenal.


"Nara .. " Rachel pun sama membeku nya.


Genggaman tangan Nara pada paper bag semakin erat.


Masih menatap Rachel, hati Nara berkecamuk.


Jadi sudah berapa lama Ravin membohongi nya?


Ravin memang terlalu teledor. Harusnya ia segera jujur tentang Rachel pada Nara sebelum semuanya ketahuan seperti ini.


Pada awalnya Ravin menyembunyikan hubungan nya dengan Rachel pada Nara karena Rachel yang meminta nya merahasiakan.


Tapi semenjak Ravin tahu Nara memiliki perasaan lain pada nya, tujuan Ravin berubah. Ia menyembunyikan hubungannya dengan Rachel pada Nara karena tidak ingin melukai sahabat nya itu.


Ya tapi sepandai apapun Ravin menyembunyikan nya, sebuah kebohongan pasti akan ketahuan juga pada akhirnya.


Ravin memang tak berniat menyembunyikan hubungan ini dari Nara terus menerus, ia Ravin hanya ingin mengatakan nya di saat yang tepat.


Di saat perasaan Nara padanya mulai memudar seperti kebersamaan mereka yang semakin lama semakin hilang.


Bukan seperti ini caranya.


Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi.


"Nara, gimana keadaan Papi kau sekarang?" tanya Ken pada Nara.


"Papi baik-baik aja kok, Om" jawab Nara.


Kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati teh dan dessert, setelah acara makan siang yang terasa canggung karena kehadiran Nara secara tiba-tiba.


Nara sedari kecil memang sudah terbiasa datang dan makan bersama keluarga ini.


Begitu pula Rachel, yang semenjak berpacaran dengan Ravin sudah terbiasa ikut bergabung dengan keluarga Ravin.


Tapi, ternyata menyatukan kedua gadis itu tidaklah baik.


Ketidak nyamanan terlihat sekali pada diri Ravin, Rachel dan Nara.


Itu juga membuat anggota keluarga yang lain nya canggung.


"Kenapa Papi kamu enggak di ajak sekalian ke sini juga Nar?" kali ini Kakek Wisnu coba mencairkan suasana.


"Papi lagi pergi perjalanan bisnis keluar kota, Kek" jawab Nara.


"Ya ampun, Mas Hendra itu gimana. Ini kan akhir pekan, masa masih kerja juga.


Keluar kota lagi, dia kan harus jaga kesehatan" ucap Rara.


"Iya Nara, Papi kamu itu harus nya istirahat di rumah loh kalau akhir pekan begini.


Buat menjaga kesehatan nya" ucap Ken.


"Iya Om, Nara juga udah minta Papi buat istirahat tapi Papi nya tetap kukuh buat pergi.

__ADS_1


Katanya sekalian juga mau mengenalkan rekan bisnisnya sama Om Hasan karna Om Hasan sebentar lagi bakal gantiin Papi" jawab Nara.


"Papi kamu jadi pensiun?" tanya Kakek Wisnu.


Nara menganggukan kepalanya.


"Mungkin masih mantau dari rumah Kek, biar bisa jaga kesehatan juga" jawab Nara.


"Bagus itu kalau Mas Hendra memutuskan begitu.


Om juga mungkin akan segera pensiun kalau Ravin sudah siap menggantikan posisi Om" ucap Ken.


"Ravin masih harus banyak belajar, Pa" Ravin yang sedari tadi diampun angkat bicara.


Ia takut kalau-kalau Papa nya jadi ikut-ikutan ingin cepat pensiun.


"Iya .. Papa juga bilangkan kalau kamu sudah siap" ucap Ken.


Pembicaraan ini terasa membosankan bagi Raisa, gadis itu beberapa kali menguap saat mendengarkan obrolan itu.


Ia memutuskan ingin pergi ke kamarnya, mengajak Rachel yang sedari tadi hanya diam.


"Kak ikut ke kamar aku aja yuk .. bosen" bisik Raisa pada Rachel di sampingnya.


"Enggak deh, aku enggak enak masa pergi dari sini" balas Rachel berbisik.


"Enggak apa-apa, biar aku yang minta izin" ucap Raisa masih berbisik.


Ravin yang melihat itu mengerenyit kan keningnya.


Duduk mereka agak berjauhan karna menjaga jarak.


"Tapi ... " Rachel sebenarnya sungkan jika harus pergi di tengah obrolan, tapi ia juga ingin membiarkan Ravin waktu untuk Nara berdua berbicara.


"Udah enggak apa-apa" ucap Raisa.


Gadis itu langsung izin untuk mengajak Rachel kekamarnya.


"Ma, Pa, Kek aku izin ajak Kak Rachel ke kamarku ya" ucap Raisa yang di perbolehkan oleh semua.


"Yaudah sana kamu ajak Kak Rachel ke atas" ucap Rara.


"Rachel permisi dulu Kakek, Om Tante" ucap Rachel yang di iyakan eh semuanya.


"Kak aku pinjem Kak Rachel nya dulu ya" ucap Raisa pada Ravin sambil mengajak Rachel menuju kamarnya.


Rachel pun izin pada Ravin memalui sorot matanya.


Ravin hanya bisa mengiyakan karena ia juga butuh waktu untuk berbicara berdua dengan Nara.


Seusai Raisa dan Rachel naik ke atas, tak lama Arkana ikut menyusul.


Dan semakin lama semua orang kembali ke tempat mereka masing-masing.


Hanya tinggal tersisa Ravin dan Nara.


Cukup lama berdua yang saling diam satu sama lain hingga akhirnya Ravin membuka pembicaraan lebih dulu.


"Nara .. " panggil Ravin membuat Nara mendongkak menatap Ravin.


Mata gadis itu terlihat kecewa dan sedih.


"Kenapa?" tanya Nara.


"Bisa ikut aku sebentar? Ada yang harus aku bicarain sama kamu"


"Dimana?" tanya Nara to the point.


"Ditanam belakang aja, biar kita lebih nyaman" ucap Ravin.


Tanpa menjawab apapun lagi, Nara bangkit lebih dulu dari duduknya.


"Ayo .. aku juga punya banyak pertanyaan buat kamu" ucap Nara pergi lebih dulu tak peduli Ravin yang masih duduk di depannya.


Ravin menghela nafasnya.


Ia tahu Nara sedang marah dan kecewa.


Tapi mau bagaimana lagi?


Semuanya sudah terlanjur.






Jangan lupa Like, Coment dan Vote.


See you next episode ❣️

__ADS_1


__ADS_2